by

Resensi Buku: Putra Bener Meriah Terbitkan Novel “EL-Mansiyä”

Sebuah Karya Otodidak

Oleh:  Salman Yoga S

DALAM dunia kesusastraan dan tulis menulis, keberadaan Perguruan Tinggi dengan berbagai disiplin dan jenjangnya banyak melahirkan Sumber Daya Manusia yang tidak searah dengan keilmuannya. Realitas kebutuhan, skill dan kecenderungan secara individu sering kali memutar-balikan antara linearnya ilmu dan realisasi ilmu.

Fakta ini banyak terjadi dalam disiplin ilmu sosial, agama dan kemasyarakatan. Secara umum hal tersebut tentu bukan didasarkan atas bahwa sastra adalah hanya milik sebahagian dari kelompok masyarakat. Tetapi milik semua manusia dengan latar belakang apapun yang secara kodrati menyukai hal-hal yang berkaitan dengan estetika.

Sastra melalui talen tulis menulis banyak menawarkan alternatif-alternatif estetika, baik secara implisit maupun eksplisit. Bukan saja itu, hikmah, cermin dan metafora kehidupan lebih banyak dikemukakan oleh esensi kepenulisan karya sastra. Hal inilah yang menjadikan hampir seluruh ulama pada masa lalu selain mumpuni dalam bidang agama juga mempotensikan dan mengembangkan diri dalam dunia sastra.

Adalah sesuatu yang biasa jika seorang tokoh agama juga merupakan tokoh sastra. Agama pada satu sisi dan sastra pada sisi lain dalam realita kehidupan umat nyata-nyata saling menunjang. Ajaran agama disampaikan melalui kelebihan yang dimiliki oleh sastra. Sementara itu sastra yang vulgar dan liar justru dikendalikan dengan santun oleh agama.

Sejarah Islam nusantara hampir disetiap daerah dan tempat disebar luaskan melalui sastra (sastra: baca kesenian). Peran ulama sebagai tokoh sentral di dalamnya juga dituntut memiliki metode dan pendekatan yang sastrawi. Rahmatan-nya Islam sebagai agama samawi dan yang terakhir turun harus disampaikan kepada mereka yang berhati keras. Jelas, antara ulama dan sastra adalah dua mata yang saling memandang sisi humanisnya, kodrati manusia yang mencintai keindahan dan kelembutan.

Diantara ulama-ulama tersebut sebut saja Hamka, serta sederet nama ulama lainnya pada masa pertengahan masuk dan berkembangnya Islam di nusantara. Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah, adakah ulama hari ini yang selain menjalankan misi dakwah juga menggeluti dunia sastra? Lalu bagaimana mereka belajar menulis sastra?

Jawaban pertama tentu kita akan memilih kata ”tidak”. Dalam abad modren ini hampir tidak pernah kita temui ulama sekaligus seniman. Yang ada justru sebaliknya, muslim taat sekaligus sebagai seniman muslim.

Jawaban kedua adalah ”otodidak”. Mereka belajar dan mau menerima kekurangan sambil terus belajar dan belajar dari fenomena yang ada bahwa dunia tulis menulis mutlak diperlukan jika ingin menyampaikan sesuatu yang menyangkut keimanan serta hal lain yang bersifat non matrial.

* * *

Hal positif El-Masiyä adalah karya dan buku pertama Zack Arya, yang membuktikan bahwa “perang tulisan” dan persaingan pemuatan karya tulis pada media cetak telah ia kesampingkan. Ia lahir bukan dari workshop atau sekolah non formal kepenulisan. Ia menciptakan dan menyelesaikan ”perang” dalam daya kreatifnya sendiri. Otodidak tulen dengan ambisi yang kuat, maka lahirlah novel El-Masiyä yang ditulis dan dipersiapkan dalam dua tahun dengan kualitas kertas yang cukup lux untuk ukuran kebayakan novel yang terbit di Indonesia. Menyajikan  ekses komflik yang berimbas pada penderitaan rakyat, cinta dan kesetiaan adalah poin positif lainnya dari novel ini.

Kebalikan dari hal positif tersebut adalah frase kepenulisan terkesan tidak beraturan dan penggunaan perulangan kata yang mubazir, cenderung bertele-tele dan dramatisasi konflik yang dangkal, sehingga sulit ditemukan adanya plot cerita yang menggigit. Satu hal lagi yang terpenting bahwa penulis kurang berani mengambil sikap dalam mendiskripsikan alur, selayaknya setiap penulis harus menempatkan idealisme humanismenya dan rakyat yang tertindas sebagai ”Tuhan”. Hal ini tidak muncul karena penulis cenderung mengambil sikap ”aman” tanpa berani mengambil sikap memihak kepada yang lemah (rakyat), dan ini diakui oleh penulisnya sendiri.

Secara umum novel El-Masiyä berlatar konflik antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Tentara Indonesia yang berimbas pada pada penderitaan rakyat, berkisah tentang Kamal dan Arnati sebagai tokoh utama cerita. Meskipun keduanya berasal dari budaya berbeda, Gayo dan Aceh, tetapi hati mereka terpaut dalam cinta. Dilema asmara keduanya bermula ketika kehadiran seorang Komandan Tentara di Ketapang Manyang, yang selanjutnya menanamkan budi pada Arnati dengan pamrih pinangan.

Rencana sang Komandan menggiring Arnati kepelaminan dikandaskan oleh guncangan Gempa dan bah Tsunami 26 Desember 2004. Bencana dahsyat itu bukan saja mengakhiri cinta ”kuasa” sang Komandan tetapi juga menyudahi penderitaan orang-orang Ketapang Manyang.

