by

Masih Adakah “Oros “ Kebayaken?

Oleh: Armi Arija*

KEBAYAKAN itulah nama salah satu Kecamatan di Aveh Tengah. Jika mengingat Kebayaken (lazim diucap) yang pertama kali terlintas adalah hamparan sawah hijau di selingi dengan rumah–rumah penduduk yang masih jarang, pemandangan yang indah di tambah lagi berkat adanya sawah di pinggir Danau Laut Tawar, yang banyak menimbulkan inspirasi bagi seniman-seniman (ceh) untuk di jadikan sebuah lagu Didong.

Tetapi gambaran di atas adalah pemandangan yang talah silam, yang untuk saat ini tidak bisa kita dapatkan lagi jika pun bisa tetapi tidak seindah dan seasri yang dahulu lagi, sekarang pandangan kita akan dimanjakan dengan bangunan-bangaunan baik itu perumahan, pertokoan.

Di mulai dari Kala Mampak hingga ke Mendale yang dulunya sawah masih terbentang luas, kini mulai berkurang, sejalan dengan pesatnya perkembanggan, ini menjadi bertanda dengan berkurangnya areal persawahan maka pasti jumlah hasil panen padi akan minim juga, dulu Kebayakan terkenal akan “oros” kebayakanya mungkin masa yang akan datang hanya tinggal kenangan lewat cerita orang-orang tua kita serta lewat lagu atau syair Didong ceh ceh (seniman Gayo).

Laju pembangunan memang tidak bisa disalahkan dalam kasus ini karena memang pembangunan sangat dibutuhkan untuk perubahan ke arah yang lebih baik. Namun, yang perlu di cermati adalah dengan semakin pesatnya pembangunan menunjukan bahwa laju pertumbuhan manusia juga meningkat  maka dengan otomatis kebutuhan hidup terutama pangan akan naik juga, pemikiran ini bukanlah hal yang terlalu dini untuk di bahas karena kita harus berpikir untuk masa yang akan datang yakni bagaimana memenuhi kebutuhan pangan jika sumber daya tidak memenuhi.

Dalam menyikapi permasalahan di atas banyak daerah yang langsung berinisitif untuk membuat program mencetak lahan untuk sawah baru inilah salah satu opsi yang tepat  untuk mengatasi swasembada pangan, tulisan ini adalah sebagai ilusterasi bagai mana perkembangan mempunyai dampak positif dan negatip dalam hal ini penulis mengambil ”oros kebayakan” sebagai contoh.

Tulisan ini tidaklah mempunyai maksud-maksud tertentu tetapi hanya sekedar kenang-kenangan akan kampung halamam yang masih melekat  dalam ingatan.(abiarmigayo[at]gmail.com)

 *Mahasiswa Fisip Unimal Lhoksemawe, asal Kala Lengkio Kebayakan 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.