by

Toleransi Berujung Interfensi

Nirwanudin*

Nirwanudin

Seiring dengan munculnya berbagai interfensi asing dalam semua bidang kehidupan berbangsa, Indonesia tidak dapat menafikan hal itu. Karena itu satu kenyataan sejati yang sulit dibantah. Kita boleh saja beretorika bahwa kita bangsa yang berdaulat dan berdiri tegak oleh kaki sendiri dan di bumi sendiri pula. Namun, sebenarnya kita sedang tersandera oleh kepentingan asing dengan berbagai trik yang menjadi siasat untuk merobek sendi-sendi negera tercinta ini.

Toleransi dan Intervensi

Hutang yang menumpuk menjadi salah satu alat ukur bahwa kita telah berada dalam satu pusaran yang membuat bangsa ini melemah, kalau tidak mungkin kita sebut  tak berdaya. Logikanya, kapital (pemilik modal) sudah barang tentu bisa mengatur orang yang punya hutang dalam hal ini bangsa tarcinta ini.

Itu satu bangsa saudara-saudaraku, yang di dalam satu bangsa tersebut bejibun (banyak) para Profesor dan para Doktor, pemikir, para ulama dan lain semacamnya yang sudah barang tentu tau tentang kondisi ini.

Apa yang terjadi dengan mereka, diatas, saya sudah katakan tadi bahwa jangankan orang, bangsanya saja bisa diatur yang di dalam bangsa itu jutaan orang pandai. Lebih lanjut lagi, kita telah dengan mudah juga diintervensi yang katanya itu toleransi dalam pembuatan kurikulum pendidikan.

Tidak tanggung-tanggung, pihak asing mampu mengubah pola pikir satu bangsa yang nota bene penganut islam terbesar se-jagat raya ini melalui pendidikan. Semua yang menyangkut dengan aqidah akhlak dan moralitas yang menjurus pada satu penguatan agama yaitu islam hilang. sekarang hanya 2 jam mata pelajaran saja dalam satu minggu yang menyangkut dengan agama (islam) selebihnya harus di cari oleh sang murid di luar sana.

Alasan penghapusan itu cukup sederhara, karena menerut para Profesor dan Doktor, itu tidak terlalu substansi, matematika dan bahasa inggris itu lebih penting dari pada agama. Walaupun kalau di tanya kepada mereka-mereka, bahwa agama itu lebih penting dari ilmu-ilmu lainnya. Namun semua itu hanyalah pepesan kosong belaka.

Dinamika diatas tadi tidak dapat dilepaskan dari interfensi berkedok toleransi, yang kalau kita lihat dengan cermat, sesungguhnya kita telah di interfensi sekonyong-konyongnya (semaunya/seenaknya) saja.

Sekarang perdebatan tentang toleransi kembali hadir, yang katanya ini toleransi. Bukan intervensi. Apa lagi kalau bukan mengucapkan Selamat Natal yang katanya dibolehkan karena itu wujud toleransi antar umat beragama.

Awalnya memang penuh perdebatan, walau pada ujung-ujungnya harus diakui bahwa mengucapkan selamat natal itu intervensi berkedok toleransi. Karena kalau kita ingin tanya kepada pemuja toreransi pastilah jawabannya Pertama, bahwa Itu kan hak setiap individu (HAM), jadi mau di ucapkan atau tidak itu kan terserah dia. Kedua, itu kan tidak menyalahi aturan agama islam, biasa saja kalau kita ingin memberikan selamat atas lahirnya nabi Isa yang menurut agama lain itu Tuhanya. Walaupun, nabi Isa itu tidak lahir pada tanggal 25 Desember itu.

Pokoknya kita harus hidup berdampingan, makanya kita harus bertoleransi, salah satunya dengan mengucapkan selamat natal. Kalau sudah bahasanya seperti ini, tidak dapat dipungkiri, kita telah terjebak pada satu haluan ketidak pastian. Karena semuanya serba toleransi. Toleransi itu lebih penting walau pada ujung-ujungnya menggadaikan agama itu sendiri. Begitu mahal dan berharganya toleransi.

Kalau sudah begini jadinya, derajat toleransi itu lebih tinggi dari pada agama (Islam) itu sendiri.

Pertanyaanya, apa sebenarnya yang terjadi pada tanggal 25 Desember itu? Apakah hari itu adalah hari kelahiran Nabi Isa? Yang nabi isa tersebut satu dari sekian banyak nabi yang kita akui adanya sebagai nabi oleh ummat islam. Pertanyaan inilah yang terus menyeret kita pada pusaran ketidakpastian. Menurut Irena Handono, dalam bukunya Islam Dihujat jelas sekali menerangkan bahwa nabi itu bukan lahir pada tanggal 25 Desember, yang lahir pada tanggal 25 Desember itu adalah Dewa Matahari.

Kalau mantan Biarawati saja telah dengan lantang mengatakan bahwa Nabi Isa tidak lahir pada 25 Desember, masihkah kita mengucapkan selamat atas lahirnya Nabi Isa? Atau selamat natal?

Persoalan tidak hanya sampai disitu, tahun baru islam dengan sangat mudah dihilangkan. Ini juga terjadi pada satu bangsa yang penduduknya mayoritas islam, untuk mengetahui bahwa orang islam telah kehilangan tahun barunya cukup dengan meminta menyebutan bulan hijriah. Pestilah orang yang sedang di tes kelabakan menjawabnya. Tentu ini semua menjadi renungan  kita bersama. Agar kita tidak terus terjebak dalam pusaran yang muaranya merugikan kita sebagai ummat islam. Artinya, toleransi tidak berujung interfensi secara terselubung. Waspada!. Wallahu`allambisawab.

*Berkhitmat di Komunitas Diskusi Tentang Aceh dan Sekretaris Umum Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam (BADKO HMI) Aceh Priode 2010-2012

Comments

comments