by

Puisi Wahyuni “Terbuang” di Tanoh Gayo

WAHYUNI bukan penulis puisi, tapi dia paling suka puisi. Sarjana psikologi kelahiran Tanoh Gayo, Takengon, 26 Juni 1972 itu, memang perempuan yang menyukai syair-syair indah, termasuk syair-syair lagu. kecintaan pada puisi telah dilakoninya sejak duduk di bangku SMP Negeri 1 Aceh Tengah, dan juga pernah meraih juara baca puisi tingkat Sekolah Menengah pertama kala itu.

bukan semata pada puisi, perempuan berkulit sawo matang yang kini aktif sebagai psikolog juga punya hati, dan dia tuangkan dalam goresan-goresan kata, walau sekedar saja, menurutnya itu fakta. Wahyuni juga sempat mengikuti beberapa bentuk seni lainnya seperti tari dan teater. Melanjutkan studi ke perguruan tinggi membuat aktifitas seni itu terhenti, dan Wahyuni memilih menjadi pengagum puisi saja. Berikut adalah puisinya yang terbuang, dan dipungut kembali. Katanya, coba-coba untuk mencintai puisi lagi. Berikut Puisi yang ditulisnya di Takengon.

RESAH

Langit biru mengirim cahaya cemara
Wewangian pegunungan menyengat
Terasa tetap disini
Dengan manja menyelip pikiranku….

Rumah tua di tepi danau Toweran
Terukir kata yang melekat penuh makna
Disaksi Pereben menjulang
Kau bersama hijauku tersenyum kecut
Takut merancang sawah penantian….

Jauh ke seberang gubuk mungil sekali
Searah pandangan bersama..
Kala menunggu dibatu tua berlindung pohon kayu rimbun
Dia lepas perasaan itu
Dengan takut bagai jedem layu…

Tidak berhenti dan terus berlalu
Hingga jarak waktu kosong mengingatkan
Tentang gua-gua bertanda jemari tua
Sebuah cahaya kembali dengan membawa hati yang hitam
Inilah perahu yang harus dikayuh bersama…
Berimbang dan melaju ke Bintang-bintang

Danauku tetap mendesirkan angin
Seakan mengajak vinus melambaikan keresahan
Rumah tua tetap kokoh
Dengan ukiran dan tatapan masa lalu yang di jiwai
Tentang cinta
Tentang kemauan yang telah lama terabaikan
Hanya karenamu…….
Ditepi Danau Laut Tawar yang biru……

PADAMU..

Aku menyala
saat rindu menembusmu

hatimu membatu
lautan luas tak jua mampu meluluhkan
sedang kau terbentang dengan samudramu
yang kokoh bersandar itu…..

Aku terbakar
saat rindu menembusmu

Resahku telah membara
bersenandung antara pepohonan
tak jua sampai
walau kata-kata telah tertumpah habis…

Disini dengan waktuku yang jarak
berharap gema nyanyian kembali
aku retak diatas karangku
namun kau tetap berlalu dengan harummu..

Aku membara
tapi kalah terhempas kabutmu

Lunaklah duhai kau……..

AMPUN-MU

Tuhan,
terlalu jauh aku kesurgaMu
diantara ribuan juta umatMu
Tapi aku bagagia pada ruang waktu
memuja-MU sepuasku

Tuhan
tetap kulafazkan amanahMU
dengan deru airmata
Ikhlas pada tempat yang Kau arahkan padaku
seburuk apapun wujudnya…

Tuhan..
AmpunMu adalah segala-galanya

(The Atjeh Post)

Comments

comments