by

Rumput Di Kala Subuh (Sebuah Coretan untuk Ibu)

Subuh ini, entah kenapa memaksa ku untuk menerawang kembali masa kecil, memaksa ku untuk menatap lembaran paving block yang ada di pekarangan rumah ku, rumah yang telah banyak mencatat ribuan kisah usang tentang ku. Kutatap dalam, ada seonggok rumput layu yang tumbuh di tepian paving itu. Tanpa peduli kuhirup aroma kopi dan menyeruputnya perlahan. Ketika itu waktu di otakku berputar ke masa bertahun lalu.  Tanpa kusadari, cerita lama itu seakan terulang dalam irama memori yang mendalam. Jauh sebelum paving block itu ada, dan pekarangan itu masih

Ine, Kh@Zaghlul
Rumput Di Kala Subuh (Sebuah Coretan untuk Ibu)

terhias oleh rumput yang kemayu.

Rumput itu, selalu basah ketika subuh menghampiri. Bulir-bulir embun menutupi daunnya yang kemayu, anggun sekali. Samar samar, ketika embun mulai menapaki kaki dan kabut putih mulai menghilang, perlahan tapi pasti seorang tua yang melangkah membuka hari dengan pergi menjual asa. Dialah ibuku.

Ibuku, sosok sederhana yang akan selalu mengisi relung hati ini. Namun hati ini tak menilainya dengan sederhana. Sosok yang selalu bangun pukul 4, bahkan sebelum subuh. Sosok yang menahan dingin dan kantuk untuk sekedar menyekolahkan anak-anaknya dengan hanya berdagang sayur di pasar pagi kota ini. Sosok yang berjuang sendiri menghidupkan mimpi anak-anaknya yang telah ditinggalkan ayah mereka. Sosok yang selalu menceritakan kisah turun baba tentang semua legenda dan kisah kepahlawanan kepada kami sebelum tidur. Sosok yang selalu melantunkan ayat suci Al Quran ba’da mahgrib untuk menenangkan hati kami. Sosok yang memanggilku wen dengan nada yang melandai.

Setiap subuh ibu selalu membangunkan ku dengan kalimat “wen, uet mi wen, semiang mulo, doanen ama mari semiang boh..”. Lalu setelah ia melihat aku dan adik-adikku sholat, dia pun beranjak kepasar dan menjajakan dagangannya di pasar pagi yang masih ada hingga kini. Perlahan seiring dewasanya aku, ibu selalu membuatkan ku secangkir kopi sebelum dia  beranjak meninggalkan kami, seraya berpesan “wen, lah jeroh sekulah boh…

Aku tahu, rumput itu merekam kenyataan dimana suatu malam aku melihat ibuku menangis dibelakang rumah tempat memasak air yang selalu berbau asap lantaran kami tak pernah mampu membeli peralatan canggih untuk sekedar menjerang air. Tak pernah dalam hidupku kulihat begitu jelas kesedihan di wajahnya. Entah kenapa aku merasa amat bersalah di hadapannya. Namun, tak lama aku memikirkan kesalahan ku, ibu memanggilku duduk disebelahnya dan memelukku erat, sangat erat.

Ibu membisikkan kata-kata yang kutanam sangat dalam di pelepah otakku, sambil menangis “wen ku, jeroh jeroh belejer boh, nti jadi lagu ine mu ni,ogoh,  gati pedeh i cogahi jema“. Saat itu aku mengerti ibu ku baru ditipu tadi siang. Tuhan, ternyata masih ada orang-orang yang tega mengambil hak sekedar memuaskan nafsu yang tak pernah penuh di perut mereka. Ibu, bahkan untuk menangisi kejadian tadi siang pun kau harus menunggu selarut ini untuk melepaskan semuanya, hingga tak ada anakmu yang tau kau sedang bersedih. Entah mengapa aku ikut menangis di pelukannya. Ditemani bau asap, batang kopi yang tumbuh di belakang rumah kami, dan aroma rumput. Sembari mengalir ceritanya tentang hidup ini. Hening, membuatku terlelap di dekapannya…

