by

In Memoriam Ivan WY: Pertama Hingga untuk Terakhir

BERKENALAN dengan Alm.Ivan WY menjadi sebuah kebanggan tersendiri bagi saya. Sejak kecil, sekitar belasan tahun yang lalu, beberapa lagu ciptaannya sudah menjadi salah satu lagu favorit dalam koleksi album saya. Walaupun saya tidak tau banyak tentang ilmu musik, tapi entah kenapa, suaranya yang ngebass dengan iringan lagu yang ringan dan mudah dihafal itu kerap menjadi sebuah keunikan tersendiri bagi saya. Tapi walaupun begitu, anehnya sejak belasan tahun itu juga saya tidak pernah mengenali siapa sebetulnya penyanyi lagu kesukaan saya tersebut, sampai wajahnya saja saya tidak pernah lihat.

Namun, pada pertengahan bulan Mei 2012 lalu, rasa penasaran dan keinginan yang sebelumnya hanya menjadi sebuah hayalan bagi saya ternyata terwujud. Akhirnya saya bisa berjumpa dengan penyanyi yang lagunya sudah saya dengar sejak saya kecil dulu.

Saat itu saya dan ditambah satu teman saya dari Gayo Lues,  Adhan, diajak oleh Bang Joe, sapaan akrab Jauhari Samalanga untuk menyaksikan acara hasil gagasannya yang bertema Panggung Rindu Akustika Ivan di Takengon. Setelah diajak berjalan-jalan untuk berkunjung kebeberapa tempat teman-temannya, Bang Joe juga mengajak kami untuk singgah di salah satu warung kopi yang bernama warung kopi Batas Kota.

Saat kami sampai disana, kami langsung disambut hangat oleh pemilik warkop tersebut, Bang Win Ruhdi Bathin yang juga ternyata sebagai Pemimpin Redaksi Media Online Lintas Gayo. Saat kami duduk, Bang Joe langsung menceritakan tentang Alm.Ivan WY yang juga akan datang ke warkop tersebut.

“Sebentar lagi Ivan datang,” kata Bang Joe sambil meminum yang disuguhkan saat itu. Rasa penasaran akan sosok Alm.Ivan WY langsung menjalar di otakku, hingga saya sibuk sendiri menyusun kalimta apa yang cocok saya ucapkan untuk penyanyi idola saya tersebut.

Namun, apa yang saya lihat jauh dari perkiraan saya, sosok plantun lagu Renah Rembune yang menjadi salah satu lagu favorit saya itu ternyata jauh dari apa yang saya pikirkan. Dengan pakainnya yang menurut saya sangat sederhana, hanya mengenakan celana training dan kaos oblong berwarna hitam Alm.Ivan menyapa kami dengan hangat.

“Salam kenal, saya Ivan, teman lama Bang Joe. Bagaimana kabar saudara-saudara kita di Gayo Lues?,” tanya Alm.Ivan sambil mengulurkan tanganya kepada kami. Sangat terasa sekali sifat ramah dalam dirinya, walaupun itu pertama kali kami berjumpa, tapi tidak ada sedikitpun terlihat pandangan asing yang keluar dari wajahnya.

Saat itu kami bercerita panjang lebar, juga tentang sedikit kekecewannya terhadap lagunya yang tersebar sebelum waktunya juga sempat dia keluhkan. Namun senyum yang menjadi ciri khasnya itu kembali terlihat di wajahnya.

“Oh ya Bang Joe, kapan kita menyanyi di Gayo Lues,” tanya Alm.Ivan yang langsung memecahkan kesunyian kami yang sebelumnya terlalu serius mendengar cerita tentang lagunya yang dibajak.

Ditemani suguhan kopi batas kota, Alm.Ivan juga sempat menyanyikan sedikit bait lagu manat sedenge atas permintaan saya. Saya sangat senang sekali, bukan berlebihan, tapi bagi saya kenangan itu akan menjadi salah satu cerita harmoni dalam diri saya.

Walaupun pertemuan kami saat itu hanya sekitar dua jam, malam besoknya kami kembali banyak bercerita karna kebetulan malam itu dia menginap dirumah Bang Joe yang kebetulan kami juga saat itu berada disana. Dan saya selalu menyempatkan diri untuk bisa hadir ketempat latihannya saat Alm.Ivan latihan musik untuk persiapannya dalam mengisi acara.

Cerita sampai gerakan lucu yang tunjukan Alm.Ivan hingga larut malam membuat kami tidak mampu menahan tawa. Sungguh, tidak sedikit pun kejadian malam itu yang terlupakan oleh saya sampai saat ini.

Acara Panggung Rindu Akustika Ivan WY yang digagas Bang Joe waktu itu membuat saya takjub sampai tak henti-hentinya bertepuk tangan mendengar lantunan lagu-lagunya.

Saya sangat bersyukur, karna melalui Bang Joe, akhirnya saya bisa berkenalan dengan Alm.Ivan. Hingga walaupun saya sudah kembali ke perantauan saya di Banda Aceh, keinginan saya untuk mengajak Alm.Ivan ke Gayo Lues semakin kuat. Ingin sekali rasanya bisa mengajak Alm.Ivan ke Gayo Lues untuk  menyanyi di tempat tinggal saya.

Tapi akhirnya Tuhan mempunyai rencana lain, pertemuan saya untuk pertama kalinya itu ternyata menjadi pertemuan terakhir. Jum’at, 15 Juni 2012 Sekitar Pukul 17.15 WIB, Alm.Ivan menghembuskan nafas terakhirnya di RS.Datu Beru, Takengon karna mengidap penyakit usus buntu.

Semua kejadian itu seperti mimpi, terakdang saya mengesalkan kenapa baru saat itu saya bisa berjumpa dengannya. Kini saya tidak bisa lagi bertemu dengannya, sekarang saya hanya bisa melantunkan lagu-lagunya saja.  Tapi walaupun begitu, semua harus saya terima dengan ikhlas dan walaupun Alm.Ivan sudah tiada, namun karyanya akan selalu hidup dalam hati saya.(Supri Ariu)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.