by

Muhammad Lutfi Tetap Kritis Melalui Puisi

Oleh: Anwar

Puisi sudah mendarah daging pada dunia. Kata-kata pada puisi seperti sebuah ramuan penting dalam dunia bahasa dan pengetahuan. Ilmu sastra yang satu ini memang semakin banyak diminati dalam perkembangan zaman. Tentu setiap orang boleh menulis puisi. Tetapi isi dalam puisi sangat mempengaruhi perkembangan sastra dan bahasa ke depannya. Bagaimana seorang penyair memandang dunia ini, berpengaruh pada karya puisi yang dituliskannya.

Seorang penyair muda, bernama Muhammad Lutfi, yang berasal dari Jawa Tengah memiliki cara tersendiri dalam menulis puisi. Puisi yang dituliskannya memang kebanyakan mengusung tema perjuangan dan tentang keadilan. Penyair muda ini memang dikenal idealis dalam berpuisi. Dia tidak terlalu memperhatikan bagaimana tanggapan pembaca tentang puisinya. Baginya, seorang seniman atau penulis puisi memang harus teguh dalam memegang prinsip berpuisi.

“Saya memang visioner dalam hal tema berpuisi. Puisi saya mengusung nafas perjuangan dan tentang pergerakan. Saya rasa sudah banyak penyair yang menulis puisi tentang tema percintaan dan kisah sepasang kekasih yang dihinggapi rindu, benci, atau harapan. Tetapi saya tetap memberanikan diri untuk memegang idealisme berpuisi tentang tema pergerakan. Sebenarnya saya kagum dengan cara Muhammad Iqbal dari Pakistan, yang tentu dia juga seorang penyair besar sekaligus negarawan. Hidup ini adalah sebuah gerakan. Inti dari hidup adalah bergerak. Itu pernyataan Muhammad Iqbal dalam pemikirannya yang saya kaji melalui puisi-puisinya. Saya setuju dengan Muhammad Iqbal dalam konsep berpuisi yang seperti pemikirannya itu,” kata Muhammad Lutfi menjelaskan tentang caranya memegang teguh tema puisi.

Puisi Muhammad Lutfi juga terkenal dengan baris-baris pendeknya. Puisi yang dituliskan dalam buku-bukunya itu rata-rata memiliki panjang baris yang sama dalam setiap judul, hanya 1 baris, 2 baris, bahkan 3 baris. Seperti karya penyair-penyair zaman dahulu yang hanya 1 baris atau 2 baris dalam menuliskan puisi.

“Memang, saya dalam menulis puisi selain terinspirasi dan suka dengan baris-baris pendek, saya mencoba hal baru dalam puisi. Kan, ada yang namanya pentigraf, yaitu cerpen yang hanya ditulis dalam tiga paragraf. Itu kan terobosan baru dalam dunia cerpen dan sastra. Saya juga mencoba puisi-puisi pendek dalam berkarya, walaupun sebenarnya tidak selalu puisi pendek yang saya tulis. Ada juga puisi-puisi saya yang panjang,” kata Muhammad Lutfi memberikan penjelasan tentang puisi pendeknya. Kini, Muhammad Lutfi sedang mencoba menulis puisi prosa yang sudah dia tuliskan beberapa dalam laptop kerja kepenulisan.

 

Comments

comments

News