by

“Bang, Peluru ini Masih Bisa Dicabut?”

Suryadi Sulaiman saat menjalani pemeriksaan medis di Puskemas Blang Rakal Kabupaten Bener Meriah. (Foto Wen Rahman)

(Kisah Dibalik Peliputan Jurnalistik)

Pekerjaan jurnalistik memiliki beragam suka dan duka. Kadangkala, pekerjaan itu sangat memuaskan karena mampu memperoleh sebuah berita eksklusif, tak jarang pula banyak duka dan resikonya. Hal itulah yang dituturkan oleh Yusra Amri Daud Dasa, seorang wartawan Harian Rakyat Aceh untuk wilayah Aceh Tengah dan Bener Meriah, Minggu (11/12) di Cafe Batas Kota, Takengon.

“Bang, peluru ini masih bisa dicabut?” Itulah kalimat eksklusif yang didengar Yusra dari mulut Suryadi Sulaiman (40) korban tertembak dalam sebuah razia senpi dan bahan peledak yang digelar aparat keamanan, Jumat (9/12) lalu di Km 35, perbatasan antara Kabupaten Bener Meriah dan Bireuen. Kalimat itu sulit untuk dilupakannya, dan terus terngiang-ngiang sampai saat ini. Waktu itu, tutur Yusra, dia menjawab “bisa, abang tenang aja, santai aja.”

Menurut Yusra, waktu itu sudah menjelang tengah malam, sekitar pukul 23.53 WIB, kami sedang mewawancarai Kapolres Bener Meriah AKBP Hari Apriyono. Tiba-tiba terdengar rentetan suara tembakan disertai teriakan aparat yang meminta mobil pikap yang dikemudikan oleh Suryadi Sulaiman untuk berhenti. Namun, mobil pikap itu terus melaju menembus barikade aparat. “Mobil pikap itu pasti dikejar,” bisik hatiku, ungkap Yusra.

Benar, sebuah mobil patroli polisi yang sudah stand by siap mengejar mobil pikap mencurigakan itu. Aku, tutur Yusra, segera melompat kedalam mobil patroli polisi. Tidak tahu kenapa, mungkin refleks jurnalistik yang mendorongnya ikut pengejaran bersama polisi. Dalam pengejaran itu, tidak sedikitpun timbul rasa takut, malah rasa ingin tahu yang menggelora di hatinya. “Barangkali itu naluri jurnalistik,” ungkap Yusra.

Sekitar 20 menit pengejaran dari lokasi razia, lanjut Yusra, akhirnya mobil pikap yang dikemudikan Suryadi Sulaiman terlihat di kegelapan malam. “Itu dia!” kata aparat sambil mengokang senjata. Waktu disergap aparat, Suryadi Sulaiman sampai minta ampun. Mereka, Suyadi Sulaiman dan adiknya Fakhrurazi (18) kemudian dinaikkan ke mobil patroli polisi.

Suryadi duduk di bak mobil patroli, tepatnya di pojok kiri depan, lalu Fakhrurrazi. Aku, jelas Yusra, duduk disebelah Fakhrurrazi. Dalam perjalanan kembali ke pos di Km 35, kutanya nama mereka, dengan nada sangat takut mereka sebutkan namanya.

Kemudian aku tanya: kenapa abang lari? Suryadi menjawab, “aku takut.” Kenapa abang takut, tanya Yusra lagi. “Kami bawa minyak tanah bersubsidi 800 liter, baru kali ini kami lakukan,” jelas Suryadi kepada Yusra.

“Terus, abang nggak apa-apa, kan sehat-sehat?” tanya Yusra.

“Aku kena peluru,” kata Suryadi Sulaiman sambil menunjukkan cairan darah di telapak tangan kirinya. Kemudian, Suryadi Sulaiman menunjukkan punggungnya kepada Yusra. Di keremangan malam itu, terlihat bajunya basah oleh cairan darah.

“Aku laporkan kepada aparat yang ada di mobil patroli itu bahwa Suryadi Sulaiman kena tembak,” tutur Yusra. Karena tidak ada senter, akhirnya luka tembak di tubuh Suryadi tidak dapat dilihat dalam perjalanan itu.

Setengah berbisik diantara deru mobil patroli yang memekakkan telinga, Suryadi Sulaiman berbisik kepada Yusra, “bang, peluru ini masih bisa dicabut?” Bingung juga menjawabnya, kuberanikan diri menjawab sambil mencoba menghiburnya, “bisa bang, abang tenang aja, santai aja,” kata Yusra.

Di sela-sela pembicaraan itu, sebut Yusra, Suryadi Sulaiman minta air. Yusra menanyakan kepada aparat, ternyata di mobil patroli itu tidak tersedia air minum. Tiba-tiba Suryadi Sulaiman muntah, Yusra meminta Fakhrurrazi memegang kaki Suryadi Sulaiman supaya tidak terpental keluar, karena laju mobil patroli itu sangat cepat.

Dalam perjalanan kembali ke pos Km 35 yang dikhawatirkan Yusra adalah terjadinya kontak tembak. “Siapa tahu ada beking si korban, terus kami ditembaki,” ungkap Yusra mengenang peristiwa itu.

Liputan jurnalistik secara langsung itu, menorehkan kesan sangat mendalam di hatinya. Yusra Amri Daud Dasa, wartawan Harian Rakyat Aceh itu tidak bisa melupakan momen paling berharga dalam hidupnya. Menurutnya, kisah menarik semacam itu jarang bisa ditemukan dalam sebuah peliputan. “Aku akan catat dan tulis kisah ini dalam bentuk features atau cerita pendek,” ungkap Yusra. (GaLov/03)

Comments

comments