by

Simiskin Bertahan Hidup Dengan Senggengam Nasi Di Pemakaman

USIA pria ini tak lagi muda. Mentalnya sudah puluhan tahun “terluka”. Hidupnya terkesan tanpa asa. Jangankan mengurus anak, menata diri sendiri saja sudah tak mungkin. Namun, roda hidup terus berputar. Detik demi detik dilaluinya dengan nestapa.

Kini, suratan takdir membawa ia bertahan hidup di “istana indah” berukuran kecil. Tanpa listrik dan beratap seng tua. Lantainya masih tanah pemberian Tuhan. Di sudut lain, terlihat kain lusuh bergelantungan di atas seutas tali yang disimpul rapi. Pengab, debu berserak dimana-mana.

Adalah Sahim, 56, duda yang sudah belasan tahun menetap di sisi areal pemakaman umum di Kp. Kayukul, Kec. Pegasing, Aceh Tengah. Saat disambangi penulis dengan Kadissostransnaker Aceh Tengah, ia tampak membisu. Tatapan matanya kosong, namun tajam seperti ada beban berat menggelayut dipundaknya.

Sahim“Assalamualaikum, apa ada orang di sini,” kata Subhan Sahara, Kadisostransnaker Aceh Tengah sembari mengetuk daun pintu yang tertutup rapat secara berulang. Selanjutnya hening, terkesan tanpa respon dari tuan si pemilik rumah.

Sesaat kemudian, sesosok pria kurus, berkulit hitam manis dengan pakaian lusuh ke luar dari arah pintu bagian belakang. Tanpa basa basi serta menjawab salam, lantas ia mendekat. Mungkin dibhatinnya bertanya “siapa kiranya tamu yang datang?” Namun, lidahnya kelu, hanya bahasa isyarat terbias dari bibirnya.

“Apa bisa masuk pak? Tujuan kami hendak mengantar “sedikit” bingkisan bantuan. Semoga bapak berkenan,” tanya Subhan Sahara yang dibalas anggukan kepala oleh Sahim, bertanda setuju. Dan memperkenankan kami memasuki kediamannya.

Setelah di dalam, tak banyak perbincangan terjadi. Kalaupun ada hanya pembicaraan ringan antar Subhan dan seorang rekan lainnya yang ikut mendampingi. Sedang, Sahim duduk diam di atas tikar plastik yang sudah berubah warna akibat termakan waktu. Namun, sesekali adakalanya ia juga bersedia buka mulut untuk sekedar menjawab pertanyaan penulis.

“Anak saya tiga orang. Yang dua jarang pulang, kalau adiknya pergi ongkosen ngutip (buruh petik kopi) di ladang warga,” ucap Sahim terbata dalam bahasa daerah setempat (Gayo-red).

Penasaran ingin mengetahui sisi lainnya, “tim tamu ini” kemudian menuju dapur yang tak berapa jauh dari ruang utama. Semua terdiam. Tercegang. Itu lantaran, tak ditemukan bahan apapun yang lazim diolah untuk lauk. Terkecuali hanya “segenggam” nasi putih yang tersisa di periuk putih yang penutupnya dihiasi butiran debu.

Selain itu, di dapur berdinding seng itu , nyaris tak ada benda perabotan rumah tangga layak pakai. Kalaupun ada, hanya piring, kuali air, gelas dan beberapa sendok yang tak terurus. Alat tersebut begitu berantakan, tergeletak di atas sebuah meja kayu yang terkesan kurang dibersihkan.

“Ya Allah, bagaimana dia (Sahim) bisa bertahan hidup seperti ini. Ngak kebayang saya,” gumang Roni, seorang rekan yang ikut dalam rombongan, saat menuju dapur milik Sahim untuk mengecek.

Tujuan utama kunjungan Dinsostransnaker Aceh Tengah kali ini adalah untuk meringankan beban Sahim. Namun upaya ini dimungkinkah belum sepenuhnya bisa menjamin, bahwa di masa mendatang ia akan aman dari ancaman tuntutan hidup.

“Ya, pak Sahim selama ini tinggal sendiri. Anaknya semua laki-laki dan jarang di rumah karena kondisi hidupnya juga sangat susah. Namun adakalanya mereka datang, mungkin sekedar membantu membeli sedikit beras. Kalau istri Sahim, kurang tahu saya, kabarnya sudah puluhan tahun almarhumah. Sejak ditinggal itulah, ia mengalami gangguan jiwa,” ungkap beberapa warga Kayukul yang dimintai Waspada keterangannya secara terpisah.

Bisa jadi bagi Sahim nestapa bukan untuk diratapi. Namun, harus diarungi demi membesarkan si buah hati yang kini sudah remaja. Atau mungkin, dibenaknya masih tersirat keinginan merajut sejuta asa tuk menata takdir, meski menetap di balik dinding istana kayu berlantai tanah.(Irwandi MN/ Harian Waspada)

Comments

comments