by

[Sebuah Monolog] Tikar Pandan dan Kuda Birahi

 * Salman Yoga S

Teater Reje Linge. Elan Windalian dan Khairin Dalam Naskah Tungku di TIM Jakarta Des 2003. (Foto. repro Kompas)
Teater Reje Linge. Elan Windalian dan Khairin Dalam Naskah Tungku di TIM Jakarta Des 2003. (Foto. repro Kompas)

Sesosok tubuh di bawah tikar dari daun tembikar, mengeliat mencari sesuatu yang hilang dijalinan anyamannya. Tubuh itu bergerak, meraba dan mengeliat hingga putus asa dan histeris. Memberontak dan menemukan jalan keluarnya sendiri dengan melempar tikar ke udara.

“aaaaaaaaaaaaaaaaahhh

ini saatnya katak memecah tempurung

meretas naluri

meruntuhkan kebungkamam sopan santun adat

aaaaaaaaaah……………………

aaaaaaaaaah……………………”

“Hey kenapa kalian mempelototi saja ha…ha.. apa kalian kira ini tontonan atau…apa kalian kira aku orang gila gila, gila, gila haah.

Aku  ini orang buangan. Aku  ini orang sampahan.

Aku orang yang semestinya tidak ditakdirkan menjadi orang, tetapi manusia.

Ya manusia hahahahaha..manusia, catat itu.

Cacat. Catat  dengan sejelas dan seterang-terangnya

ya..tapi ingat jangan salah catat

karena catatan telah terlalu lama membuat sejarah kita jungkir balik

karena catatan  sudah terlalu berkuasa menguasai kesombongan, keangkuhan dan keserakahan  orang yang disebut dengan ….orang….

Hey…! kenapa senyam-senyum, cengingikan seperti kuda birahi. Ngas-ngos, haah huuh mempertahankan kekenyalan barang…

barang…barangnya sendiri! kheeeeeeeeeekhs…..

Ya…ya persisi seperti itu uuuuuuuuuuu ya persis

Karena aku pernah juga menonton dengan penuh khusuk menyaksikan kuda-kuda saling meringkik kegairahan, saling mengosok-gosokan badannya dan mendengus bersama

eemmmmmm…tapi..!

aku sempat berpikir saat itu, apakah aku juga adalah kuda atau bukan ?

aku kuda, ya kukira aku kuda saat itu

karena sikap dan semangatku menontonnya adalah semangat kuda

tapi aku bukan kuda yang sebenarnya ……

hanya saja aku begitu masuk dalam  gairah kekudaan saat itu,

bukan orang, apalagi manusia bukan ….bukan.

Aku   kuda….!

hii eeeeeeeeeeee ……hiii eeeeeee hii eeeeeeee.  Kuda  birahi………

kuda berhati kuda.

Kuda mencari kuda. Kuda  bermain kuda-kudaan

menari dengan kekudaan….yah……iyah…hah….

ya demikian kuda itu kusaksikan di pelantaran sawah, sampai beberapa saat kemudian saling menguncurkan keringat, dan lemas……..

Demikian  sebagian cerita hidupku dalam pertapaan adat dan sopan santun yang di junjung tinggi adat yang diturunkan  dengan turun- temurun dari moyang hingga   sampai kepada titik kulminasi semediku  yang panjang.

Dalam  nilai adat, wanita, terlebih gadis seperti aku ini adalah simbol tertinggi dari kehormatan sebuah keluarga. Apalagi aku sopan dan selalu berbuat yang sewajarnya, maka mereka akan menyebutku  sebagai gadis yang berbudi, gadis yang baik, beberu si mutentu, mutuah  dan sekian sebutan lainnya.

Tetapi  apabila melenceng dari itu  semua, wah bisa gawat….gawat sangat…

aku dapat dibunuh dengan halal, aku dapat dibuang dari kampung. Bahkan  aku dapat tidak diakui sebagai saudara dari anggota keluarga ……

menyedihkan bukan…………?

eeeemmm……! ada satu lagi…..dan ini yang lebih menarik. Setiap  gadis di kampung, harga maharnya saat menikah dapat membumbung tinggi, semacam harga kehormatan tigginya. Itupun  jika sang gadis  itu lihai dan pintar dalam memproduksi tikar  dari daun pandan. Semakin banyak dan  semakin indah tikar yang ia buat, maka semakin naik pula harga dan kehormatannya di tengah masyarakat.

