by

Tanpa Seniman, Gayo Tidak Dikenal Seperti Sekarang

Catatan : Supri Ariu*

ADA sebuah pengalaman yang saya dapatkan ketika saya menghadiri acara In Memoriam Ivan WY yang di gelar di Takengon pada 24 September 2012 lalu. Sebuah pengalaman yang membuat saya berfikir untuk menjadikan itu menjadi sebuah tulisan dengan harapan bisa menjadi bahan pemikiran kita yang mengaku sebagai Urang Gayo  yang mencintai seni dan para Senimannya.

Sebelumnya saya sebetulnya berasal dari Gayo Lues, dan saat ini masih duduk sebagai Mahasiswa FKIP Geografi Unsyiah Banda Aceh. Namun karena keinginan saya untuk dapat melihat para seniman senior asal Gayo, saya sengaja datang ke Takengon untuk menghadiri acara tersebut. Sebab saya dengar, acara tersebut adalah kali pertama dengan acara yang dihadiri oleh seniman terbanyak.

Memang benar acara tersebut luar biasa, dibandingkan dengan daerah saya Gayo Lues, sangat jarang sekali digelar acara seperti itu apa lagi acara yang dibuat untuk memberi apresiasi kepada Seniman, dalam benakku, Ah mungkin masih lama ini bisa terjadi ditempatku.

Setelah acara tersebut selesai untuk tahap pertama pada pukul 18.20 WIB , saya diminta oleh Bang Windo sebagai Ketua Panitia yang kebetulan dekat dengan saya untuk mengantar salah satu seniman yang ikut mengisi acara hari itu.

“Tolong antar Ibu ke Celala ya Nak” kata Ibu itu ramah.

Dialah Ibu Ramlah, salah satu seniman senior di Tanoh Gayo. Walaupun umurnya sudah tergolong tua namun sampai saat ini Ibu Ramlah masih konsisten dijalurnya dan dia adalah salah satu dari tiga wanita yang ciptaan lagunya banyak didengar oleh masyarakat Gayo baik di Gayo Lues, Bener Meriah, Aceh Tenggara, dan Aceh Tengah.

Saat itu setelah sholat Magrib tepat pada pukul 20.00 WIB, saya hanya pergi sendiri untuk mengantar Ibu Ramlah, karena rasanya tidak enak mengganggu rekan-rekan yang lain yang tampak sibuk dengan perkerjaannya masing-masing.

Terlintas saya sempat berfikir, sebelumnya saya yang hanya mendengar suaranya dalam kaset tape Didong atau hanya melihat wajahnya di VCD. Tapi malam itu saya senang karena bisa langsung bercerita dengan sosok penyanyi yang sudah saya dengar sejak saya masih SD dulu.

Seperti orang tua pada umumnya,  malam itu diperjalanan Ibu Ramlah banyak memberikan nasehat kepada saya khususnya dalam hal Agama, sosial, dan Seni.

“Jangan bosan untuk berseni Nak, jadikan seni itu untuk memperluas pergaulanmu agar kau banyak teman dan saudara,”salah satu pesan Ibu Ramlah yang masih saya ingat sampai sekarang.

Tidak terasa sudah ditengah perjalanan, pembicaraan kami sudah sangat akrab, persis seperti Ibu dan Anak, karena ternyata Ibu Ramlah juga punya sahabat dekat di Gayo Lues yang ternyata adalah tentangga saya.

Dari situ pembicaraan kami semakin terbuka hingga akhirnya dia menceritakan tentang keadaannya sebagai seorang seniman. “Kalau seperti  keadaan Ibu ini susah untuk pulang malam Nak, bisa-bisa menjadi bahan omongan orang, walaupun sebetulnya Ibu ingin berkarya,” kata Ibu Ramlah tanpa memalingkan arah wajahnya dari kaca jendela mobil.

Memang benar, di Gayo tidak sedikit orang yang hanya melihat latar belakang dari seniman  itu sendiri khususnya seniman wanita. Padahal seharusnya seniman yang bersemangat seperti Ibu Ramlah harus diberi apresiasi yang layak karena telah ikut berjuang untuk menjadikan Gayo sebagai daerah yang hebat dalam bidang seninya.

Malam itu, walaupun cerita kami hanya sebentar saja, namun saya bisa mengerti dengan perasaan Ibu Ramlah yang menurut saya legendaris itu. Bagi saya, hingga saat ini sangat jarang sekali ditemui  seniman wanita yang mampu menciptakan karya lagu Didong dan lirik musik yang mampu memberikan hiburan ditelinga masyarakat banyak.

Keluhan yang dilontarkan Ibu Ramlah malam itu menjadi sebuah catatan dalam diri saya sendiri, “kenapa masih banyak seniman yang terlewatkan hanya  karena latar belakang yang dimilikinya? Padahal kita sendiri juga menikmati hasil-hasil karya yang diciptakannya.”

Sebuah pengalaman yang mengetuk hati saya, dan terkadang saya malu dengan diri saya sendiri. Saya sebagai salah satu anak Gayo yang selalu bangga dengan dengan seni dan budaya Gayo, kenapa lalai dan bahkan melupakan perjuangan yang telah dilakukan para seniman-seniman terdahulu.

Semoga catatan saya ini bisa menjadi bahan pemikiran kita masing-masing dan mengingat kembali bagamana seharusnya kita sebagai Urang Gayo yang mencintai seni dan senimannya. Karena sadar atau tidak, tampa seniman mungkin gayo tidak akan dikenal seperti sekarang.

*Mahasiswa di Banda Aceh asal Gayo Lues

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.