by

Ponpes Al Huda Jagong “Dihempas” Badai, Namun Tetap Tegak

Tuhan memberikan cobaan untuk melatih manusia tegar dan dewasa. Tanpa cobaan manusia tidak akan mampu menghadapi tantangan. Petuah ini yang diamalkan pimpinan Pondok Pesantren Al Huda, Jagong Jeget , Aceh Tengah.

Awal mendirikan pesantren ini tantanganya cukup berat, tidak ada murid. Namun sepasang suami istri yang mendirikan pesantren tidak pernah menyerah dengan keadaan. Berbagai upaya dilakukan, agar pesantren di kawasan transmigrasi Aceh Tengah ini eksis dan menjadi Ponpes kebanggaan.

Bahkan mereka sempat menjual kebun demi pesantren, namun tantanganya berat. Pesantren ini nyaris ditutup selamanya, sepasang suami istri pendiri yang sudah tak punya kebun, terpaksa berjualan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

“Awalnya memang sulit. Dari 4 murid pada tahun 2010 yang mendaftar, hanya dua murid yang menimba ilmu disini,” sebut  Tgk. Kamaruddin, pimpinan Ponpes Alhuda Jagong, ketika santri dayah peserta pelatihan jurnalistik meminta keteranganya soal profil dayah ini, pekan lalu.

Pemberian nama Ponpes Al-Huda Jagong  atau dikenal dengan nama MAs Al-Huda diambil dari nama  masjid Alhuda, masjid di kampung Jagong Kecamatan Jagong Jeget, Kabupaten Aceh Tengah.

Menurut Kamaruddin, awal pendirian pesantren ini hanya 2 murid yang tinggal di Ponpes, dari 4 murid yang mendaftar. Mensiasati keadaan ini, ahirnya pimpinan madrasah swasta ini merekrut anak putus sekolah dan tidak punya biaya untuk bersekolah.

Kemudian pada tahun 2013, Kamaruddin mengakui masa sulitnya. Demi pesantren dia menjual kebunya. Dia tidak lagi bisa ke ladang. “Ahirnya saya buka  warung,  sisa penjualan kebun saya belikan tanah sedikit. Warungpun ahirnya ditutup, saya bangkrut,” sebut Kamaruddin.

“Saat itu saya mau pindahkan murid  yang ada  ke Darul Mukhlisin, Bur Jimet, Bebesen. Sudah dibuatkan surat pindahnya. Pimpinan  Darul Mukhlisin tidak menolak, menerima mereka yang pindah,” sebut Kamaruddin mengenang kisah pahit perjuanganya.

Namun Muchsin Hasan , Darul Mukhlisin (kini menjadi anggota DPRK dari Golkar) meminta Kamaruddin untuk tidak menyerah memperjuangkan pesantren. “Coba difikirkan kembali, jika masih bisa di perjuangkan harus perjuangkan, jangan menyerah,” kata kata Muchsin tergiang ditelinga Kamaruddin.

Akhirnya Kamaruddin mengumpulkan murid pesantrenya. “Kalian  sudah saya pindahkan ke Darul Mukhlisin,  kapan ada waktu kita berangkat ke sana,” sebut Kamaruddin kepada santrinya.

Namun jawaban santri menyentakan pimpinan Ponpes Alhuda ini. “Kami gak mau pindah. Kami mau tetap belajar disini. Kapan bapak ada waktu ajarilah kami,” jawaban santri yang luar biasa membuat Kamaruddin meneteskan air mata.

Kamaruddin bermusyawarah dengan Harmayani, istrinya yang memberikan dukungan penuh terhadap Ponpes ini. Dalam situasi ekonomi yang sulit, Kamaruddin menemukan tempat berbagi dukanya, sang istri mendukung penuh dan memberikan semangat kepadanya, agar jangan menyerah dalam mendidik generasi penerus.

Masa-masa pahit dilalui sepasang suami istri ini dalam “menegakan” Ponpes Al Huda. Tuhan memberikan mereka kekuatan. Jerih payah mereka membuahkan hasil, Allah memberikan jalan keluar dari kesusahan pasangan pejuang ini.

Pada tahun  2015, Kamaruddin  ikut MTQ keluarga yang diselenggarakan Dinas Syariat Islam. Keluarga ini mewakili Kecamatan Jagong Jeget. Allah memberikan mereka kesempatan membuktikan keihkslasanya. Keluarga Kamaruddin mendapatkan tiket umrah.

