by

Pak Sis, Inginkan Gayo Selain Kopi Juga Apel

Despot Linge | Lintas Gayo : Siapa sangka dan tak banyak diketahui orang jika di Tanoh Gayo persisnya di Kampung Despot Linge Kecamatan Linge sekitar 6 kilometer dari Isaq ternyata sejak beberapa tahun belakangan ini seorang petani asal Batu Malang Jawa Timur, Siswanto berhasil membudidayakan buah Apel, buah yang tergolong berkelas dimasyarakat Indonesia umumnya.

Pak Sis, panggilan akrab sosok berkumis dan suka pakai topi koboi warna hitam ini mengawali kisahnya, Minggu (6/3) dengan mengaku ditempat asalnya hanya sebagai tukang potong rumput dan pekerja upahan memetik apel. Datang ke Aceh Tengah melalui program transmigrasi tahun 1995. Memulai hidup dengan menanam Sawi untuk menutupi kebutuhan keluarganya. Tahun demi tahun dilampaui di RT 3 Despot Linge dengan menggantungkan hidup sebagai petani kopi dan sayur-sayuran. Merasa tak cukup, Pak Sis berdagang sayur-sayuran keliling sekitar kampung tersebut.

Saat konflik mendera Aceh, Pak Sis dan keluarga merasa tak nyaman lagi dan berujung dengan keputusan harus menghindari konflik yang saat itu belum ada tanda-tanda akan damai. Tanah, rumah dan harta benda lainnya dijual dengan murah termasuk ratusan pohon apel dilahan 0,5 hektar yang sudah mulai “belajar berbuah”.

September 2004, Pak Sis pulang kampung ke Batu Malang yang ternyata tidak membuat hidup keluarga Pak Sis lebih baik. Tak betah di kampung asal, Pak Sis dan keluarga memutuskan kembali ke Gayo dengan segala resiko akibat keamanan yang belum pulih.

Di Despot Linge, Pak Sis tak punya apa-apa lagi, semua sudah ludes terjual. Keluarga Sis terpaksa harus numpang sana-sini dan kerjakan apa yang bisa dikerjakan untuk tutupi kebutuhan hidup. “Saat itu yang penting halal,” ucap Pak Sis lirih.

Pak Sis mengerjakan lahan kopi milik orang seluas 2 hektar dengan perjanjian setelah kopi mulai berproduksi, lahan dibagi dua dengan pemilik tanah. Bulan Juni 2006, Pak Sis akhirnya memiliki tanah dari hasil bagi.

Bermula dari 4+4+8=16

Selama berada di Gayo,  dengan berbagai keperluan Pak Sis bolak-balik 3 kali ke Batu Malang. Dan saat balik pulang ke Takengon selalu membawa bibit Apel. Yang pertama dan kedua membawa 4 batang, dan ketiga 8 batang. “Saya tak mengira bibit tersebut bertahan hidup sampai ke Despot Linge karena menempuh perjalanan berhari-hari dengan Bus,” kata Pak Sis.

Ke-16 batang bibit apel tersebut saya tanam dan saya rawat dan akhirnya mulai berbuah banyak saat berumur 2.5 tahun, kata Pak Sis. Bukan itu saja, 200 batang lainnya juga sudah berproduksi dan telah menghasilkan tidak kurang dari Rp.250 juta kekocek Pak Sis dan tentu sudah larut untuk berbagai kebutuhan.

Satu batang apel, diungkap Pak Sis bisa menghasilkan buah sampai 60 kilogram dengan masa panen setiap 6 bulan sekali dengan total panen hingga 1.5 ton permusim panennya. Dan perkilonya, dibandrol Rp.25 ribu. “itu tidak termasuk yang dimakan ditempat,” kata Pak Sis tersenyum. Para pengunjung boleh pilih dan petik sendiri apel-apelnya, tambahnya.

Uang yang diperoleh hingga ratusan juta, ternyata bukan hanya bersumber dari buah, tapi juga dari bibit yang dijual Pak Sis Rp.70 ribu perbatang dan sudah terjual tidak kurang dari 4000 batang bibit.

Ada 5 Jenis Apel di Despot Linge

Ternyata apel yang dibudidayakan Pak Sis banyak varietasnya, ada 5 jenis varietas dengan sejumlah karakter dan rasa yang berbeda, apel Mana Lagi, apel Ana, apel Rome Beauty, dan apel Wang Lin.

Dirincikan Pak Sis, apel Mana Lagi itu berwarna hijau kekuning-kuningan, rasa manis, dari berbunga hingga buahnya layak panen butuh waktu 6 bulan. Lalu apel Ana, buahnya agak lonjong berwarna merah, rasanya agak asam dan banyak mengandung air.

Selanjutnya apel Australia, bentuk buah lonjong berwarna hijau dan terdapat bintik-bintik kuning, rasanya manis dan banyak mengadung air. Apel Romi, bentuk buah bulat, warna merah dan hijau, rasanya manis. Dan terakhir disebutkan apel Wang Lin, warna buah hijau, kulitnya agak kasar, rasanya manis dan agak renyah.

