by

Ulang Tahun Perkawinan, 5 Februari

Oleh : Subhan


Aku terbangun dari tidur

Terlihatlah istriku, masih tertidur dengan pulasnya. Begitu cantik ia. Sesuatu yang selalu kunikmati, pun di saat lelapnya seperti saat ini. Pada pertigaan malam, menjelang pagi. Sering seperti ada yang membangunkanku, untuk menatap wajahnya berlama-lama. Keremangan lampu kamar, tidaklah menghalangi pandanganku dari wajah wanitaku ini. Wanita yang begitu polos dan memesonaku. Entahlah, di saat seperti ini aku sering berpikir dan membayangkan. Tentang apa yang telah kami alami bersama selama ini. Pada nuraniku sendiri,  kerap kupertanyakan apa yang  telah kuperbuat untuknya. Untuk kebahagiaanya, begitupun sebaliknya.  Jawaban nuraniku menyudutkanku, pada jengah yang begitu dalam. Acapkali aku protes, pada nuraniku yang terlalu berpihak padanya. Tapi selalu saja aku kalah, seperti kali ini.

Kulirik jam dinding kamar, malam sudah berakhir. Lapat-lapat terdengar suara azan dari meunasah. Aku turun dari pembaringan. Dengan kantuk yang sudah sembilan puluh persen hilang, aku berwudhu dan langsung shalat subuh. Sengaja tidak kubangunkan istriku sepagi ini. Karena kutahu tamu bulanannya, sudah datang lagi sejak dua hari yang lalu. Masih kuingat, kala ia berbisik padaku dengan suara yang tidak biasanya. Saat aku pulang dari kerja, dengan suara yang tidak bergairah. Ditambah, tidak dihidangkannya kopi panas yang menjadi kebiasaanku di sore hari.

‚ÄúAku sedang tidak boleh shalat, Bang. ‚ÄĚ

Aku sendiri, pada waktu itu sejujurnya tidak mengerti. Mengapa kali ini, ia begitu kecewa dengan kedatangan tamunya itu. Aku hanya tersenyum, tanpa berkata apa-apa. Malam, aku pun akhirnya dapat mengerti apa yang buatnya kecewa. Itupun setelah diingatkannya tanggal hari itu. Hari ketiga di bulan Februari. Astaghfirullah, itu dia! Berarti dua hari lagi, adalah hari ulang tahun pernikahan kami yang kedua.

Begitu pelupanya aku, keluhku  waktu itu. Padahal di hari ketiga, bulan Februari.  Aku telah menyetujui permintaan bosku, untuk berangkat ke Bukit Tinggi selama seminggu. Dan aku tahu tugas itu, tidaklah mungkin kukembalikan hanya untuk urusan pribadi. Artinya tepat tanggal lima aku pasti  harus berangkat meninggalkannya. Bah!

Karena itulah, aku memutuskan untuk merayakannya secara  sederhana. Bersama kakak dan adikku, kami makan malam di sebuah restoran. Kupikir, semoga dengan ini tidaklah membuatnya  terlalu kecewa. Saat keberangkatanku nanti, di ulang tahun pernikahan kami. Anehnya justru kemudian, aku merasa bahwa suara kekecewaan itu bukanlah semata karena keberangkatanku ke Bukit Tinggi. Sepanjang jalan antara rumahku dengan restoran, masih saja terngiang-ngiang ucapannya di telingaku. Tiba-tiba saja dalam kesimpulan yang kureka-reka, aku mulai dapat memahaminya belakangan ini. Adalah perasaan rindu. Ya, rindu pada hadirnya buah hati.  Telah kami tunggu kehadirannya selama genap  dua tahun di hari kelima Februari 2000 ini. Tapi justru harapan kerinduan itu, masih belum terpenuhi. Tidak juga tanda-tandanya. Entahlah, apakah aku juga kecewa seperti yang kuduga akan perasaannya?  Yang kutahu, dalam ketidakberdayaanku. Semuanya kumuarakan pada doa-doa dalam setiap harapanku. Seperti doa-doaku pada siang, sore, malam dan pagi sebelumnya.

“Ya Allah, dalam setiap penantiaanku. Aku selalu khawatir, akan ketidakhadirannya.  Karena itu, janganlah Engkau biarkan kami selalu menunggu. Andaipun ia benar-benar tidak akan hadir, kuatkanlah kami untuk selalu menantinya. Dalam kesepian yang Engkau titipkan kepada kami karena tanpa kehadirannya, teguhkanlah cinta kami berdua. Amin.“

Selesai shalat subuh, Kulihat koper yang akan kubawa sudah siap di sudut kamar. Tadi malam istriku mengemasinya. Lapat-lapat kulihat ada sebuah amplop surat di atas koper tersebut. Dalam keherananku, kuraih amplop surat itu. Ternyata untukku. Surprise! Surat dari istriku sendiri. Sesuatu yang tidak biasa memang. Seingatku belum pernah ia menulis surat seperti ini. Apalagi disampul depan tertulis, ‚ÄúDibuka saat dalam perjalanan ke Bukit Tinggi.‚Ä̬†¬†Aku tersenyum.

