by

Wiknyo, Si Pemilik Matoa Gayo

SOSOKNYA sederhana namun bersahaja, umurnya berkisar 58 tahun, mengenakan baju batik, celana kain dan kopiah hitam, saat kru Lintas Gayo (LG) menyambangi rumahnya di Daerah Paya Tumpi Induk. Mudah saja menemukan rumahnya, melewati jalan baru di Paya Tumpi yang tembus ke Kebayakan, tak jauh dari simpang tersebut terlihat pohon beringin putih itulah rumahnya. Wiknyo, begitu namanya. Diakuinya sejak sebelum menduduki bangku sekolah, ia sudah terbiasa berinteraksi dengan tumbuhan. Kecintaan akan tanaman ini juga ia tularkan kepada anak-anaknya.

Tepat di belakang rumahnya terdapat pohon besar yang asing di mata warga Kota Takengen kendati Kabupaten Aceh Tengah merupakan kabupaten agraris, dialah pohon matoa. Matoa (Pometia pinnata) adalah tanaman khas Papua dan menjadi flora identitas Provinsi Papua Barat.  Matoa tumbuh di daerah yang sejuk atau dengan kata lain lebih mudah tumbuh di pada ketinggian 900 – 1700 m dpl, namun dapat beradaptasi di dataran rendah hingga ketinggian 500 mdpl. Ruang tamu rumahnya dipenuhi oleh foto-foto buah matoa saat sedang panen, membuat orang yang melihat jadi penasaran bagaimana rasanya.

Rasa buah ini merupakan perpaduan dari berbagai rasa buah-buahan lainnya. Bentuknya bulat melonjong seukuran telur puyuh. Warna dan tekstur kulitnya seperti buah markisah. Aromanya seperti durian, sedangkan rasanya perpaduan antara rambutan, lengkeng, dan leci. Benar-benar buah yang unik. Dan ternyata, batangnya juga dapat dimanfaatkan seperti untuk bahan bangunan, bahan lantai, perabot rumah tangga, dan lainnya.

Wiknyo mengaku mendapat bibit buah ini dari pamannya yang tinggal di Papua pada tahun 1994. Ia memiliki tiga batang pohon matoa, namun hanya satu pohon yang berada di rumahnya, selebihnya ia tanam di kebunnya di Timang Gajah, Bener Meriah. Hingga saat ini, pohon matoa miliknya telah berbuah sebanyak delapan kali. Biasanya masa panen terjadi pada Bulan Desember-Januari, hasilnya bisa mencapai 70-80 Kg dalam sekali panen. Menurutnya pembeli biasanya mendatangi langsung rumahnya. Karena untuk dipasarkan stocknya masih belum mencukupi. Buah ini dibandrol Rp. 30.000,- per kilonya. Ia tak sungkan membagikannya kepada sejumlah kerabat jika musim panen tiba.

Pemeliharaan matoa tidaklah sulit, karena tanaman ini termasuk tanaman hutan, namun kelelawar dan tupai sangat menyukai buah ini. Maka untuk menghindari serangan hama tersebut, Wiknyo dan anaknya kerap membungkus calon-calon buah matoa dengan plastik. Bibit tanaman ini bisa diperoleh dari cangkok yang jika mendapat sinar matahari penuh membutuhkan waktu 5 tahun baru dapat dipetik hasilnya. Sedangkan jika dari bijinya, memerlukan waktu 8 tahun.

Saat Kru LG tersentak demi mendengar bilangan tahun yang harus ditunggu untuk bisa mencicipi matoa, Wiknyo yang merupakan alumni STM Pegasing (sekarang SMK 2 Takengen) itu hanya tersenyum. “Orang-orang zaman sekarang serba menginginkan hal yang instan, waktu 5 tahun itu tidak lama. Grupel ini saya tanam saat saya duduk di bangku SMA” ujarnya sambil menunjuk kepada meja yang berada di depannya dan di sudut ruangan.

“Semestinya setiap ulang tahun kita menanam sebuah pohon, diberikan tanda di umur sekian menanam pohon apa. Daripada berfoya-foya seperti yang lazim dilakukan oleh anak muda zaman sekarang. Menanam pohon manfaatnya memang tidak langsung kita rasakan, tapi untuk nanti 10-20 tahun yang akan datang. Tidak harus buah-buahan, apa saja, karena pada hakikatnya setiap satu pohon yang ditanam sama dengan menabung oksigen untuk anak-cucu kita nanti”.

Berdasarkan keterangan Wiknyo, banyak mahasiswa/i yang praktek lapangan dengannya, termasuk menggali ilmu pertanian dirumahnya. Terbukti dari papan tulis yang terpampang di dinding rumahnya bertuliskan seputar ilmu biologi dan pertanian. “jangan pernah berhenti belajar dan jangan malu untuk bertanya jika menyangkut tentang ilmu. Ilmu itu lurus, tapi pengalaman itu berliku-liku. Cobalah kita berpikir seperti Orang Belanda yang memiliki semangat tinggi dalam menimba ilmu di negeri orang, kemudian mereka mempraktekkannya di negeri sendiri. Sehingga tidak heran jika teh, kopi, tembakau milik mereka adalah kualitas utama. Jangan pernah merendahkan apa yang kita miliki. Kita kaya akan sumber daya alam, namun sumber daya manusianya pemalas. Dulu, teh terbaik itu ada di Redelong, sekarang sudah punah, kita sendiri yang merusaknya.” Ujar bapak tiga anak ini berapi-api jika bercerita tentang tanaman.

Tidak berlebihan jika banyak mahasiswa/i yang berdatangan untuk menimba ilmu padanya, di pekarangan rumahnya saja begitu banyak jenis-jenis tanaman dan bibit tanaman yang siap diolah atau diperjual-belikan. Buah-buahan yang terdapat di pekarangan rumah Wiknyo antara lain matoa, leci, kiwi, lengkeng, Apel India, buah naga, strawberry, manggis, anggur, buah tin, pisang berwarna pink, jambu cokelat, jeruk dengan berbagai jenis dan masih banyak lagi jenis buah-buahan yang umumnya terdapat di pasar. Belum lagi tanaman lainnya seperti tanaman mocha, pakis monyet, bunga mawar dengan berbagai warna hasil dari perkawinan silang, asparagus, serta bibit-bibit tanaman dan pohon seperti pohon kemuning, gaharu, dan pohon mahoni.

“Cintai negeri dengan mengenali tanaman lokal yang memiliki varietas unggul, dengan mengenali maka ada keinginan untuk berbudi daya. Baru kemudian belajar mengaplikasikannya di lapangan, yaitu belajar menanam dan melestarikannya” pesan Wiknyo kepada pembaca Lintas Gayo. (Ria Devitariska)

.

Comments

comments