Nyatakan Siap Bantu Petani Apel Lain

Pak Sis yang mengaku hingga bulan Maret 2011 pohon-pohon apelnya sudah memberinya rezeki mencapai Rp. 8 juta ini menyatakan siap membantu dengan berbagi ilmu kepada siapapun yang ingin membudidayakan apel di Dataran Tinggi Gayo, Aceh Tengah dan Bener Meriah.

“Saya sangat ini warga Tanah Gayo ini tidak hanya tergantung ekonominya dari kopi dan sumber lainnya, karenanya saya siap bimbing rekan-rekan yang ingin membudidayakan apel dan hingga saat ini sudah beberapa orang yang saya bantu ajarkan teknis budidaya apel,” ujar Pak Sis.

Dicontohkan seorang petani di Wih Ilang Kecamatan Pegasing, Hamdan yang membeli bibit dari Pak Sis sebanyak 1200 batang. Pak Sis bertanggung jawab atas perawatan batangnya hingga belajar berbuah dan kini sudah berjalan selama 6 bulan.

“Kalau nanamnya cuma beberapa batang, tentu saya tidak bisa bantu ngurusnya. Tanamlah ratusan batang, Insya Allah saya bantu merawatnya,” ucap Pak Sis sambil tertawa.

Pengakuan Pak Is, saksinya berjanji adalah Bupati Aceh Tengah, Ir. H Nasaruddin yang sempat memanggilnya 2 kali. “Pak Nas meminta saya membimbing petani yang ingin membudidayakan apel, dan saya menyanggupinya walau Pak Nas sendiri belum pernah datang melihat langsung pohon apel di kebun saya,” ungkap Pak Sis sambil menyatakan Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah belum pernah mensupport bantuan pengembangan terhadap usaha tersebut, juga kepada kelompok taninya, Sumber Sari.

Pengakuan pak Sis, kelompoknya malah sudah pernah dibantu Dinas Pertanian Provinsi Aceh dengan membantu bibit sebanyak 900 batang bibit apel berikut pupuk kandang 5 ton dan fungisida 100 kilogram.

“Tahun ini, kelompok tani kami mungkin akan dibantu lagi oleh Dinas tersebut dan dirinya sudah diminta menyiapkan lahan seluas 5 hektar. Lahan sudah saya penuhi dan mudah-mudahan dapat terealisasi demi perbaikan ekonomi anggota kelompok tani kami,” harap Pak Sis.

Tanoh Gayo Sentra Produksi Apel

Cita-cita besar ada dibenak Pak Sis. Kakek 2 orang cucu ini ingin dalam waktu yang tidak berapa lama lagi Tanoh Gayo selain sebagai salah satu produsen kopi terbesar di Indonesia juga sebagai pusat sentra apel. “Dibanding Malang, tanah disini lebih mendukung kok dan buah apelnya juga lebih enak, kenapa tidak petani-petani Gayo kaya dengan buah apel,” kata Pak Sis bersemangat.

Dijelaskan, dengan lahan 100 hektar yang dipenuhi pohon apel, belum cukup untuk memenuhi kebutuhan pasar di Aceh. Belum lagi ke provinsi lain di Sumatera atau malah eksport ke luar negeri.

“Masa panen bisa kita atur sesuai kondisi pasar, permintaan pasa dan harga juga stabil, pemupukan murah meriah dengan pupuk kandang dan ampas kopi. Jadi tak ada alasan jika apel bisa mendongkrak ekonomi petani Gayo,” simpul Pak Sis.

Selanjutnya dijelaskan, perhektarnya pohon apel bisa ditanami hingga 600 batang dengan jarak tanam 4 meter. Berbeda dengan di Batu Malang dengan jarak tanam 3 meter. “Disini tanahnya jauh lebih subur di banding Malang, jadi jarak tanamnya lebih jarak,” kata Pak Sis.

Hasilnya tanam apel sudah bisa dinikmati saat pohon berumur 2,5 tahun dan produksi tidak turun lagi saat umur 5 tahun hingga 40 tahun dengan produksi mencapai 15 ton perhektarnya. “Hitung aja duitnya dengan harga Rp.10 ribu saja perkilonya,” ucap Pak Sis yang hampir setiap hari kedatangan tamu dari segala penjuru Aceh hanya sekedar melihat dan mencicipi buah apelnya.

Untuk umur apel, dipaparkan Pak Sis bisa mencapai 40 tahun dan mulai puncak produksi sejak umur 5 tahun. Sebelumnya disebutkan mulai belajar berbuah saat berumur 2,5 tahun. “Dengan perawatan atau penanganan yang baik, apel bisa mulai belajar berbuah saat berumur 4 bulan,” pungkas Pak Sis yang beristrikan Sri Suyati ini.

Selain itu, lanjutnya, hamparan kebun apel juga menjadi daya tarik sendiri dalam mendukung agrowisata Tanoh Gayo. “Saya punya pohon apel beberapa saja, tapi orang berkunjung sangat banyak. Selain melihat-lihat apel, mereka jauh-jauh kesini juga mencicipi dan membeli apel untuk dibawa pulang,” pungkas Pak Sis yang mengaku buah apel yang dimakan ditempat tidak dihitung bayar alias gratis. (Aman Zaghlul/Dadong).

Comments

comments

News