Jadi harga dan kehormatan para gadis di kampungku ada dalam jalinan anyaman tikar buatannya, dan sudah barang tentu gadis itupun akan menjadi aset terpenting dalam menaikan kharisma keluarga dalam kehidupan sosial. Karena  membuat tikar pandan seperti ini, lebar tidak gampang. Membutuhkan  keterampilan, kejelian serta sentuhan tersendiri. Terkadang membutuhklan semacam intuisi dan ilham dari langit

Setiap senja atau malam hari para gadis dengan peuh suka cita saling berlomba menganyam tikar pandan. Ada yang sambil bernyanyi-nyanyi dan berdidong  dengan panganan kolak atau jagung atau umbi rambat rebus, pisang goreng sebagai jengo.

Ada  pula sembari ngobrol kesana kemari tak karuan, dan ada pula yang sambil bermain alat musik teganing, sambil menari-nari. Tetapi  sejak aku saksikan sejumlah kuda di pelataran sawah itu, aku jadi ngeri dan ketakutan sendiri. Karena  dari kejadian yang penuh semangat dan liar itu dengan tanpa kuduga lahirlah sebuah gulungan tikar pandan yang mirip seperti manusia sungguhan

Jalinan dan sulamannya  tersusun rapi dan lebar terlentang…..! Tiba-tiba   tikar itu menggulung, berguling-guling. Tetapi dengan penuh hangat, aahh….sungguh pertemuan  yang mengasyikan.

Angin, cuaca, bahkan cahaya matahari seakan memberi restu khusus untuk kejadikan itu dan tidak seorang pun yang mau menolong atau membantuku. Karena tanpa sebab yang jelas, semua orang telah menjadi pengecut secara tiba-tiba.

Tikar itu tidak lagi menjadi lambang sebuah harga dan kehormatan, tetapi telah menjelma menjadi sebuah senjata dan kekuatan yang luar biasa ganas sehingga membuat semua orang ngeri

Beberapa hari kemudian, kesaksianku itu keceritakan kepada semua orang yang tersisa di kampung. Sebenarnya  aku malu, namun antara malu dan risih keceritakan juga. Sebelumnya aku mengira, hanya aku yang mengalami hal demikian, digulung oleh tikar pandan yang dilahirkan oleh semangat liar sejumlah ekor kuda.

“Minah…Minah semua orang pernah mengalami yang kau ceritakan itu !”

kata si Inen Adi dengan agak mengolokku. Demikian juga si Jamilah dan Ijah, mengangguk dan mengiakan pengakuan Inen Adi.

“kau lihat saja sendiri  perubahan-perubahan yang terjadi di kampung ini semua sunguh di luar dugaan”. Kata Leha yang datang dari arah belakangku sambil memomong bayinya yang mirip dengan kuda. “Aaaahhh  ini memang sudah zamannya, tidak  perlu munafik”. Kata yang lainnya dengan nada penawaran.

Aku  merasa seperti dirongrong oleh pengakuan- pengakuan mereka yang justru sepertinya mereka sangat terbiasa dan sangat menikmatinya. Aku sadar pengakuan mereka benar. Walaupun tingkat kebenarannya  masih patut di pertanyakan, dan sayang belum ada teori pisikologi atau filsafat yang khusus membahas tentang itu.

Aku  mulai gelisah dan uring-uringan tak menentu sejak itu. Merasa  bersalah dan dihantui oleh berbagai macam pikiran buruk. Apakah  semua wanita dan gadis-gadis di kampung ini telah demikian terasuki gairah kuda ?   apakah semua lelaki dan perjaka di kampung ini mati juga kerena sifat kekudaan itu ?

aahhh sungguh petanyaan-pertanyaan itu terus mengejarku.

Dengan tenang sambil bernyanyi-nyanyi menghilangkan sepi aku tepis kegundahan dan pertanyaanku itu sambil menganyam tikar dari sisa daun pandan yang ditinggalkan  ibuku  beberapa belas tahun yang lalu. Memang  tidak gampang hidup sendiri di antara anggota keluarga yang telah lebih dulu mati semua harus kuurus sendiri. Mulai  dari memasak, menyapu halaman, menyiram bunga, bahkan sampai membetulkan genteng bocor juga sendiri. Apalagi  tidur…ya jelas sendiri…hihihihihihihi….!