Keluarga ini dinyatakan Dinas Syariat Islam sebagai keluarga yang berhak mendapatkan hadiah umrah ke tanah suci. Air mata berlinang dipipi mereka, sujud sukur, lelahnya selama ini digantikan Allah dengan mengantarnya ke tanah suci.

“Ketika di Madinah  saya minta petunjuk sama Allah,  bagaimana yang terbaik untuk hidup saya ini. Saya bisa  berangkat dari Aceh Tengah ke sini berkat Al-Quran.  Saya harus kembali ke tanah air dengan Al-Quran.  Saya terpikir untuk mengembangkan Rumah Tahfidz  dengan nama Ar-Raudah,” sebut Kamaruddin kepada santri dayah yang mewawancarainya.

Sekembalinya  dari tanah suci,  pada tahun 2017 mulailah dibuka Rumah Tahfidz, dimana  santrinya dikirim ke Takengon untuk  belajar menghafal Al-Quran. Ada yang Ke Bogor untuk menghafalkan Al-Quran 30 Juz khatam.

“Pertama yang saya didik adalah anak-anak saya dan temannya di asrama sekitar 4 atau 5 orang yang masih kecil, lambat laun ada satu santri yang masuk,. Alhamdulilah ada santri perdana,” sebut pimpinan Ponpes ini.

Tahun ke-2  bertambah 4 santri, ahirnya ada santri  4 orang perempuan dan seorang pria. Mulailah dibuatkan asrama.  Mengandalkan tenaga dan modal sendiri, awalnya  untuk asrama putri. Setelah itu terus berkembang  dan santrinya terus bertambah.

Pada tahun 2018 didirikan lagi Tsanawiyah(MTs Al-Huda), Kamaruddin tetap menjadi pimpinanya. Namun seiring dengan dinamika, muridnya terus bertambah, ahirnya dia menawarkan jabatan kepada sekolah kepada guru di sana.

Awalnya memang tidak ada yang mau, ahirnya Kamaruddin menemukan sosok penggantinya, namanya Ahmad Dardiri yang   dimutasikan dari MTs 7 Aceh Tengah ke Mas Al-Huda sebagai guru.  Ahirnya Kamaruddin mempercayakan jabatan kepala  Ahmad Dardiri.

Sekarang ini jumlah siswa Mas Al-Huda mencapai 70 siswa dan 20 guru. Sementara di MTs ada  150 siswa dengan 15 guru . Madrasah Al-Huda ini sifatnya terbuka, ada yang sekolahnya dari rumah dan ada yang mondok di  asrama Tahfiz Ar-Raudah.

Total  santri  mencapai  250 orang serta 20 guru. Santri di asrama senantiasa berakfitas  menghafal Al-Qur’an, mempelajari dan mendalami ilmu Fikih, ilmu akhlak dan tauhid.

Menurut Kamaruddin, Mas Al-Huda pernah meraih berbagai prestasi.  Meraih juara satu lomba pustaka  sekabupaten  hingga ke tingkat nasional, KSM peringkat ke-4 se Indonesiana.  Dalam bidang tahfiz ada  2 orang yang diberangkatkan umrah dan sejumlah prestasi lainya.

Ponpes Alhuda sudah mengukir sejarah, dari merangkak terseok –seok, nyaris tergulung, namun ahirnya mampu bangkit. Pasangan suami istri, Kamaruddin dengan Harmayani, dengan izin Allah sudah membuktikan, bahunya kuat menahan beban.

“Jika kita memimpikan sesuatu yang besar jangan takut untuk gagal, kesulitan itu harus dihadapi. Jangan takut bermimpi,” sebut Kamaruddin.

“ Saya ketika muda berkhayal bahwa di Jagong ini nantinya menjadi pusat ilmu pengetahuan, sekarang sudah terlihat ada pondok pesantren di Jagong. Saya juga berkeinginan mendirikan sebuah Universitas di Jagong,” sebut Kamaruddin yang didampingi Ahmad Dardiri, kepala Mts.

Sebatang pohon dia tidak akan kuat bila tidak ditiup angin, ketika angin menerpanya dia akan menancapkan akar-akarnya di bumi. Ponpes Al Huda sudah melewati masa krisis, kini Ponpes ini menjadi pelita di negeri dalam hamparan kopi.  ****

Penulis ; Tim santri Dayah Alhuda Jagong, peserta pelatihan jurnalisitk, Dinas Syariat Islam dan Pendidikan Dayah, Aceh Tengah/Editor Redaksi LG)

 

Comments

comments

News