by

Flash Gordon dan Pegawai Negeri

Di awal tahun 80-an, siaran televisi baru masuk ke kota tempat tinggal saya. Di kota saya waktu itu juga belum semua orang memiliki pesawat televisi. Di antara yang tidak banyak itu pun rata-rata hanya memiliki TV hitam putih. Lalu saat itu satu-satunya stasiun televisi adalah TVRI.

Karena hanya ada satu stasiun TV, kami pada zaman itu jadi hafal semua acara yang ditayangkan di televisi yang memulai siaran setiap jam 4.00 sore. Bagi kami yang masih anak-anak, acara yang paling kami tunggu-tunggu adalah film kartun yang ditayangkan tiap jam 4.30 sore.

Dari sekian banyak film kartun yang selalu kami tunggu-tunggu itu, film Flash Gordon adalah salah satu film favoritku dan kawan-kawan seumuranku. Film ini berkisah tentang kehidupan di masa depan ketika teknologi sudah sedemikian tingginya dan mampu melakukan perjalanan antar Galaksi. Yang tentu saja digambarkan dengan imajinasi pembuatnya.

Ada hal menarik jika sekarang saya mengingat kembali adegan-adegan dalam film kesukaan saya di masa kecil itu. Salah satu yang paling menarik bagi saya adalah bagaimana film ini menggambarkan bentuk komputer canggih di masa depan. Dalam film Flash Gordon yang saya sukai itu, komputer canggih digambarkan dengan bentuk yang besar dalam sebuah ruangan sebesar kamar dengan layar raksasa dan tombol-tombol yang luar biasa banyaknya.

Bukan hanya Flash Gordon, film-film lain yang berkisah tentang teknologi di masa depan yang dibuat pada masa-masa itu ya juga setali tiga uang dalam menggambarkan komputer canggih masa depan.

Pada masa itu, saya yakin pembuat film Flash Gordon ini tidak merasa ada yang salah dengan penggambaran komputer canggih berdasarkan imajinasinya tersebut. Pada masa film itu dibuat, pembuat film Flash Gordon ini juga sama dengan orang-orang lain yang hidup sezaman dengannya terbiasa dan hanya mengenal komputer biasa yang tingkat kecanggihannya berbanding lurus dengan besarnya ukuran. Karenanya berdasarkan keadaan pada saat itu, dengan data yang tersedia saat itu. Logika orang-orang pada masa itu adalah, untuk membuat sebuah komputer yang sangat canggih, yang mampu mengolah dan menyimpan data dengan kapasitas yang sangat besar, tentu dibutuhkan ukuran yang super besar pula. Berdasarkan logika seperti itu, Maka ketika pembuat film Flash Gordon membayangkan komputer canggih di masa depan, dia gambarkanlah komputer itu seukuran ruangan.

Tapi ketika imajinasi pembuat film Flash Gordon tentang penampilan komputer canggih waktu saya kecil dulu itu akan telihat sangat konyol dan lucu jika kita benturkan dengan realitas penampilan komputer canggih yang ada sekarang, yang ternyata berukuran mini.

Kenapa itu bisa terjadi, karena dalam dinamika ilmu pengetahuan, teknologi chips ditemukan dan berkembang, sehingga ukuran pun tidak lagi menjadi masalah. Orang yang hidup pada masa film Flash Gordon sama sekali tidak bisa membayangkan bahwa di masa depan ada sebuah telepon genggam bermerk blackberry dengan ukuran yang lebih kecil dari telapak tangan tapi mampu menyimpan dan mengolah data dengan kapasitas yang jauh lebih besar dari komputer rumahan paling canggih yang ada saat itu.

Kalau saja pada zaman itu, si pembuat film Flash Gordon ini menggambarkan komputer canggih yang cuma seukuran telapak tangan. Tentu dia akan menjadi bahan tertawaan orang-orang sezamannya karena dianggap tidak logis.

Kejadian ini persis seperti yang digambarkan dalam sebuah adegan di film “Back to Future” yang dibintangi Michael J. fox. Adegan itu adalah ketika karakter yang diperankan oleh Michael J. fox ditanyai oleh sekelompok orang dalam sebuah Bar. “Kalau kamu benar dari masa depan, siapa presiden Amerika di zamanmu di masa depan itu?”, tanya salah seorang pengunjung Bar.

“Ronald Reagan”, Jawab Michael J. Fox, dan tawa pun meledak di seantero ruangan.

Mereka tertawa, karena pada masa yang digambarkan dalam film itu, Ronald Reagan masih menjadi seorang bintang film terkenal dan berdasarkan atas realita zaman itu lah mereka merasa mengatakan Ronald Reagan sebagai presiden Amerika adalah sebuah lelucon. Bagi orang masa itu, kisah ini mungkin sama lucunya jika sekarang ada seseorang yang mengaku dari masa depan mengatakan kepada kita bahwa presiden Indonesia pada masa itu adalah Tukul Arwana dan Ruhut Sitompul sebagai wakilnya.

Kalau anda sempat menonton film-film futuristik lain pada masa tahun 80-an atau 90-an, anda pun bisa menyaksikan dengan jelas kalau meskipun film itu menceritakan tentang kisah di masa depan. Tapi karena informasi dan data yang tersedia pada zaman itu masih terbatas sampai yang ada pada saat itu saja, maka suasana masa depan dalam film-film itu pun kita lihat tidak bisa terlepas dari suasana kekinian saat film itu dibuat.

Keadaan ini persis sama dengan apa yang ada dalam bayangan para orang tua di saat saya masih kecil dulu. Pada masa itu, ketika menyekolahkan anak, para orang tua membayangkan anak-anak mereka akan meneruskan sekolah untuk kemudian menjadi Insinyur, Dokter, Guru dan jenis-jenis pekerjaan yang ada di masa itu.

