by

Keberlangsungan Produksi Kopi Gayo

Keberni Gayo – Aceh TV melalui program acara Keberni Gayo pada hari Jum’at (24/06) jam 20.00 sampai dengan jam 21.00 mencoba melihat keberadaan pertanian di Gayo. Narasumber yang dihadirkan dalam acara ini adalah Dr. Yusa Abubakar, M.Sc, seorang dosen Fakultas Pertanian Unsyiah yang ahli dalam bidang Pengolahan hasil pertanian.

Sebelum membahas tentang keadaan kopi di Gayo, alumni Program S-2 pada Auburn University (Alabana) yang mengambil jurusan Food and Proses Enginering ini menggambarkan tentang keadaan Gayo secara umum dalam kaitannya dengan pertanian.

Gayo yang memiliki ketinggian 600 m sampai dengan 1200 m bahkan sampai 1400 m dari permukaan laut sangat cocok untuk pengembangan pertanian, seperti sayur-sayuran dan juga tanaman tahunan seperti kopi. Hal ini sudah berlangsung lama, artinya masyarakat yang tinggal di daerah Gayo telah menentukan pilihan sebagai penghasil pertanian. Karena itu juga sekitar 90 persen masyarakatnya berprofesi sebagai petani. Jadi tidak ada alasan bagi mereka yang tinggal di Gayo tidak mengetahui bagaimana menjaga dan meningkatkan system pertanian yang mengarah nanti pada peningkatan hasil.

Dulu perhatian masyarakat masih terbagi dua antara bersawah dengan berkebuk kopi, setiap anggota masyarakat memiliki sawah dan kebun kopi, tapi dengan perluasan wilayah tempat tinggal juga keadaan alam dengan semakin sulitnya air, sawah semakin lama semakin berkurang. Sedang kebun kopi semakin luas sementara itu juga batas wilayah tidak mungkin bertambah lebar, maka sudah seharusnya keseriusan masyarakat tertumpu pada lahan perkebunan kopi.

Yusa Abubakar yang juga menyelesaikan Program S-3 pada North Carolina State University menjelaskan tahapan pertanian yang dalam istilah ilmunya disebut dengan Agribisnis, mencakup : Agronomi (Budi Daya), pengendalian hama dan penyakit, penanganan/pengelolaan pasca panen, pengendalian mutu dan pemasaran.

Agronomi, bahwa seorang petani harus memilih bibit kopi yang akan ditanam. Karena di Gayo sudah ada jenis kopi Gayo 1, Gayo 2 dan Gayo 3 yang diakui berdasarkan hasil penelitian, maka hendaknya masyarakat tidak lagi menanam jenis lain selain dari jenis yang telah ditentukan.  Termasuk juga dalam budi daya adalah bagaimana cara menanam kopi yang baik dan bagus sesuai dengan kondisi tanah,  baik perawatan atau pemupukan. Masih banyak masyarakat kita yang mengerjakan pertanian secara tradisional sehingga hasil yang diharapkan tidak pernah maksimal.

Masih menurut putra kelahiran Takengon, 24 Desember 1962 ini, masyarakat harus jujur kepada semua orang terhadap profesi yang dilakoninya. Seperti kejururan tentang kopi yang kita beri pupuk secara organic atau kimia, kalau pupuk organic kita harus memberi tahu bahwa pupuk yang kita gunakan adalah pupuk organic demikian juga dengan pupuk lain, karena ini berhubungan dengan kepercayaan dan kalau kepercayaan ini tidak kita jaga maka kita semua akan rugi.

Pengendalian hama dan penyakit, untuk pengendalian hama dan penyakit ada dua cara atau bentuk penanganan. Pertama hama lokal maka penanganannya boleh bersifat lokal, gunanya penangan ini supaya hama yang ada disuatu daerah tertentu tidak menyebar ke daerah lain. Kedua hama yang bersifat menyeluruh maka penangannya juga menyeluruh, untuk bentuk  kedua ini terkadang harus disesuaikan dengan kemampuan. Kalau memang bisa ditangan sekaligus maka tetap lebih baik, apabila tidak sanggup maka harus dilakukan secara bertahap.

