by

Tetue Joyah Uken, Betah Walau Serba Kekurangan

Bebesen | Lintas Gayo : Tidak banyak yang mengetahui adanya Panti Jompo (di Gayo biasa disebut Joyah) yang terletak di Kampung Bebesen, Takengen. Ketika ditemui Lintas Gayo (13/05/2011) lalu, para orang tua lanjut usia (tetue joyah) tersebut sedang duduk bersantai di beranda panti selepas mengaji di Mesjid Quba, sebuah masjid bersejarah biadabnya peristiwa pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) 1965 silam. Saat itu masjid ini sempat dibakar oleh simpatisan partai terlarang tersebut.

Jangan membayangkan panti jompo yang sering kita lihat di televisi, lengkap dengan dokter dan suster yang siap memenuhi kebutuhan para lanjut usia tersebut. Disini mereka menyiapkan sendiri segala kebutuhannya masing-masing. Panti yang berpenghuni 23 wanita lanjut usia ini layaknya anak kost. Dari mulai memasak, menyuci, menyiapkan segala keperluan, bahkan mengambil air di Telege Monyeng sendiri. Ya, mereka kesulitan air bersih. Bak kamar mandi yang berada di panti bocor, selain itu airnya juga tidak pernah datang.

Di sebelah utara dari panti terdapat kolam dan kamar mandi umum yang sering digunakan oleh warga setempat, namun tidak ada yang mengurus pemandian umum tersebut. Menurut pantauan Lintas Gayo keadaan kolam tersebut kering kerontang. Beberapa buah kamar mandi yang terdapat disana dalam kondisi tidak terawat dan dipenuhi lumut.

Mirisnya, lumut yang harusnya tumbuh bukan ditempat  tersebut sering mengakibatkan nenek-nenek terpeleset dan jatuh atau dalam bahasa Gayo disebut musentat. “Kami ingin letak WC dekat, tidak harus ke pemandian umum, karena jika malam hari sangat susah bagi kami jika ingin ke kamar mandi. Selain itu hendaknya air lancar sehingga kami tidak kesusahan harus menampung dari Telege Monyeng.” harap Siti Hajar, nenek yang berasal dari Tunyang.

Untuk sejumlah kebutuhan primer, secara rutin Yayasan Joyah Uken memberikan santunan kepada mereka berupa sembako beras, minyak dan gula masing-masing 1 kilogram setiap bulannya. Selain itu penghuni panti juga menerima santunan makanan dari masyarakat sekitar, selebihnya jika masih kekurangan barulah penghuni panti membeli lauk pauk menggunakan uang saku yang dikirimkan anak atau cucu mereka.

Namun tidak seluruh penghuni panti dapat merasakan kiriman dari handai taulannya, seperti yang dialami oleh Siti Fatimah ia kerap menolak kiriman anaknya karena sang anak hanya dapat mengirimkan Rp.50.000 kepadanya.

Untuk layanan kesehatan, cukup memuaskan. Dua bulan sekali pihak Puskesmas Bebesen datang mengontrol kesehatan para penghuni panti, namun jika ada dari mereka yang sakit dapat mendatangi Puskesmas yang berjarak sekitar 300 meter dari lokasi panti jompo tersebut. Nenek-nenek ini tidak dibebankan biaya berobat sepeserpun.

Uniknya, nenek-nenek ini lucu-lucu dan mengasyikkan saat diajak mengobrol, cuma agak repot, hampir semua pertanyaan yang diajukan dijawab serentak, persis anak TK atau SD.  Tetue Joyah disini ternyata tidak gagap teknologi (gaptek). Mereaka memiliki telepon genggam, agar dapat dihubungi atau menghubungi sanak famili ketika dilanda rindu atau saling berkirim kabar.

Sejauh ini para penghuni panti merasa senang tinggal di Joyah tersebut, mereka memiliki kegiatan yang lumayan padat. Pagi dan siang hari mereka menyiapkan segala keperluan seperti makan atau bersih-bersih.

Dan untuk mengisi waktu luang, terkadang mereka munayu alas (mengayam tikar) dengan bahan Kertan, nyocok tape (menganyam tempat seperti kantong khas Gayo) berbahan Beldem dan Cike. Baik kertan, beldem dan cike adalah tumbuhan yang biasanya hidup di rawa dan dulu warga Tanoh Gayo biasa membudidayakannya di kolam.

Umumnya mereka betah menghabiskan sisa umur di panti tersebut karena bisa focus beribadah. Selesai Shalat Ashar dan Maghrib kegiatan mereka adalah mengaji di Mesjid Quba. Saat Lintas Gayo bertandang ke panti, mereka sedang bersantai di halaman panti dan baru saja pulang dari mengaji selepas Shalat Ashar.

“Ike dele pe sikurange, galak ateni kami mowen isien. Dele pong, buet pelela nate pe ara. Memejen kami lagu nini. Kunul bejunte lagu beberu,” seloroh Siti Fatimah dalam bahasa Gayo, disambut gelak tawa rekan-rekannya. Pernyataan nenek ini diartikan dalam bahasa Indonesia, walau dengan segala kekurangan, kami merasa senang tinggal disini, memiliki banyak teman dan kegiatan. Dan sekarang kami duduk bersantai seperti ini layaknya anak gadis.

Sementara itu untuk konfirmasi labih lanjut ke pihak yayasan, ternyata nenek-nenek tersebut ternyata tidak menyimpan nomor kontak yang bisa dihubungi. (Rahma Umar/Ria Devitariska)

Comments

comments