by

PEMILU: Cogah Sara Lenge, Lutus Sara Keben

Oleh : Win Wan Nur

Mencermati dinamika yang terjadi di Gayo menjelang Pemilu ini. Tampak jelas, kalau untuk kasus Gayo pada hari ini. Pemilu hanyalah sebuah hajatan lima tahunan “Dari Politisi untuk Politisi”. Sementara rakyat Gayo sendiri, sebenarnya tidak lebih dari pelengkap penderita, yang hanya berfungsi untuk memberikan ‘stempel’ buat mengesahkan para politisi berjuang untuk kepentingan kelompok dan terutama diri mereka sendiri.

Banner

Untuk melihat benar atau tidaknya pernyataan di atas, tak perlu kita menilai wakil kita di DPR RI yang entah siapa orangnya, atau wakil kita di DPRA yang entah berapa orang dari kita yang mengenal dia siapa. Tapi cukup kita nilai saja tingkah polah dan kinerja para wakil yang terdekat dengan kita, anggota DPRK.

Mari kita mengingat kembali suasana menjelang Pemilu 2009 silam, ketika anggota DPRK yang duduk sekarang mengatakan akan berjuang bahkan mengatakan akan mewakafkan diri demi rakyat.

Kemudian ayo sama-sama kita cermati, pernahkah para politisi yang duduk di DPRK katanya mewakili kita itu berdebat sengit, marah dan penuh emosi ketika mereka memperjuangkan masalah kita. Seperti listrik yang masih sering padam. Takengen yang memiliki Danau Lut Tawar tapi distribusi air bersih yang kacau balau. Pasar pagi yang cuma sepelemparan batu dari pendopo yang sangat kusut penataannya. Atau pernahkah kita mendengar berita mereka berdebat dengan sengit tentang strategi mengundang investasi yang berpotensi menciptakan banyak lapangan pekerjaan…Tidak.

Yang belakangan ini kencang kita dengar justru anggota dewan ribut karena merasa kebijakan PAW yang tidak adil. Seolah begitu mendesaknya urusan PAW ini bagi kepentingan rakyat banyak. Sebegitu marahnya sang anggota dewan, sampai memecahkan piring untuk menunjukkan ketidak setujuan atas kebijakan ini.

Dan yang terbaru, sekarang. Anggota dewan dengan begitu heroik berencana memakzulkan Bupati, karena sang bupati belum melantik anggota KIP pilihan mereka. Sementara ajang kenduri lima tahunan yang mereka tunggu-tunggu sudah di depan mata.

Silahkan bandingkan sikap mereka ini dengan sikap mereka terhadap berbagai kebijakan yang menyangkut nasib orang banyak. Bahkan ketika perhatian pemerintah kepada korban gempa Gayo tidak memadaipun, dewan tidak sampai punya wacana seekstrim ini (memecat bupati).

Sampai saat ini, sudah terbukti, meskipun janji manis yang diikuti oleh saling sikut dan saling hantam selalu mewarnai tiap Pemilu, terlebih lagi pada Pemilu pasca reformasi. Kenyataannya, Pemilu dan keberadaan para politisi yang sekarang demikian ketat bertarung mengambil hati rakyat Gayo di parlemen, tidaklahmemiliki pengaruh signifikan terhadap perubahan nasib urang Gayo.

Tapi ajaibnya, meskipun kenyataan sudah begitu terang benderang. Di setiap Pemilu, masih saja banyak dari kita yang menyikapi kendurinya para politisi dan partai politik ini dengan berlebihan. Seolah-olah hidup matinya kita ditentukan oleh Pemilu, seolah-olah nasib kita langsung 180 derajat berubah dengan terpilihnya seorang calon yang didukung dan suksesnya sebuah partai meraih kemenangan.

Pada Pemilu 2009 silam. Kita di tanoh Gayo dikejutkan dengan peristiwa kekerasan, sekelompok orang harus meregang nyawa karena dibakar sekelompok orang lainnya.

Tahun inipun percik-percik api dari pertarungan politik ini mulai terasa.

Sebagaimana belakangan sering kita baca di media ini. Sekarang ketika tensi dan suhu politik di negeri dingin kita mulai memanas, sudah mulai ada demonstrasi-demonstrasi terkait Pemilu. Contohnya soal pelantikan anggota KIP yang proses pemilihannya kisruh dari awal, akibat saling sikut kepentingan antar politisi.

Meskipun semua kisruh ini terutama untuk kepentingan partai dan para politisi pendukungnya. Tapi yang menjadi umpan peluru, berpanas-panas dan berpeluh berdemonstrasi di lapangan sebagai bumbu penyedap Pemilu ini adalah kita, rakyat biasa yang mereka gambarkan seolah-olah merupakan pihak yang paling berkepentingan dan paling diuntungkan dengan adanya hajatan lima tahunan ini.

Kalau tensi ini kemudian berkembang semakin panas dan menimbulkan kekerasan (mudah-mudahan tidak). Percayalah, yang akan paling parah menjadi korban adalah kita juga, rakyat biasa. Bukan mereka, para politisi yang bertarung sengit memperebutkan kekuasaan. Dan kalau sampai kerusuhan itu nantinya sampai memakan korban jiwa, yang jadi mati betulan ya rakyat juga.

Jadi, untuk Pemilu kali ini. Ada baiknya, kita biarkan saja hajatan lima tahunan ini berjalan sesuai dengan fitrahnya. Sebagai ajang pertarungan sesama partai politik dan politisi dalam berebut kuasa. Kita rakyat Gayo, cukuplah menyikapinya dengan biasa-biasa saja. Pilih saja Caleg yang terbaik dari stok yang ada. Tak perlu lah kita ikut-ikutan panas dan mengorbankan diri, menjadi tumbal untuk kepentingan mereka.

Sekarang pola rayuan yang sama untuk meraih simpati kembali terulang tanpa ada ide baru dan kreatifitas yang mempesona. Hari ini di segala penjuru Tanoh Gayo, kita menyaksikan baliho dan spanduk bergambar wajah para politisi dengan logo dan warna khas partai politik yang diusungnya.

Tapi meski semuanya dihias dengan kata-kata manis untuk membujuk dan merayu kita agar memberikan suara bagi mereka. Tak perlu lah kita terlalu hirau apalagi sampai terpana. Karena tanpa perlu menunggu sampai mereka terpilih pun, saat ini saja efek langsung dari taburan baliho dan spanduk itu sudah dapat kita rasakan. Tanoh Gayo menjadi ‘RENGGELAK’ akibat ‘polusi pemandangan’.

Ketika kita melintas di dekat di spanduk dan baliho milik para politisi itu dan membaca berbagai rayuan dan kata-kata manis. Ada baiknya kita renungkan nasehat bijak dari Geucik Mongal, salah seorang seniman besar yang pernah dilahirkan Gayo, yang beliau sampaikan melalui syair dalam sebuah acara didong menjelang Pemilu 1977. Sebagaimana dikutip oleh John Bowen dalam buku terbitan Yale University Press tahun 1991 ” Sumatran Politics and Poetics, Gayo History 1900 – 1989″ di halaman 205.

Si kite pilih
Nume rukun lime, ine
Udah perin jema
Agama ni rede

Oya gernang tembege
Tamur mersah uken
COGAH SARA LENGE
LUTUS SARA KEBEN

*Penulis adalah Anggota Dewan Adat Gayo

Comments

comments