Namun terkadang perasaan bersalah karena telah menonton kuda birahi di perantaran sawah itu kerap muncul, dan mengusik tidurku terganggu lelapnya, sunyiku terganggu senyapnya. Bahkan senyum dan tawaku  yang dipuji-puji meneduhkan dan merdu, seperti yang sering dikatakan oleh abang Palung eeeee….malah menjadi seperti alunan suling tanpa lubang nada.

Karena  sudah terlalu lama dan sering. Timbul ideku untuk menyusuri kejadian yang sebenarnya di balik semua misteri ini. Jangan-jangan  ia mempunyai kaitan dengan kondisi kampung yang kian bobrok. Di mana semua kaum lelaki mati dengan cara yang mengenaskan. Pada malam kelima puluh  dari misi rahasia yang kujalankan dengan sembunyi-sembunyi, ada suara, yang sayup terdengar dari sela dinding gedek rumah Ani. Tetanggaku !

Lama kuamati suara itu, seperti suara seokor kuda yang tengah bertengkar dengan kakek Ani. Kakek  Ani adalah satu-satunya lelaki yang tersisa di kampung, itupun sudah tua dan buta lagi. Perdebatan  itu terus berlangsung. Perlahan  kurapatkan telinga sambil mengamati dari balik dinding gedek  rumahku. Suaranya  semakin cekcok, semakin keras dan semakin gaduh sampai piring dan prabot beling lainnya terdengar mendesing dan pecah.

Sejenak kemudian suasana menjadi hening dan senyap. Aku  penasaran lalu kudekati lagi dari balik dinding gedek lainnya. Cekcok  dan suara gaduh itu tidak terdengar lagi. Lalu  dengan agak tenang aku kembali ketempatku semula di mana kain sarung dan kutang yang hendak kupakai tadi kutanggalkan.

Namun baru sebelah tali kutang yang sempat kemasukkan kebahu, suara gaduh itu terdengar lagi. Aku  kaget luar biasa. Lalu  dengan bergegas aku selesaikan pakaianku dan kembali mengintip dibalik dinding gedek. Kali ini jantungku  berdenyut lebih keras dan cepat, kegundahanku semakin menjadi-jadi. Rasa takut dan ngeri seperti selimut membungkusku, rapat. Sekejap seketika, tanpa dinyana dan tanpa kuduga sekelompok orang berseragam keluar dari rumah Ani.

Derap sepatu dan kerkek-kerkok bunyi senjatanya, mengembalikan ingatanku pada kejadian yang menimpa Inen Ipak dari kampung tetangga beberapa tahun silam. Namun yang anehnya, muka mereka yang keluar semuanya mirip dengan kuda. Lengkap  dengan tali kekang dan pecut.  Tetapi  salah satu dari anggota barisan itu ada yang tampak lebih gagah dan kekar, yang ini kupikir pastilah pemimpinnya atau kepala kudanya. Beberapa dari mereka kulihat ada pula yang mengancing bajunya sambil berjalan keluar, menyisir rambut dengan ujung jari tangan dan membetulkan ikatan tali pinggangnya.

Ahhh… aku lemas dan putus asa. Aku tidak dapat menyimpulkan pencarian dan kesaksian atas semua ini. Kehormatan sebuah keluarga yang disimbolkan dengan anyaman tikar pandan benar-benar telah menjadi kotoran, telah menjadi sejarah yang menyakitkan. Berlindung di balik kagungan tikar ini adalah kekonyolan pikirku. Kehormatan  kita, kita injak sendiri, keagungan nilai kita, kita hina sendiri.

Sampai selanjutnya kehormatan tikar pandan menjelma menjadi keagungan Tuhan berbentuk wih menggelombang, menerpa dan menghacurkan menghanyutkan semua yang ada.

——————————–

*Dari Naskah Monolog “ W i h”, yang telah dipentaskan pada tanggal 11-19 Mei 2005 di Gedung Teater Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta diperankan oleh Elan Windalian (Teater Reje Linge) dalam even “Panggung Para Aktor Bicara” Dewan Kesenian Jakarta.

Naskah yang sama juga telah dimuat di Harian Analisa Medan.

Comments

comments