Ketika aku masih kecil, diwaktu hari libur ibu selalu mengajakku berdagang di pasar pagi. Setelah itu ibu selalu membelikan ku martabak telur karena aku mau membantunya. Dan ketika aku beranjak dewasa ibu selalu menyisihkan uangnya untukku setiap kali usai menjajakan dagangan kami. Kuperhatikan bagaimana cara bicara ibu kepada orang lain yang amat sangat halus terdengar. Dan semakin lama aku mendengar suara ibu semakin parau, termakan usia…

pernah aku terhenyak ketika melihat dapur rumah kami mulai miring, dan aku tahu jawabannya bahwa uang ibu tak pernah cukup ubtuk membetulkan dapur ini. Habis untuk sekedar memenuhi kebutuhan makan dan sekolah untuk kami anak-anaknya. Ibu lebih bahagia melihat kami semua tumbuh dewasa ketimbang dan menahan nafsunya akan keinginan hidup lebih di dunia ini. Ketika Idul Fitri tiba, aku tak pernah melihat ibu memakai baju baru, sebab uangnya telah habis untuk membeli baju ubtuk kami anak anaknya. Bajunya masih sama. Baju hitam yang bersulamkan kerawang kebanggaan budaya kami. Yang selalu ia katakan bahwa ama yang memberikannya.

Ibu, tak pernah ia mengajarkan apa itu teorema pythagoras dan cara menyelesaikannya, tak pernah ia bertanya tentang apa itu hukum newton, tak pernah ia tahu mengapa bintang bersinar, atau bagaimana benzena ditemukan, atau mengajakku berdiskusi tentang bagaimana reproduksi manusia. Tapi, ia selalu bertanya tentang aktivitas sekolahku. Tentang apa yang aku dapat di bangku sekolah. Tentang Pr Pr yang harus kuselesaikan. Setiap malam ia bertanya padaku, tiap malam…

Ketika aku baru menyelesaikan SMA ku, ibu mengajakku bicara tentang kehidupan kami. Kukatakan padanya aku akan segera mencari pekerjaan setelah sekolahku usai, sekedar membantu meringankan beban berat yang ia pikul selama ini, terlalu lama bahkan. Namun ibu ku menatap biji mata ku tajam, seakan ia tak setuju aku harus bekerja. Kuyakinkan sekali lagi padanya, bahwa kami tak akan memiliki banyak uang untuk bisa membiayai kuliah ku.  Namun ibu mengoyak pembicaraan kami dan berkata dia “wen, bier pe nyanya murip ine gere pernah ine mera nengon kam bewene kona cogah wen, bier beban ine ni kol, gere mukunah wen, kuliah wen boh“. Kulihat matanya, air matanya meleleh. Tuhan, betapa kuat keinginannya untuk sekedar menjadikan ku orang yang tak mudah ditipu. Kurengkuh tubuhnya, dan kulihat bagaimana waktu mengkerat wajahnya hingga keriput. Tak kusadari, ibuku semakin tua.

Bulir-bulir cintanya semakin ia tampakkan ketika menjelang aku meninggalkannya untuk sekedar menjadi orang yang tak mudah ditipu baginya. Ibu semakin sering berada dirumah. Kulihat dari wajahnya, tak sedikitpun ia bisa menutupi rasa akan kehilangan diriku. Namun ibu selalu memberiku semangat dari lantunan ayat Al Quran tiap magrib usai. Memberi ku senyum ketika kami makan, ketika usai sholat, senyum yang membuat ku semakin rindu padanya. Ketika ia membuatkan ku secangkir kopi saat kami baru pulang dari kebun, ibu menceritakan padaku tentang kehidupan rumput hijau pekarangan rumah kami, ia cerita bahwa ama yang menanam rumput itu tak lama sebelum mereka pindah kerumah ini. Dan berkata seandainya ama masih ada pasti dia bangga melihatku tumbuh dewasa sekarang ini. Seraya tersenyum mengalir cerita tentang ama dari mulut ibu. Tuhan, betapa besar cinta yang selalu ia tiup ke ubun-ubun anak-anaknya….

Hari itu, ibu mengantarkan ku ke terminal sekedar melepas kepergian ku. Sebelum aku berangjak pergi ibu memberi manat sederhana untukku, “nti tareng semiang wen boh”. Kupeluk tubuh ringkih yang semakin menua itu. Aroma nafasnya masih sama seperti ketika aku masih kecil untuk ia peluk dulu. Ia tersenyum padaku. Dalam pelukannya, seakan waktu berhenti berjalan. Saat itu aku ingat masa kecilku waktu aku menangis keras di dekapannya dan aku terdiam ketika melihat senyumnya. Senyumnya masih sama seperti dulu. Sama seperti ketika ia membangunkan aku tatkala sahur di bulan Ramadhan. Sama seperti ia tersenyum bangga ketika aku mecium tangannya saat Idul Fitri. Sama seperti saat ia mengantarkan ku pertama kalinya saat SD dulu. Masih sama sampai wajah rentanya datang, masih sama.