Global warning (perubahan iklim) merupakan suatu permasalahan tersendiri bagi petani kopi, karena ada hama (penggerek buah) yang sebelumnya hanya dapat hidup pada daerah yang ketinggiannya sekitar 600 meter, dan kalau lebih dari situ hama tersebut tidak bisa hidup. Namun karena pemanasan global, yang sebelumnya di Takengon harus mengenakan jaket ketika pagi dan sore atau juga muniru, saat ini tidak perlu lagi. Ini menunjukkan Gayo sudah panas dan hama (lalat buah) yang selama ini tidak bisa hidup maka sekarang telah berkembang biak, karenanya petani dan mereka yang berkepentingan dengan kopi harus memperhatikan ini.

Masih menurut putra kedua dari tokoh masyrakat di Aceh Tengah, Abubakar Bangkit ini, terkadang masyarakat kita luput dari hal yang juga penting yaitu penanganan pasca panen, sesorang setelah memanen kopi dari kebun hendaknya jangan terlalu lama membiarkannya, sebaiknya setelah selesai panen langsung di giling dan memeram (permentasi) gabahnya selama semalan. Ini merupakan aturan yang diminta oleh mereka yang akan membeli kopi kita dan kalau ini tidak kita jaga berarti kita telah menyalahi satu aturan dari tahapan penanganan pasca panen. Disamping juga sesuai dengan permintaan si pembeli, terkadang pembeli menginginkan kopi yang diolah setelah menjemur gabah secara kering baru dibawa ke pabrik untuk menghasilkan anaknya, tapi juga banyak dilakukan sekarang setelah menjemur gabah sekitar dua hari lalu dibawa ke pabrik untuk menghasilkan anaknya dan setelah itu dijemur kembali. Ini juga memerlukan perhatikan khusus dari pedagang kopi guna untuk ketepatan penanganan kopi .

Dari semua tahapan yang dilakukan sebagaimana telah disebutkan, tujuannya adalah untuk pengendalian mutu. Kita harus yakin bahwa kopi yang kita hasilkan dari kebun kita, kopi yang kita beli dari masyarakat dan selanjutnya kita jual kepada negara penikmat kopi. Mereka akan membeli dengan harga mahal apabila mutunya sesuai dengan standar yang mereka inginkan. Sehingga akan menjadi lebih baik apabila kita berterus terang kepada mereka tentang mutu kopi kita, kalau memang kita punya mutu nomor 1 (satu) kta katakana secara jujur, kalau kita punya kopi mutu nomor 2 (dua) jangan katakan nomor 1 (satu). Karena kejujuran itu sebagaimana dikatakan adalah kepercayaan dan dalam perdagangan kejujuran adalah nomor satu selanjutnya baru harga.

Diantara upaya untuk mengendalian mutu kopi adalah dengan pembentukan koperasi, kendati koperasi selama ini telah kehilangan kepercayaan dalam masyarakat kita karena adanya kelalaian dari pihak oknum koperasi, namun demikian koperasi ini tetap diperlukan sebagai lembaga. Fungsi lembaga ini juga sebagai pemutus panjangnya mata rantai perdagangan kopi yang dikhawatirkan selama ini.

Kita berharap lembaga atau koperasi yang ada punya wilayah atau petani binaan, ini bermanfaat disamping dapat menjaga mutu, juga memudahkan pemasaran. Seperti yang dilakukan oleh KBQ Baburrayyan yang dijadikan sebagai mitra oleh NCBA sebagai pengumpul dan pembeli kopi, selanjutnya NCBA yang mencarikan pemasaran. Untuk ini kita yakin masih banyak lembaga lain yang mempunyai kegiatan dan fungsi yang sama.

Di akhir pembahasannya disebutkan bahwa masyarakat kita sudah menjadikan kopi sebagai tumpuan hidup, dengan terjadinya perubahan iklim pemerintah juga merasa risih karena APBD lebih banyak berasal dari kopi, karena itu perhatian serius dari semua pihak sangat diperlukan. (Drs. Jamhuri, MA)

Comments

comments