by

Jamal Taloe: Seniman Aceh Harus Melihat Budaya Gayo

Banda Aceh | Lintas Gayo – Paska perjalanan tim Layar Kaca Banda Aceh dan sejumlah seniman Aceh ke Desa Uring Kecamatan Pining Kabupaten Gayo Lues dalam perencanaan pembuatan Dokumenter Saman dan kebudayaan Gayo banyak memberi inspirasi bagi para seniman Aceh.

Seperti yang diungkapkan oleh salah satu seniman Aceh Jamal Taloe mengungkapkan, sangat takjub melihat kebudayaan yang dimiliki pleh masyarakat Gayo begitu juga dengan daerahnya yang menurut jamal keasliannya masih sangat natural.

Jamal menyatakan selama ini belum pernah melihat keseharian masyarakat gayo, baik dari segi cara berbahasa dan cara kehidupannya dan ketika Jamal mendatangi daearah tersebut beliau menyatakan kegamumannya terhadapa daerah seribu bukit tersebut.

“Saya merasa masyarakat gayo hidup tanpa beban, dan sangat menikmati kehidupannya seolah-olah mereka dapat berbicara dengan alamnya,”ungkap Jamal saat berbincang dengan Lintas Gayo, Kamis (5/4/12) di Sekretariat Layar Kaca Banda Aceh.

Jamal yang juga menjadi salah satu tim survey untuk pembuatan video dokumenter Saman menyatakan daerah-daerah yang ada di Gayo Lues memberi daya tarik yang luar biasa. Karna daerahnya yang menyimpan banyak keunikan dan belum terkontaminasi dengan kebudayaan luar.

Salah satu keunikan yang membuat Jamal tertarik dengan daerah Gayo Lues adalah seluruh penari saman umumnya tau dengan apa dari maksud yang mereka tarikan. Karna zaman sekarang rata-rata orang hanya bisa menari, tapi tidak tau arti dan tidak memahami dari tarian itu sendiri

Beda dengan masyarakat Gayo Lues yang mulai dari anak-anak sampai remaja sedikit banyaknya tau tentang arti dari yang mereka tarikan. Salah satu keunikan yang dimiliki oleh masyarakat Gayo yang tidak bisa ditemukan didaearah lain adalah ketika kita mengunjungi ke desa mana saja yang kita datangi semuanya bisa menarikan saman ini pertanda bahwa Tari seribu tangan tersebut sangat mengakar di Gayo Lues.

Satu hal lagi yang membuat Jamal takjub adalah penari masyarakat Gayo dalam menarikan Saman tidak hanya oleh kalangan masyarakat biasa saja, tapi mulai dari anggota DPRK, para guru dan seluruh pejabat Gayo Lues semua sangat paham dengan kesenian tradisi daerahnya sendiri khususnya Tari Saman.

Maka dari itu penyanyi yang pernah mengeluarkan album yang berjudul “Nazam” ini mengungkapkan sangat wajar jika tari Saman dinyatakan sebagi warisan budaya dunia. Jamal mengungkapkan walau baru 2 hari berada di Gayo Lues, beliau sudah terinspirasi untuk menggarap komposisi musik yang didalamnya berisikan tentang  bunyi vokal saman dan bunyi bentuk tubuh saman. Itu akan di eksplorasi menjadi sebuah komposisi musik.

Jamal menyatakan harapannya terlalu banyak untuk daearah Gayo khususnya Gayo Lues, karna daerah Gayo memiliki banyak potensi budaya. Salah satu harapannya semoga Pemerintah Provinsi dan pemerintah kabupaten lain dapat mengadopsi dan mempelajari keunikan-keunikan yang terdapat di daerah gayo seperti kesenian dan  budayanya dan cara mereka menjaganya keseniannya itu sendiri.

“Karna berdasarkan cerita masyarakat Gayo bahwa dalam tari Saman itu mempunyai filosofis tentang kepemimpinan,” ungkap Jamal sambil berharap sudah saatnya para pekerja seni diberi ruang serta didukung oleh pemerintah untuk mengeksplorasi keunikan-keunikan yang ada di daearah Gayo Lues.

“Saya takut, keunikan-keunikan yang hanya bisa ditemui di gayo lues hanya bisa dinikmati oleh masyarakat gayo lues saja. Begitu juga dengan Lagu Gayo, tidak boleh lagi lagu gayo itu hanya dinikmati oleh masyarakat gayo itu sendiri,”jelas Jamal.

Beliau mengajak para seniman-seniman Aceh khususnya untuk dapat ikut melihat dan merasakan keunikan-keunikan tentang budaya dan kehidupan masyarakat di daerah Gayo, sehingga dengan begitu akan memberi inspirasi yang menurut jamal sangat berharga dengan tujuan juga untuk ikut serta menjaga kebudayaan-kebudayaan yang dimiliki oleh Aceh yang kaya dengan kebudayaannya.(Supri Ariu/red.04)

Comments

comments