by

Selamat datang “HIV” di Kota Dingin

Oleh: alfi rahmah *

Foto : Alfi Rahmah
Foto : Alfi Rahmah

Pakaiannya basah kuyub digenangi oleh tetesan  yang mengalir dari pori-pori, seluruh tubuhnya pucat pasi.

Dengan tangkas si petugas kesehatan menangani wanita yang beberapa detik lalu di boyong dengan kendaraan roda empat yang mewah.

“Buk, pak, tolong wanita ini harus cepat ditanggani” kata si sopir dengan bibir bergetar hebat.

Aku baru saja tiba di RS DB, ketika melintasi ruangan IGD yang hiruk pikuk, terlintas di pikiranku, ada tabrakan sehebat apa ini?

Ketika itu lewat dihadapanku empat wanita yang berpakaian tidak sewajarnya, suara seretan sendal mereka mengusik lamunanku, salah satunya bahkan hanya mengenakan celana di atas lutut, wajar pikirku, mungkin karena terburu-buru bahkan mereka tak sempat mengenakan selendangpun, keempat wanita ini berpelukan, “Ini pasti keluarga si pasien atau temannya” pikirku.

Terlihat dari kecemasan di wajah mereka, menjelaskan bahwa pasien adalah bagian dari kehidupan gadis-gadis ini.

Wanita  bercelana pendek tadi terlihat menggengam tangannya yang satu dengan tangan lainya, semakin melukiskan kecemasannya,  sambil meremas jarinya seperti sedang memakai kutek.

Entah mengapa aku tertarik melihat tingkah laku mereka, seolah kecemasan menjadi salah satu senjata yang bisa mengembalikan stamina si pasien.

Bangun tidur ku terus mandi, aku di kagetkan oleh suara HP di kantong celanaku, ups aku hampir lupa membawakan makan malam untuk temanku yang terbaring di ruang inap wanita.

Aku harus pulang lebih awal, mengalahkan langkah – langkah calon masa depan bangsa ini.

Seperti biasa kubereskan kios tempat aku mengais uang, kain malang inilah selalu ku gunakan untuk membersihkan kaca steling yang nantinya menjadi tempat makanan ringan, yang akan di serbu anak sekolahan.

Pukul 11:00 WIB, beberapa bulan lalu 2013, seluruh daganganku ludes, Alhamdulillah.

“Pi ada pasien terkena HIV semalam meninggal di RS” kata temanku yang juga salah satu pegawai di RS. Spontan minuman yang sempat mendarat di mulutku meluncur,” kenapa,? Jenis kelamin apa? orang mana,? dan lain-lain” ku serbu temanku dengan Seribu pertanyaan.

Karena OD kelebihan sabu dan ternyata terkena HIV juga, wanita dari isu yang kudengar rumahnya di sebuah kampung di Bener Meriah, dengan patuh temanku menjelaskan.

Ku kembalikan lagi memori ku pada dua hari yang lalu, ketika aku dan teman SMA dulu, mengadakan reunian ke sebuah hotel di kawasan danau kebanggaan masyarakat Gayo ini. Kebersamaan ini kami abadikan dengan kamera hp amatiran.

“Buk, apa masih banyak yang nginap di hotel ini,?” tanya temanku.  Dengan lancar ibu petugas laundry hotel ini bercerita dengan salah satu teman ku, sementara aku dan teman lainnya masih terhipnotis pada kamera amatiran.

“Masih, bahkan di 10 kamar yang di sana ( sambil mengarahkan jari pada bagian atas bagunan hotel sebelah kiri)  ada 10 wanita juga yang tinggal di situ, hampir sebulan mereka menginap di hotel ini,, nanti pada malam hari datang lelaki pada masing-masing kamar mereka, kadang ibu mencuci sprei ada yang berdarah benanah, kotor semua,” mengambarkan kejorokan pada  ekpresi wajah ibu tadi.

“Bahkan ada salah satu wanita yang sudah tiga hari koma di salah satu kamar tersebut,,” sambung ibu tadi.

Tawa kami pecah, sahut -menyahut, terulang kembali kisah tentang seragam putih abu – abu, tiba-tiba salah satu temanku terdiam. “Aku mendengar suara teriakan,” katanya dengan wajah serius.
Iya, betul teriakan orang meraung dan minta tolong.

Terdengar lagi isu dari mulut yang lainnya, ternyata wanita yang meninggal di RS DT kemarin lusa, di larikan ke  RS dari hotel RGL karena kondisinya yang memprihatinkan, dengan mengunakan mobil mewah, di bantu oleh dua lelaki.

Aku benar-benar gelap tentang HIV, hanya satu hal yang kutau, HIV disebabkan karena sex bebas, selebihnya I don’t now.

Kabar berikutnya dari salah satu puskesmas di kota kami,, salah satu mahasiswa positif terkena HIV, dan besoknya ada lagi kabar dari puskesmas lainya tentang virus yang sama.

Aku benci, akan ada berapa kabar lagi yang  terdengar tentang virus bajingan ini. “Kemana para  ulama, orang-orang cerdas kota kami, dosen-dosen yang katanya ilmunya paling tinggi, orang-orang kesehatan yang sangat mengerti, dan pemerintah syariat islam yang harusnya bisa bersosialisasi untuk memberantas lingkaran setan ini” aku mengumpat dalam hati.

Matahari terik sekali, seolah menghanguskan kulit para hamba, dengan mengenakan pakaian serba hitam aku dan ketiga temanku siap berangkat,, kami melayat ke rumah teman lelaki yang sedikit kewanitaan, almarhum ini meninggal tadi malam, tangisan para  kerabat memecahkan seluruh ruangan, Inalilahiwa’inalillahiraziun.

Sebelah sandalku entah terlempar kemana, ini tradisi di kota kami, mungkin juga di kota lain,  jika di tempat keramaian jangan sedih ketika salah satu sendal hilang.

Sepulang shalat jenazah,, di sudut tangga masjid, ada kumpulan ibu-ibu yang mungkin tadi berada di barisanku, sayup ku dengar percakapan mereka. “Buk anu, tau ke?  rupanya almarhum ni meninggal karena HIV.

Masih ku ingat tingkah jahil Almarhum temanku, kelakuanya yang sopan, di lengkapi dengan wajah imutnya,  ah….. rasanya tak mungkin virus bajingan itu yang harus merampas nyawanya.

Siapa sebenarnya yang bertangungjawab dengan masalah ini, siapakah sebenarnya yang paling kuat dapat membuat tembok di kota dingin yang kami cintai, bisa menciptakan pagar setipis kulit bawang, agar penerus cemerlang kota ini bebas dari HIV.

Setidaknya harus dibuat kebijakan, untuk para wisatawan atau pendatang dengan disertai surat sehat dari dinas kesehatan.
Oh….. pemerintah, kami ini benar-benar rakyat yang malang.

Kicau burung selalu setia menghibur masyarakat kota ini, rumputpun seolah menari, aroma air danau yang menyegarkan peredaran darah yang gersang.

Kota ku tidak terlalu besar, tapi inilah kota yang paling luar biasa, SDA-nya lengkap sempurna, jauh dari pengaru-pengaruh moderenisasi.

Kota yang masyarakatnya masih patuh, tapi di bagian sudut kota ini, kemaksiatan tertutupi.

Kotaku malang, kota ku sayang, inilah yang dapat ku katakan.

Isu pagi itu, seorang anggota DPRD beserta istri, di rawat di Rumah Sakit DB, karena mengalami demam tinggi.

*Mahasiswa Gajah Putih Jurusan Pertanian

Baca Juga :

Juel Koro Beli Babi 

Comments

comments

News