by

Fajrika, PASKIBRAKA 2012 Asal Gayo Tegar Walau Ditinggal Ibu Selamanya

MERINDING bulu kuduk ku, saat mendengar cerita Fajrika dari Yulina yang juga Purna Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (PASKIBRAKA) Indonesia asal Takengon, tanoh Gayo, Aceh. Yuli panggilan wanita ini adalah penilai senior pemilihan Tim PASKIBRAKA Aceh. Dari awal, dia melihat potensi luar biasa dari Fajrika.

Fajrika merupakan siswa SMA Negeri 3 Timang Gajah, Kabupaten Bener Meriah—pemekaran dari Kabupaten Aceh Tengah, Propinsi Aceh. Dia anak kedua dan anak laki-laki satu-satunya dari tiga bersaudara. Lebih dari itu, tahun 1977 yang lalu, wanita ini membuat Gayo dan Aceh bangga. Karena, dialah PASKIBRAKA asal Aceh pertama yang membawa bendera pusaka dan langsung diberikan Presiden.

“Bukan karena orang (suku) Gayo, melainkan potensi, kualitas, dan kemampuan yang dimiliki Fakrija. Saya merekomendasikannya mewakili Aceh. Dan, diterima tim yang lain,” akunya.

Setibanya di Jakarta (15/16 Juli 2012), Yuli ingin Fajrika tinggal di rumahnya dulu. Dengan demikian, bisa ditentir lagi. Namun, tidak memungkinkan. Karena, Fajrika harus langsung dikarantina di Cububur. Sisi lain, Yuli dan keluarga sudah menyiapkan perlengkapannya—pakaian dan perlengkapan terkait—selama di karantina. Pun begitu, mereka sempat berfoto di Bandara Soekarno Hatta sebelum masing-masing berpisah. Fajrika ke Cibubur dan Yuli dengan keluarganya kembali ke rumah.

“Mesti matching (serasi). Jangan seperti saya dulu, tidak ada dukungan siapa-siapa. Fajrika ini aset Bener Meriah, Gayo, dan Aceh. Apalagi, Fajrika berasal dari keluarga tidak mampu. Orang tuanya hanya petani biasa. Tempat tinggal nya pun numpang di tanah orang,” tuturnya sedih.

Aku menarik napas panjang mendengar keluh-kesah kak Yuli. Dalam amatanku, dukungan pemerintah kabupaten di Gayo (Aceh Tengah, Aceh Tenggara, Gayo Lues, dan Bener Meriah) memang seringkali abai terhadap rakyatnya yang berpotensi. Dan ini bukan rahasia umum lagi. Tak jarang, rakyatnya mesti berjuang sendiri. Sehingga, emas wan limen pe ahere gere mucaya (emas yang ada di kubangan lumpur; akhirnya [tetap] tidak bercahaya—perumpamaan “tidak diberdayakannya” orang Gayo terutama oleh “Pemerintah Gayo” sendiri).

Termasuk, seorang Yuli, yang telah membanggakan Gayo, 35 tahun silam. Menurut pengakuannya, dia belum pernah dilibatkan dalam pemilihan calon PASKIBRAKA asal tanoh Gayo. “Potensi orang Gayo tu luar biasa. Sayangnya, pemerintahnya kurang melihat ini. Saya pribadi pengen ikut berkontribusi. Namun, tidak pernah diundang dan diikutsertakan,” ungkapnya agak kecewa.

Dalam buku ku yang keempat (insyaAllah segera naik cetak) “7 Tahun IMTA-Sumut 2001-2008,” aku sempat menyinggung soal masalah ini “tidak diberdayakannya dan keroposnya regenerasi Gayo.” Di situ, ku tulis…

Penulis melihat begitu keroposnya regenerasi Gayo (berasal dari tanoh Gayo), sama halnya seperti kacang si gere be deren, hidup, tumbuh, berkembang, dan mati secara alamiah tanpa adanya pembinaan yang sungguh-sungguh. Pun, ada anak negeri “negeri Linge” yang sukses di luar, kondisinya tak ubahnya seperti petukel, yang akarnya di tanoh Gayo. Sementara, buahnya di negeri lain tanpa ada koordinasi, komunikasi, dan kerjasama ke arah peningkatan marwah ni tanoh tembuni. Mudah-mudahan, hal ini dapat menjadi renungan, pemikiran, dan kesadaran dalam aksi nyata menyangkut regenerasi masyarakat Gayo pada masa-masa mendatang (2012: v).

Harapanku, momentum “kebanggaan Fajrika yang telah mewakili Gayo dan Aceh” ini jadi kesempatan buat pemerintah kabupaten di Gayo, khususnya, untuk memaksimalkan pemberdayaan sumber daya manusianya. Termasuk, memberdayakan 22 profesor asal Gayo di Republik ini (untuk kemajuan tanoh Gayo dan Aceh). Juga, potensi-potensi SDM lainnya baik di Indonesia maupun di luar negeri). Kalau tidak, Gayo semakin tertinggal. Bahkan, secara sosial, “dapat punah.”

