by

SMA Modal Bangsa Teliti Perkawinan Antar Suku di Dataran Tinggi Gayo

Lintas Gayo | Jakarta – Selain Rintisan Sekolah Menengah Atas Bertaraf Internasional Negeri 4 Takengon, dalam Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2012, SMA Modal Bangsa juga meneliti tentang Gayo dengan tajuk Perpaduan Corak Kebudayaan Gayo dan Jawa dalam Perkawinan Antar Suku di Dataran Tinggi Gayo.

 “Perpaduan kebudayaan Gayo dan Jawa dalam perkawinan yang terjadi di Gayo sangat menarik,” kata Nita Tirmiara, Ketua Peneliti di lokasi dilangsungnya pameran peserta OPSI, Gedung A Kemendikbud Senayan Jakarta, Selasa (9/10/2012)

Putri asal Takengon yang didampingi dua anggota peneliti lainnya itu Putri Nuzulil Yati dan Aqmarina Anwar serta Drs. Bukhari selaku Pembimbing, mengungkapkan, fenomena perkawinan antarsuku di dataran tinggi Gayo, khususnya di Takengon sudah berlangsung relatif lama dan lumrah terjadi.

“Di sana, banyak bermukim suku Jawa sehingga menyebabkan perkawinan campuran,” tegas Putri. Lebih lanjut, ada pelbagai alasan yang membuat suku Jawa mengunjungi Takengon, terang Aqmarina, mulai dari perubahan taraf hidup karena pendidikan dan pekerjaan. Disamping itu, karena adanya sanak saudara yang telah lebih dulu berada di Takengon.

Dalam penelitian yang berlangsung sejak tanggal 20 Februari-15 Juli 2012 itu, ditemukan bahwa setelah kedua belah pihak melaksanakan perkawinan, mereka tidak lagi memaksakan diri untuk mempertahankan kedua adat atau salah satu adat diantara mereka.

Dengan demikian, keharmonisan dalam keluarga dan bermasyarakat di lingkungan yang mereka tinggali bisa terjaga. Namun, mereka tetap mengikuti acara-acara adat di sekitar permukiman mereka.

Selanjutnya, setelah perwakinan berlangsung, pola komunikasi antara kedua belah pihak menggunakan bahasa Indonesia. Tapi, mereka masih tetap mempertahankan bahasa daerah masing-masing. Terutama, saat diadakannya acara keluarga.

Terakhir, tata cara pelaksanaan perkawinan campuran antara suku Gayo dan suku Jawa menggunakan kedua adat. Pada hari pertama menggunakan adat dari pengantin perempuan, sementara hari kedua menggunakan adat dari pengantin pria.

“Temuan ini betul-betul menarik,” ujar Putri dan Aqmarina yang berdarah Aceh.(LG-006/red.04)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.