by

PERONTONGEN

Catatan: Muhammad Erwin Dianto*

ARI kute Takengon..n
Ine aku pe berlangkah wow..ine..ee
Male munyambung sekulah ine.o.oh
Asal sesire muranto
Ine renyele ujien……
Kati engok bang kuliah wow..ine..e
Buge kase bang mutetah ine..wow..o
Ine nong nasep kupuren
Pengumumen tangkuh le akupe kalah wo..ine..e
Ari karena susah nenong peruntungen
Keta ku suasta bang aku kuliah….h
Wo…..ine………….e

Berkejang payah nge ku tempoh jelen
Jep tanggal tige puluh….
Sabe aku pe mutenah wo..ine…
Asal ari urang tue ine..wo
Aku muniro keremen
Tapi kengon besilo ni……..!
Gere pernah nae sawah..wow..ine
Oya ari karena susah ine….wo
Ni nong ama ine…e

Mungenal mangan se I Aceh Tengah wow..ine..e
Itatang barang pemerah ni kero
Mejen gere mayo motor Aceh Tengah wow…ine
Lagu nge betingkah nong laeng ni tuke
Olok di sayang o nasep ku sayang
Munatang barang pemerah ni kero
A here si enge tamat….at
Aku pe ari kuliah wow..ine.e
Sabe buet ku peperah wow..ine..e
Gere pernah demu illen
Ku engon oya pe seni…
Makin mokot makin payah..wo..ine.e
Nge sawah besiloni ine…o

Gere ara mulowongen
Lagu sipercume ara pe ijajah wo..ine..e
Kusi kumah-kumah nge ken penyesalen
Deleni belenye singe kukuah wo.ine…e
Ahere nge turah se munebang uten
Olok disayang o nasep ku sayang
Munatang barang pemerah ni belenye
Olok di sayang lao ku remenang
Turah munebang wan tubuh nge tue

.

Tidak semua hal yang kita lalui dalam hidup ini berjalan mulus, ada saja rintangan dan hambatan yang melanda kita sewaktu-waktu, misalnya; ketika seseorang dalam perjalanan dari satu daerah kedaerah lain ada saja hambatan yang menggangu, mulai dari bocornya ban motor, hujan, kemacetan, bahkan kecelakaan yang merengut nyawa. Begitu juga sebaliknya, ada yang tidak mendapatkan sebuah hambatan sedikitpun dan inilah yang kita harapkan dalam setiap perjalanan. Oleh karenanya, berdoalah setiap sebelum beraktifitas.

Begitu juga perjalanan hidup, tidak semua manusia menjalani hidupnya dengan mudah. Namun, perjalanan hidup manusia dalam menjalani hidup ini bermacam-macam, ada yang selalu berusaha dengan bekerja keras tetapi tidak menuai hasil maksimal, ada juga yang usahanya tidak seberapa, akan tetapi hasilnya sangat tidak diduga keuntunungannya. Terlepas dari hal itu semua, sebagai makhluk yang diberi akal pikiran dan beragama hendaknya kita selalu mengiringi usaha kita dengan berdo’a.

Berbicara perjalanan hidup, penulis jadi teringat dengan sebuah lagu. Lagu Gayo tepatnya, mengisahkan perjalanan hidup seseorang pria yang hendak merantau dan mengadu nasib dengan kuliah diluar daerah dengan kemauan yang kuat untuk menuntut ilmu di Kota besar dengan harapan mendapatkan hasil berupa ilmu dan mendapat pekerjaan yang layak setelah lulus nantinya. Akan tetapi, sulitnya masuk perguruan tinggi negeri favorit dan ketatnya persaingan untuk mendapatkan salah satu kursi di PTN yang ia idam-idamkan, membuatnya sedikit frustasi. Namun, dengan tekad yang kuat ia tetap berusaha dan selalu memanjatkan do’a walaupun kehendak Tuhan berbeda. Akhirnya, ia terpaksa masuk ke perguruan tinggi swasta yang biayanya relatif tinggi.