Ditinggal Ibu Selamanya

Setelah dua hari di Jakarta dan menjalani karantina di Cibubur, kabar duka pun sampai dari Aceh. “Saya dengar dari ngah (saudara perempuan ibu—sistem kekerabatan Gayo)-nya bahwa ibu Fajrika meninggal di Banda Aceh dalam usia 44 tahun,” sebut Yuli. Menurut penuturan adik Alwien Desry ini, waktu itu, ibunya tiba-tiba jatuh saat mau pulang ke Bener Meriah dan menghembuskan nafas terakhirnya. Ibunya sengaja ikut ke Banda Aceh untuk mengantar Fajrika berangkat ke Jakarta.

Enti sawah betih Win ne, ka. Perin ku pelatih ya, daleh unger-unger bahwasa ine e nge mulo mah jelen (Jangan sampai Win tu tahu, kak. Bilang sama pelatihnya tu, nggak usah kasih tahu kalau ibunya sudah meninggal dunia)” kata ngah Fajrika kepada Yuli.

Namun, Yuli berpikiran sebaliknya. Berita ini mesti disampaikan ke Fajrika. Akhirnya, dia pun berkomunikasi dengan pelatihnya di Cibubur. Hanya saja, Yuli meminta kepada sang pelatih agar menguatkan Fajrika. Disamping itu, digambarkan bagaimana rilnya jadi seorang PASKIBRAKA. Dengan kata lain, harus punya kekuatan dan ketegaran mental.

Setelah tahu, menurut  pelatihnya, Fajrika tetap tegar. Dia pun tidak lantas pulang ke Bener Meriah, tanoh Gayo untuk melihat pusara ibunya. Tapi, tetap menjalani proses karantina sebelum detik-detik peringatan Proklamasi Tingkat Nasional di Istana Negara Jakarta (17/8/2012).

“Haturen semah dan tatangen pumu ku Tuhen, doan ko ine mu, Win. Gelah seber ko engingku (sembah sujud dan angkatkan kedua tangan ke Tuhan, doakan ibu mu, Win. Yang sabar kau adik ku)kata Yuli dengan hati pilu. Yuli tidak bisa membayangkan betapa beratnya ujian Fajrika. Namun, dia tetap yakin bahwa Fajrika bisa melewati ujian tersebut. “Bohmi, akangku (Iya, kak),” jawab Fajrika singkat.

Menciptakan Lagu

Menurut pengakuan teman Fajrika, pada malam hari ibunya meninggal, Fajrika sempat menciptakan sebuah lagu untuk ibunya. Dia tidak tahu kalau ibunya sudah meninggal. Lagu tersebut sempat diyanyikan di Stasiun TV Indosiar tadi pagi, Jumat (17/8/2012) saat wawancara langsung dengan Fajrika.

Menjalankan Tugas Negara

“Fajrika betul-betul bikin saya, urang (masyarakat) Gayo, dan Aceh haru sebaligus bangga,” sambung Yuli. Dia, katanya, terpilih dan masuk di tim 8. Bahkan, jadi penggerek bendera.

Menurut pengakuanya, posisi ini [penarik bendera] sangat diperebutkan oleh pria. Kebalikannya, bagi wanita adalah pembawa bendera. “Saingannya cukup ketat, dari dulu sampai sekarang,” katanya.

Fajrika sudah menunaikan kewajibannya dengan baik, meski dengan beban yang sangat berat. Lebih-lebih, ibunya baru saja meninggal.

“Tadi pagi, teman-teman dari Aceh asyik menelpon saya. Nggak salah pilihan kakak, kak,” kata mereka sembari mengungkapkan kesenangan dan kebanggaannya. “Tu lah, dari awal saya katakan. Bukan karena Gayo-nya (sesama orang Gayo). Dia memang mampu, berpotensi, dan punya kualitas,” sebutnya. (Yusradi Usman al-Gayoni)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

3,627 comments

  1. “Fajrika merupakan siswa SMA Negeri 3 Timang Gajah, Kabupaten Bener Meriah—pemekaran dari Kabupaten Aceh Tengah, Propinsi Aceh. Dia anak kedua dan anak laki-laki satu-satunya dari tiga bersaudara. Lebih dari itu, tahun 1977 yang lalu, wanita ini membuat Gayo dan Aceh bangga. Karena, dialah PASKIBRAKA asal Aceh pertama yang membawa bendera pusaka dan langsung diberikan Presiden”

    sengaja saya meng-quote pernyataan di atas. karena kalau tidak salah saat tahun 1992, ada juga putri aceh asal Bireuen yang juga membawa bendera pusaka saat upacara 17 Agustus di Istana Negara. Kalau tidak salah namanya Sri Wahyuni.

    Buat Fajrika, selamat…semoga ini menjadi pengalaman yang berharga untuk melangkah lebih jauh.
    Semoga yang dicita-citakan akan tercapai dengan baik.

  2. Inalillahi wa inailaihiraziun……. smoga arwah bunda tercinta ditempatkan disisiNya. Pengabdian Fajri terhadap Negara ini InsyaAllah membuat orang tua yg telah mendahului kita bangga. Gelah seber rinen kite wan morepni memang penuh cobaan…….