by

Demi Bunda, Aku Harus Jadi Sarjana!

oleh : Iwan Rantowiwan rantow

Ketika pagi menjelang aku bersiap-siap menuju kampus dimana tempat ku kuliah, kamis 25/09/14, di waktu itu bertepatan hari kemenangan para sarjana-sarjana muda, tak terkecuali aku. Aku melihat dari beberapa wajah-wajah yang senang bahagia ketika didampingi oleh sanak saudaranya, dan ada juga bahagia didepan temana-temanya.

Tetapi sesungguhnya dia bersedih tanpa pendamping diwaktu wisudanya. Teman demi teman dihampiri oleh para wisudawan/ti untuk mengucapkan selamat atas kesuksesannya meraih gelar sarjana. Aku juga ikut senang melihat para teman-temanku memakai baju Toga.

tetapi sesungguhnya aku sangat bersedih karena tidak wisuda bersamaan dengan mereka orang yang satu daerah denganku. Orang tua demi orang tua ku tatapi wajahnya tersenyum bahagia.

Ketika aku bertemu salah satu rekan ku, kulihat dia sedang bersama kedua orang tuanya lalu ku hampirilah mereka dan ku ucapkan “selamat menjadi pengangguran”, canda ku. kedua orang tuanya pun ku salami secara bergantian. Bapak dari teman tersebut bertanya kepada ku ” kamu nggak wisuda nak?”, saya belum pak” jawab ku sambil tersenyum, lalu si bapak berkata “sebenarnya saya nggak tau dia kuliah” sambung bapak tersebut dengan mata berkaca-kaca karena bahagia. ‘Jadi pak?” Tanya ku kembali.

“Dia pamit dari rumah katanya pergi merantau tidak untuk kuliah, dan tiba-tiba pada waktu wisudanya dia memberikan undangan kepada kami, bahwa undangan itu untuk pendamping wisuda” jelas bapak tersebut.

Aku terkejut mendengar cerita tersebut. Kedua orang tuanya sangat bangga terhadap anaknya, tanpa biaya sepeserpun ia dapat menjadi sarjana bahkan cumload. Kado sangat indah seumur hidupnya yang diberikan sang anak, kepada kedua orang tuanya.kemudian kualihkan pembicaraanku agar si bapak dan aku tidak larut dalam kesedihan.

Setiap teman-teman yang bertanya kepadaku “kamu kapan?”, “aku juga akan munyusul” jawabku dengan sedih. Karena tidak tahan melihat para sahabat memakai baju toga, aku memutuskan untuk pulang ke kontrakan tempat aku tinggal. Kupandangi poto demi poto di camera yang telah ku ambil pada saat acara tadi. Akupun makin terlarut karena tidak tahan melihat kebahagian para sahabat memakai baju toga, lalu ku matikan cameraku dan kusimpan ke tempat biasanya.

Selang beberapa menit dari itu gadgetku berbunyi bertanda ada BBM dan SMS masuk yang berisi ucapan-ucapan selamat dari para sahabat-sahabat yang tak sekampus denganku. Ucapan mereka tak ku abaikan dan ku balas satu-persatu.

“Aku belum, tapi aku akan menyusul he… he…” Jawab ku. Dari beberapa pesan sms dan bbm aku jadikan motivasi untuk mengejar gelar sarjana juga. Aku juga berjanji pada diriku bahwa aku harus memakai baju toga seperti mereka, telah banyak harta dan tenaga yang kau berikan untuk anakmu ini mak, ucapku dalam hati.

Aku tidak patah semangat tuk mengejar cita-cita. “Aku pun akan menyusul menjadi sarjana mak..!” Janjiku pada orang tuaku dalam hati sambil kupandangi poto ibuku dalam gadgetku. Tidak terasa air mataku berlinang.

Kusadari betapa beratnya perjuangan ibuku, dengan “sayap” sebelah, mendidik kami. Tubuhnya yang sudah mulai terlihat tua, fisiknya melemah, karena dibebani tanggungjawab, bukan hanya untukku, tetapi untuk keluarga.

Kau pahlawanku Mak, seorang ibu yang melahirkan aku, sekaligus sebagai ayah yang menempa hidupku dari ganasnya alam. Kupandang lama foto orang yang sudah melahirkan aku, mengorbankan nyawanya demi aku.

Tanpa kusadari kucium foto bundaku perlahan, kuusap air hangat yang menetes di foto ibuku. “ Mak, anakmu akan berjuang, daku tidak akan mengecewakan mamak. Ya Allah izinkan aku berbakti kepada orang tuaku, kepada ibuku yang sekaligus menjadi ayahku.” Amin.

wartawan Lintas Gayo di Padang

Comments

comments

News