Mungkin pembaca semua teringat atau lupa-lupa ingat apa judul lagunya atau siapakah penyayinya? ‘Perontongen’ itulah dia, merupakan sebuah judul lagu yang dinyanikan langsung oleh penciptanya yaitu Alkirman, music Abadi/Ayu’s, Produksi AYU’S RECORD. Lagu ini memberikan kesan moral, terutama bagi para pelajar perantau asal Dataran Tinggi Tanoh Gayo khususnya Takengon yang tengah mengadu nasib dibeberapa daerah di Indonesia atau bahkan luar negeri.

Pesan-pesan apa saja yang tersirat pada lagu tersebut? Banyak sekali. Bila diresapi terkaang kita akan merenungkan apa yang akan saya lakukan setelah lulus kuliah. Mencari kerja? Tentu, karena pada dasarnya kuliah selain menuntut ilmu dijenjang yang lebih tinggi pastinya sebagai pra-syarat untuk mencari kerja yang layak di era sekarang ini.

Lirik yang dilantunkan pada lagu ini pun sangat menyentuh, misalnya;

“Ari kute Takengon..

Ine aku pe berlangkah wow..ine..ee
Male munyambung sekulah ine.o.oh
Asal sesire muranto

‘Dari kota Takengon

Ibu,  aku berjalan
Untuk menyambung sekolah

Sekalian merantau

Ini adalah salah satu bait lirik yang memberikan pelajaran kepada pendengarnya, bahwa tokoh yang diceritakan dalam lagu tersebut memiliki tekad yang kuat untuk melanjutkan pendidikan. Tidak hanya sekedar kuliah, tetapi ia berniat untuk merubah hidupnya menjadi lebih baik. Ditandai dengan keinginan kuatnya merantau, mencari ilmu, mencari pengalaman baru, hidup madiri, jauh dari orang tua, menjadi seseorang yang beguna yang sebelumnya bukanlah siapa-siapa dan tentunya memanfaatkan waktu untuk menuntut ilmu yang telah diberikan orang tuanya dengan tekad agar tidak mengecewakan keduanya.

Akan tetapi, impian manis yang semula telah dirancang dengan sedemikian rupa menariknya, mendapat batu sandungan berupa lobang-lobang yang tidak ia perkirakan sebelumnya, misalnya ‘Pengumumen tangkuh le akupe kalah wo..ine..e’ (pengumuman keluar dan sayapun kalah), ‘Ari karena susah nenong peruntungen’ (karena susahnya mendapatkan keberuntungan), ‘Tapi kengon besilo ni……..!, Gere pernah nae sawah..wow..ine, Oya ari karena susah ine….wo, Ni nong ama ine…e’ (tetapi kulihat sekarang ini…!, tek perlah lagi dating oh ibu, itu karena susah ibu, ini saya ayah ibu)

Walau bagaimanapun rintangan serta hambatan yang menerpa kepada tokoh dalam lagu tersebut, ia tetap tegar, tetap tabah walaupun harus menutupi segala kebutuhan hidupnya diperantauan dengan membanting tulang sembari kuliah yang tentunya hal ini sangatlah berat sekali. Namun berkat usahanya, jerihpayahnya serta do’a orang tua akhirnya ia memperoleh gelar Sarjana.

Namun sayang sekali, ending dari lagu ini tidak sebanding dengan usaha serta kerja keras yang dikisahkan dalam lagu tersebut. Seperti lirik berikut;

Olok disayang o nasep ku sayang
Munatang barang pemerah ni belenye
Olok di sayang lao ku remenang
Turah munebang wan tubuh nge tue

Itulah Perontongen atau keberuntungan tidak memandang siapa dia, siapa orangnya, seberapa keras usahanya, apakah petani, PNS, pelajar, pengusaha atau bahkan mahasiswa. Namun penulis menyimpulkan, bahwa apapun usaha yang kita lakukan, apa saja pekerjaan yang kita kerjakan selagi itu halal maka keberkahan akan senantiasa berdatangan pada kita. Keberuntungan juga datangnya tidak diduga-duga, Tuhan-lah yang memiliki rencana dibalik itu semua. Tugas kita sebagai manusia adalah mensyukurinya serta senantiasa berdo’a karena masih dalam lindungan Allah subhanauwata’ala. (erwiniks@gmail.com)

*Mahasiswa Semester 2 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Asal Jagong Jeget

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.