by

Malu Tapi Rindu Pada Aman Jarum

.

SORE, Kamis (18/2/2012), sekitar 30 orang secara spontan berkumpul di sebuah café Wahana Apresiasi, tempat ngumpulnya orang-orang kreatif yang beralamat di jalan Mahkamah No. 5 Takengon.

Kami hadir mendengarkan petuah dari Ama (sebutan nama orang tua suku Gayo) yang sengaja datang menemui saudaranya di negeri di atas awan ini, Takengon. Selama ini mereka kerap mendengar kisahnya yang begitu spektakuler tentang kepeduliannya terhadap lingkungan. Namun tak ada yang sempat bersua muka sebelumnya.

Nama lengkapnya Abu Kari alias Aman Jarum, penyelamat lingkungan dari kecamatan Pining Kabupaten Gayo Lues yang dilahirkan di Pintu Rime tahun 1957 silam. Jika disuruh memilih cara kematian, dia pilih mati saat selamatkan lingkungan dari pada mati saat sakit ditempat tidur.

Tak terkatakan senangnya bisa dapat bertemu Aman Jarum, sosok yang begitu fenomenal, yang setia memegang amanah muyang datu (nenek moyang;red) untuk menjaga dan melestarikan hutan. Sejak dari tahun 1968 ia memulai merintis amanah nenek moyangnya sampai sekarang.

Orang-orang yang datang yang tergabung dari unsur mahasiswa dan masyarakat pencinta lingkungan terpukau mendengar ceritanya, cerita dan pengalaman yang dituturkan dengan bahasa Gayo itu seolah menantang mahasiswa untuk mengenal jati dirinya.

Tutur kata bahasa Gayo khas Negeri Seribu Bukit, Blangkejeren keluar dari mulutnya yang sarat dengan filosofi saat menyampaikan pengalamannya sebagai relawan penyelamat hutan kepada  peserta diskusi yang hadir.

Sangat sederhana ia berpikir untuk memberikan motivasi menyelamatkan hutan, “Apa hutan itu untuk kita saja ?, kalau ia mari kita tebang bersama-sama?, tentunya hutan itu bukan untuk kita. Tapi untuk anak cucu kita. Bahkan mungkin untuk keturunan yang ayah dan ibunya sendiri belum nikah.” Inilah pesan datunya (bapak kakeknya) kepadanya saat dia masih remaja, saat itu datunya yang bernama Dongkol Aman Bedul sudah berumur sekitar 100 tahun.

“Sangat merasa berdosa sekali saya, jikalau tidak menjalankan amanah datu, makanya sampai sekarang saya masih menjaga tanah tembuni di Pining”, kata Aman Jarum.

Ia mengaku mengenyam pendidikan hanya di tingkat Sekolah Dasar,  meskipun demikian, syukur alhamdulillah saya bukan seorang penjahat. “Banyak orang mengenyam pendidikan tinggi hingga sampai Profesor, tetapi perilakunya penjahat, yang rakus merambah hutan, tanpa memikirkan anak cucunya”, kata Aman Jarum bernada memvonis.

Selain tak terbilang menegur dan mengusir orang-orang yang sedang merusak lingkungan seperti menebang pohon dan menyetrum ikan di sungai, Aman Jarum juga menanam pohon bambu di daerah rawan longsor dan di daerah aliran sungai di Pining.

“Saya tak segan melakukan kekerasan kepada pihak yang tak dengar perintah saya untuk menghentikan pekerjaan yang merusak hutan tanpa mengantongi izin yang sah,” kata Aman Jarum.

Dalam misi penyelamatanya ia mengaku berupaya selalu terlebih dahulu berkoordinasi pada instansi yang terkait dengan pelestarian hutan, dari Dinas Kehutanan, Camat, Danramil, Polisi sampai kepala kampung.

Menurut Aman jarum bertambah banyak anak Adam bertambah semakin bertambah rusak hutan dan belum ada solusi penangkal kerusakan hutan. “Sampai hari ini belum ada solusi bagaimana hutan tidak rusak dan masyarakat menjadi sejahtera. Semuanya masih retorika,” simpul Aman Jarum.

Ia berpesan kepada para perserta diskusi untuk terus mengkampayekan kesadaran pelestarian hutan di muka bumi ini.

“Katakan pada mereka, bukan kita saja yang memerlukan hutan, tapi semua generasi anak manusia memerlukan hutan,” pungkas Aman Jarum yang sesekali spontan mengungkapkan kemirisannya dengan mimik muka marah, sedih dan tak jarang dengan guyonan yang mengundang tepuk tangan dan tawa para peserta diskusi.

Ceritanya mengalir asli berbahasa Gayo dengan dialek Gayo Lues, ini unik dan menarik. Selain para peserta diajak merenung tentang lingkungan, bertemu Aman Jarum menjadi cermin bagaimana dia memaparkan pesan, gagasan dan idenya dalam bahasa Gayo yang nyaris tanpa tercampuri bahasa lain.

Sosok seusia Aman Jarum dengan bahasa Gayo-nya tersebut hampir tak dapat dijumpai lagi di Aceh Tengah dan Bener Meriah. Kami malu bertemu denganmu, kami bagian dari generasi perusak alam dan pemusnah bahasa Gayo. Namun ada kerindungan ingin bertandang ketempatmu untuk belajar lebih banyak darimu. Semoga kami dan Ama senantiasa diberi kesempatan. (Maharadi/Red.03)

.

Comments

comments