Saat itu tidak seorang tua pun yang bisa membayangkan nanti anaknya akan menjadi teknisi komputer, Hacker, web designer, pemilik konter HP, konsultan politik, sutradara sinetron, komentator sepak bola atau motivator.

Waktu kecil, saya bersama orang tua saya hidup di Kota Kecil bernama Takengen yang tidak memiliki terlalu banyak dinamika.

Pekerjaan orang-orang di kota ini terbatas pada pegawai negeri, petani/nelayan, pedagang kelas eceran dan sedikit pedagang komoditas kopi. Usaha lain adalah usaha angkutan lengkap dengan profesi sopir dan kernet serta sedikit yang beruntung menjadi rekanan proyek pemerintah.

Di kota ini tidak ada industri skala besar, tidak ada bisnis trading dengan skala raksasa, tidak ada pasar saham yang penuh dinamika.

Realitas yang seperti ini membuat masyarakat di kota kelahiran saya ini memiliki pola pikir dan cara pandang yang khas terhadap yang namanya kesuksesan yang tentu saja berkaitan erat dengan kemapanan secara ekonomi.

Di kota kelahiran saya ini orang-orang yang paling terlihat mapan secara ekonomi adalah para pejabat pemerintahan, dan orang yang terlihat paling kaya di kota ini adalah bupati. Selanjutnya ada rekanan proyek pemerintah, dan agak ke pinggir ada pedagang komoditas kopi.

Orang-orang yang memiliki banyak uang seringkali adalah para rekanan proyek dan pedagang komoditas kopi, tapi orang Gayo di Takengen juga sering menyaksikan kebangkrutan yang dialami oleh orang yang menjalani profesi ini.

Para pedagang kelontong, pemilik warung nasi dan warung kopi serta penjual kain dan alat elektronik semuanya adalah etnis minang, Aceh dan Cina. Jadi seperti apa kehidupan keseharian mereka kurang begitu dekat dirasakan orang Gayo dan tidak begitu banyak menjadi bahan obrolan dalam percakapan sehari-hari.

Begitulah dalam realitas keseharian saya waktu kecil yang hidup dalam dinamika sosial masyarakat Gayo di Takengen dulu.

Di Takengen pada masa itu, meskipun menjadi rekanan proyek dan pedagang komoditas kopi pada kenyataannya memiliki potensi menghasilkan lebih banyak uang, tapi jenis pekerjaan ini juga dianggap beresiko membuat orang kehilangan uang. Karena itulah pekerjaan yang dianggap paling menjanjikan adalah PEGAWAI NEGERI. Status sebagai pegawai negeri adalah jalan tol untuk mendapatkan pasangan idaman dengan mudah. Salah satu daya tarik utama profesi ini adalah adanya uang PENSIUN.

Penggambaran teknologi canggih dalam film -film masa lalu dan tergila-gilanya orang-orang di Takengen pada profesi pegawai negeri pada saat saya masih kecil dulu adalah bukti kalau manusia memang cuma mampu berpikir dan berimajinasi dalam batas-batas pengalamannya sendiri saja.

Cuma bedanya jika film-film futuristik masa itu menampilkan khayalan yang kas masa itu karena memang manusia masa itu sama sekali tidak bisa membayangkan keadaan sekarang karena ada banyak hal yang tidak bisa diduga (perkembangan teknologi seperti berkembangnya HP dan Internet, keruntuhan Uni Sovyet, maraknya terorisme dsb) yang tidak bisa diperkirakan oleh ahli statistik dan penerawang masa depan manapun akan terjadi dalam rentang waktu itu, sehingga membuat masa sekarang sama sekali berbeda dengan yang bisa kita bayangkan di masa lalu, sementara di orang tua dan murid sekolah di Takengen sebenarnya waktu itu bisa lebih mengembangkan imajinasi yang akan mempengaruhi cita-citanya di masa depan dengan membekali dengan berbagai informasi tentang profesi-profesi menarik di luar pegawai negeri dengan cara MEMBACA.

Sayangnya budaya MEMBACA ini benar-benar absen dalam keseharian orang Gayo. Janganlah dulu kita berbicara tentang berbagai buku berkualitas karya penulis ternama, Koran Serambi Indonesia yang merupakan Koran dengan oplag terbesar di Aceh saja, konon oplag-nya kurang dari 100 eksemplar untuk tiga kabupaten di Tanoh Gayo.

Kurangnya budaya MEMBACA ini diperburuk lagi dengan maraknya kebiasaan menonton TV. Sebenarnya Televisi adalah sumber informasi yang sangat berguna, sayangnya acara yang menjadi tontonan favorit di tanoh Gayo adalah sinetron-sinetron yang menampilkan cerita-cerita yang tidak realistis alias menjual mimpi.

Karena itulah ini, ketika informasi tentang beragam jenis pekerjaan begitu melimpah ruah menyerbu ruang kesadaran kita dan meskipun faktanya saat ini setiap pekerjaan juga bisa mendapatkan uang pensiun dengan cara membeli polis asuransi, pandangan orang-orang di banyak tempat terhadap prestise sebuah profesi juga sudah berubah.

Tapi di kota kelahiran saya, tapi sampai hari ini orang-orang di Takengen tetap memuja profesi pegawai negeri.

Bukan hanya orang tua. Di Takengen bahkan merupakan sesuatu yang wajar ketika seorang ABG yang masih duduk di kelas satu SMA pun mau meninggalkan pacar yang seumuran dengannya untuk menjalin hubungan serius dengan seorang dewasa yang berstatus pegawai negeri.

Ah…Takengen mungkin memang sebuah Anomali. (Win Wan Nur)

Comments

comments