Kutatap wajah istriku, wajah itu tampak tersenyum dalam lelapnya.  Senyuman yang tidak pernah buatku bosan, untuk menatapnya. Dialah wajah yang sering kucari-cari dalam anganku, saat aku jauh darinya. Wajah yang kucoba mereka-rekanya, dalam bulan purnama di setiap perantauanku. Itu selalu menjadi rahasiaku, yang tidak pernah kuungkapkan padanya selama ini. Dan kupikir, biarlah itu seperti apa adanya. Biarlah itu menjadi keindahan tersendiri, dalam perasaanku tentangnya.

Dengan perasaan sayang yang tidak terbendung, kubelai rambutnya. Seperti terusik olehku, ia menggeliat memelukku. Hal yang paling sering dilakukannya, saat tidurnya terganggu. Namun tiba-tiba ia melonjak bangun. Matanya langsung mencari-cari ke arah jam dinding kamar kami.

‚ÄúWah, sudah jam enam. Kenapa Abang tidak membangunkanku dari tadi? ‚ÄĚ Katanya sambil melepaskan pelukannya secara halus dariku, aku hanya tersenyum.

‚ÄĚAku akan menyiapkan sarapan. Abang berangkat pagi ini kan?‚ÄĚ Sebentar saja ia pun telah berada di dapur. Memulai kesibukannya, sebagai seorang ibu rumah tangga. Sementara aku menerawang dengan rencana perjalananku.

Pukul 07.05 aku beranjak mandi. Selesai mandi pagi dan berpakaian, ternyata sarapan sudah dihidangkan di atas meja. Dia duduk di sampingku. Menyendokkan nasi goreng di piringku. Itupun kebiasaannya yang sudah dibawanya, sejak boyong menjadi pengantinku. Tidak banyak yang kami bincangkan sambil makan. Entahlah, pagi ini rasanya akupun enggan berdiskusi. Surat yang diletakkannya di koperku pun tidak disinggungnya. Yang jelas sudah kuselipkan di sakuku. Pagi ini, istriku lebih banyak membisu.  Seperti asyik dengan sarapannya.  Hanya adikku, yang banyak bercerita tentang kondisi saat ini yang dibacanya dari surat kabar.

Menurutku, layaknya hari ini tidak merupakan hari istimewa. Tidak ada ucapan selamat. Tidak ada cium sayang, juga tidak ada hadiah apapun. Hari yang sangat biasa. Sampai saatnya keberangkatanku, pukul 08.00.  Tidak ada inisiatif dariku maupun dari istriku, untuk membuat hari ini terasa lebih istimewa. Padahal sebenarnya, aku ingin melihat apa yang akan dilakukannya menyambut hari jadi kami ini. Ternyata, begitu biasa.

Akhirnya, aku pamit untuk berangkat. Istriku melepaskanku dengan senyumnya. Pukul 09.30. Dalam bis yang membawaku ke Bukit Tinggi, kubuka surat dari istriku itu. Kubaca surat itu yang ditulisnya dengan huruf yang tidak terlalu rapi, mungkin ditulisnya dalam keadaan terburu-buru semalam.

Assalamuallaikum, sayangku.

Selamat ulang tahun perkawinan kita.

Masih kuingat setahun yang lalu, pun Abang pergi keluar kota persis di saat-saat yang menjadi hari penting kita. Hari itu seperti hari ini, kepergiaan Abang kulepas. Dengan tanpa keistimewaan yang seharusnya kuberikan, layaknya seorang istri terhadap suaminya. Itu  yang membuatku tidak tentram beberapa hari ini.  Juga pada setahun yang lalu. Sungguh

walaupun kutahu Abang pasti memahaminya, bahkan tidak menuntut apapun. Tapi kumohon, maafkan aku Bang.  Bagiku belumlah lengkap sebuah keistimewaan, kecuali memberikan keistimewaan itu untukmu, Bang. Jangan lupa shalat dan berdoa. Hati-hati di jalan. Makan yang teratur.

Salam cinta dan sayang. 

 Istrimu.

Duhai, betapa perjalanan belum lagi sampai di tujuan. Tiba-tiba saja, aku merasa ingin pulang memeluknya dengan segunung kerinduaan.

Bukit Tinggi, 09-Feb-2000

Hotel Bagindo, kamar 207

BIODATA;

Penulis adalah Karyawan Telkom Aceh

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.