Bus perlahan memutar rodanya, kulihat ibu berdiri, kain lusuhnya menandakan bahwa apapun yang ia dapatkan selalu diberikan untuk kami. Kain lusuh itu, kain lusuh itu…. Perlahan semua kabur di pandangan ku, bukan karena bus semakin jauh memisahkan aku dan ibu. Tapi karena air mata yang mengaburkan pandangan ku. Ibu, aku sangat ridu, sangat rindu ibu. Tak pernah kubayangkan saat itu adalah kesempatan terakhir aku melihat ibu masih berdiri tegak, masih bernafas, dan masih tersenyum. Sebab, tak berapa lama sebelum aku menyelesaikan pendidikan ku, Allah memanggil ibu, memanggil senyum terindah yang pernah ku dapat dalam hidup, memanggil aroma nafas semerbak itu, memanggil tubuh ringkih yang kucinta itu. Melepaskan semua beban berat yang ibu tanggung selama ini. Namun senyum itu selalu ada untukku, semangat yang ia warisi harus aku pikul untuk kubagikan kepada adik-adikku. Aku tahu itu walau yang kutemui dirumah adalah sosok ibu yang terbujur kaku tanpa terhias senyum di bibirnya lagi.

Aku tersadar dari cerita lama itu ketika air mata telah meleleh dan mengalir di sela sela pipi ku. Dingin, sedingin ketika aq kehilangan ibu untuk selamanya di hari itu. Mata ku terpaku, baru kali ini otakku menyimpulkan betapa cinta ibu ku tampak sangat nyata di depan bola mata ku sendiri, besar, jauh lebih besar dari yang kulihat semasa sang ibu masih ada. Rumput itu, rumput yang menyembul layu itu menceritakan pada ku semua yang ia lihat bertahun lalu dan menarikku kedalamnya, dalam sekali. Rindu pun menghampiri ku yang tertegun kaku disini. Di rumah ibuku yang telah kurombak, sepi.

Mungkin kini rumput itu telah tiada karena tergantikan paving block yang menghias pekarangan rumah ku. Namun, wangi rumput itu masih terasa di hidungku, dan kenangan yang dilihat oleh sang rumput mungkin pudar termakan waktu. Tapi, tidak dengan semua kisah cinta yang ibuku pernah berikan yang akan selalu hidup dalam hati. Rumput itu kini takkan lagi menghiasi pandangan mata, namun semua kisah yang telah ia tulis pada helai daunnya tentang ibu akan selalu mengalir untuk sekedar ku kenang. Kini, mungkin hanya hati yang dapat merasakan semua, hanya hati. Ditemani rumput layu yang sepi.  Tapi hati takkan pernah melupakan semuanya. Takkan pernah………..

* * * * *

Subuh ini, aroma rumput itu masih tercium oleh hidung ku, bercampur dengan aroma kopi……

Air mata mengalir di sisi kedua pipi ku, sendu sekali…..

Ibu, aku rindu……


Semarang, november 2010

coretan tanda cinta untuk ibunda………


wen = panggilan untuk anak laki.

wen, uet mi wen, semiang mulo, doanen ama mari semiang boh = nak, bangun lagi nak, sholat dahulu, doakan ayah setelah sholat.

wen, lah jeroh sekulah boh.. = nak, yang baik sekolah, ya..

wen ku, jeroh jeroh belejer boh, nti jadi lagu ine mu ni,ogoh,  gati pedeh i cogahi jema = anakku, baik baik belajar ya, jangan jadi seperti ibumu ini, bodoh, sering sekali ditipu orang.

wen, bier pe nyanya murip ine gere pernah ine mera nengon kam bewene kona cogah wen, bier beban ine ni kol, gere mukunah wen, kuliah wen boh = Nak, biarpun susah hidup ibu tak pernah ibu mau melihat kalian semua ditipu nak, biar beban ibu besar, tak apa nak, kuliah nak ya.

nti tareng semiang wen boh = jangan tinggal sholat ya nak.

Sumber : qoniefaundra.blogdetik.com

Comments

comments