Letak menariknya novel EL-Mansiyä untuk disimak dari halaman ke halaman adalah pendiskripsian kehidupan sosial budaya masyarakat Aceh, bukan saja tentang adat dan ritual tetapi juga mistiknya.

Zack Arya dalam kata pengantarnya menjelaskan bahwa judul novel perdananya ini “El-Mansiya”, berasal dari kata Bahasa Arab yang berarti ‘yang terlupakan’. Novel ini menceritakan tentang kisah perjalanan hidup dan penderitaan orang-orang yang tinggal di Aceh disebabkan oleh konflik dan Gempa bumi serta Tsunami.

Tidak ada unsur kepentingan apapun dalam menuliskannya. Hanya mengharapkan kedamaian mengisi hati orang-orang yang telah lelah menghadapi kemelut. Serta menunjukkan kepada dunia tentang pedihnya imbas peperangan bagi masyarakat sipil dan betapa inginnya mereka perdamaian. Yang terakhir: mengingatkan kembali orang-orang tentang sejarah Aceh yang hampir terlupakan. Seperti judulnya; El-Mansiya (yang terlupakan)

Dedikasi:

Cover Nover Elmansiya. (Lintas Gayo |  Aman Renggali)
Cover Nover Elmansiya. (Lintas Gayo | Aman Renggali)

Resume novel

Novel ini menceritakan tentang kisah cinta dua insan, Kamal dan Arnati. Keduanya terpisahkan oleh jarak dan perpaduan dua sisi kehidupan dan kebudayaan yang berbeda (Aceh dan Gayo). Kisah cinta keduanya diiringi oleh imbas konflik dan berbagai peristiwa menyedihkan; Kematian orang-orang terdekat mereka, ketakutan dan kekalutan  masyarakat akibat konflik dan berbagai harapan yang timbul. Alur cerita didukung oleh deskripsi setting sosial budaya Aceh berupa; adat, kepercayaan, ritual dan teristimewa lagi mistik. Alur novel mengalir diantara dua sisi kekuatan yang saling bertentangan, antara Gerakan Aceh Merdeka dan  TNI/Polri. Fokus deskripsi alur novel lebih ditekankan pada nasib masyarakat sipil yang menderita akibat konflik berkepanjangan pada rentang waktu 2000-2004.

Dilema kisah cinta Kamal dan Arnati bermula dari timbulnya konflik yang menyebabkan keduanya harus berjauhan dan kedatangan seorang Komandan Tentara yang bertugas di Ketapang Manyang. Kondisi perekonomian dan kemelut hidup yang dialami Arnati menyebabkan ia harus rela menerima lamaran Komandan itu untuk menjadi istrinya. Dengan demikian ia mencoba menyelesaikan kisah cintanya dengan Kamal secara baik-baik meski terasa sangat pahit baginya. Perkawinan Arnati dengan Komandan direncanakan setelah keduanya resmi ditunangkan. Namun pernikahan kandas dengan terjadinya Gempa Bumi dan Tsunami yang melanda Aceh pada tanggal 26 Desember 2004.

Petaka itu mengakhiri kisah cinta mereka dan derita orang-orang Ketapang Manyang yang pada akhirnya menjadi titik awal untuk membangun perdamaian dan peradaban baru di Aceh.

Siapa Zack Arya? Nama aslinya adalah Zakaria Nur Elyasy. Lahir di Kute Tanyung, Kec. Bukit Bener Meriah pada tanggal 19-04-1984. Pendidikan Sekolah Dasar diselesaikan di SD Merie I Tingkem (1995), tingkat Menengahnya diselesaikan di Pondok Pesantren Terpadu Burnijimet Tan Saril, Takengon Aceh Tengah (1997). Kemudian melanjutkan ke SMU Negeri I Kluet Utara, Kota Fajar Aceh Selatan (2001), disamping melanjutkan pelajaran agama pada Pondok Pesantren Raudhatus Sa’adah Simpang Lhee Kuala Ba’u Kluet Utara Aceh Selatan.

Setelah menyelesaikan tingkat SMA, lelaki yang biasa dipanggil ’Zack’ ini melanjutkan studinya pada Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ar-Raniry  Darussalam – Banda Aceh Jurusan Tarbiyah Bahasa Arab pada tahun 2001-  awal tahun 2006. kemudian melanjutkan kembali tingkat Magisternya pada almamater yang sama, jurusan Ilmu Dakwah (2007) sampai sekarang.

Kegiatan Penulis lebih didedikasikan pada bidang pendidikan, sebagai asisten dosen pada Jurusan Tarbiyah Bahasa Arab IAIN Ar-Raniry 2006- sekarang, dosen pada BIMA Bussines School Jambo Tape (2009-Sekarang). Staf pengajar pada LDC IAIN Ar-Raniry, Dayah Nurul Awal Tungkob Aceh Besar (2007-2009). Dayah Terpadu Inshafuddin Banda Aceh (2006-2007), dan Dayah Darul Ulum Jambo Tape Banda Aceh (2005-2006).

Organisasi yang pernah diikutinya antara lain; anggota (Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Himpunan Jurusan Bahasa Arab sebagai Ketua periode 2003-2004, Persatuan Mahasiswa Takengon (Permata) sebagai Ketua periode 2004-2005. Anggota Senat Mahasiswa Pasca Sarjana IAIN Ar-Raniry periode 2009-sekarang. Kini, penulis tinggal di Lorong KB, Desa Baet, Kecamatan Baitussalam- Aceh Besar, Provinsi Aceh.

***

Judul Buku  : EL-Mansiyä

Penulis            : Zack Arya

Penerbit         : CV. Pede Grafika & Zecka Publisher

TahunTerbit   : 2010

Tebal               : xi + 321 Hlm

ISBN                : 978-602-96760-0-6

Harga              : Rp. 60.000,-

Comments

comments