by

Konsultan Event Internasional TDL Agam: Ini Bukan Event Internasional

Takengon | Lintasgayo.com – Panitia TDL: “Balap Sepeda di Gayo Bukan Event Internasional” Tour De Luttawar (TDL) yang di gelar 28 sampai 30 oktober 2022 di Aceh Tengah untuk tahap awal ini bukan mengutamakan menarik minat wisatawan. Namun, melainkan bertujuan menjaring atlet potensial, meningkatkan klas wisata daerah serta mengurangi “beban” Danau Lut Tawar sebagai obyek wisata Aceh Tengah.

Hal tersebut diungkapkan Konsultan Event Internasional TDL, Agam, dalam konfirmasi Persnya, Sabtu (29/10) di salah satu cafe di Kota Takengon. “Beban danau terlalu berat. Kita berupaya bukan hanya Lut Tawar yang dikenal wisatawan, tapi lokasi potensi lainnya seperti Linge. Ya, salah satu cara mempromosikannya yakni melalui event bersepeda yang sedag digelar, karena banyak track dan tempat yang dilintasi para pembalap dari luar daerah.”

Pernyataan Agam tersebut dinilai bertolak belakang dengan statmen Kadispora Aceh Tengah Zulpan Diara Gayo dalam launcing event TDL yang digelar pada Selasa (15/3) lalu di hotel Parkside.

Saat itu Zulpan mengatakan, ajang balap sepeda internasional yang digelar saat ini menargetkan akan dihadiri 2.000 wisatawan.

Sedangkan, menurut Agam, target 2.000 wisatawan yang akan meramaikan kegiatan TDL untuk kali ini tidak akan terwujud. “Mungkin untuk beberapa tahun ke depan harapan kita bersama akan terwujud. Untuk kali baru tahap pengenalan. Yang perlu kita banggakan track balap kita saat ini terbaik di seluruh Indonesia. Ini dari pengakuan para pembalap yang tampil di TDL,” ungkapnya.

Lain itu, Agam mengutarakan, tidak menutup kemungkinan dari Aceh Tengah, kedepannya akan muncul atlet pesepeda handal. Hal tersebut didukung oleh keberadaan topografi daerah kopi ini yang berada diketinggian lebih 1.200 MDPL.

“Track yang cukup bagus seperti di Linge serta kondisi alam yang mendukung sangat berpotensi melahirkan atlet bersepeda yang handal,” sebutnya.

Ditanya soal kurangnya minat peserta yang mengikuti TDL di “Gayo Lut” ini, ia menjelaskan, kendalanya disebabkan masalah sarana transportasi. Lintas darat terlalu jauh harak tempuh dari arah Sumut. Namun, untuk jalur udara, pesawat yang beroperasi antar bandara belum terlalu besar.

“Perlu diketahui ajang ini bukan event internasional, tapi melainkan balap sepeda profesional pertama di Aceh. Kalau event internasional tentu harus mengikuti aturan induk organisasi yang membawahi Cabor bersepeda,” tukas Agam. (Irwandi Leuser)

Banner

Comments

comments