by

Takengon, Paling Minim Peserta Lomba Berhitung

Takengen | Lintas GayoBertempat di gedung GOR Bulu Tangkis Takengen Aceh Tengah, Fakultas Teknik Unsyiah mengadakan Lomba Berhitung Fakultas Teknik (LBFT) ke XVII tahun 2011, Minggu (27/3) dengan tema “Cermat Berhitung Cepat, Cermin Generasi Cerdas”.

Lomba ini merupakan agenda tahunan yang rutin diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Fakultas Teknik khususnya Jurusan Teknik Sipil yang diikuti para siswa SD – SMA ini diadakan di sepuluh kota antara lain, Takengon, Aceh Besar, Tapak Tuan, Lhokseumawe, langsa, Meulaboh, Sabang, Sigli, Bireuen, dan Banda Aceh. Diantara kota – kota tersebut Kota Takengon lah yang paling sedikit peminatnya dari tahun ke tahun, berkisaran 300an siswa, namun tahun ini mulai ada peningkatan sekitar 700an siswa. Berbeda dengan Aceh Besar yang peminatnya hingga 1000an siswa.

“Kurangnya peminat LBFT di Kota Takengon karena para siswa masih menganggap bahwa pelajaran matematika itu susah” ujar Caesar Dinata panitia seksi dokumentasi LBFT. Para panitia mengaku telah mensosialisasikan perlombaan ini di tiap – tiap sekolah seminggu sebelum hari perlombaan.

Menurut Agung Mardika – wakil ketua umum LBFT, soal – soal yang diperlombakan selalu berbeda di tiap kota/kabupaten tetapi dengan tingkat yang sama untuk seumuran anak sekolah. Perlombaan ini dimulai sejak 13 Maret lalu di Kabupaten Aceh Besar kemudian berlanjut di beberapa kota/kabupaten lainnya, “untuk persiapan perlombaan ini telah dimulai sejak awal Agustus 2010 lalu” ujar Agung percaya diri.

Dua orang peserta LBFT, Dina dan Rika siswi kelas I SMA 4 RSBI Takengon mengaku sangat antusias mengikuti acara perlombaan ini. “Perlombaan semacam ini berguna untuk menggali potensi, menambah semangat untuk terus belajar hitung menghitung. Karena selain kecepatan, yang dinilai juga ketepatan dalam menjawab soal – soal” ujar Rika. Untuk soal – soalnya sendiri menurut Rika yang pernah mengikuti lomba ini pada tahun sebelumnya tidaklah terlalu sulit, “hanya saja perlu ketelitian saat menyelesaikannya” ujar dara yang bercita – cita ingin jadi arsitektur ini sambil tersenyum. Dina yang memiliki cita – cita ingin menjadi guru matematika berharap semakin banyak perlombaan ilmiah diadakan di Kota Takengon, bukan hanya LBFT saja.

Hal senada juga diungkapkan oleh Ibu Ani Zulkarnaen, salah satu orang tua peserta LBFT. “Perlombaan seperti ini bermanfaat untuk menguji kemampuan dan keberanian para siswa terutama murid sekolah dasar” tuturnya. Menanggapi kurangnya peminat dari Kota Takengon menurut Ibu Ani disebabkan kurangnya waktu pendaftaran yang hanya seminggu dan kurangnya publikasi. Sedangkan untuk biaya pendaftaran yang dikenai Rp.15.000 per siswa, Ibu Ani mengaku tidak keberatan karena selain akan diberikan sertifikat juga diberikan snack kepada tiap peserta.

“Semoga acara seperti ini bisa diterima oleh masyarakat, memotivasi para siswa untuk tidak membenci matematika, serta menjadi ajang silaturahmi antar daerah karena para pemenang (juara I) akan diundang untuk mengikuti babak grand final pada tanggal 1 Mei di Gedung AAC Dayan Dawood, Banda Aceh” harap Agung.

Sementara itu, menanggapi minimnya peserta, secara terpisah seorang pemerhati pendidikan di Aceh Tengah, Khalis A Zaghlul menyatakan ada beberapa kemungkinan sebab kurangnya peserta LBFT di Takengon. Salahsatunya karena diselenggarakan pada hari minggu dimana para siswa banyak yang diajak kekebun oleh orang tuanya. “Panitia mungkin kurang memahami masyarakat dataran tinggi Gayo yang umumnya petani. Hari libur seperti minggu dimanfaat sebaik-baiknya untuk kekebun,” ujar Khalis yang juga mengaku sangat menyesal tidak bisa mengikutsertakan dua orang anaknya di perlombaan tersebut.

Penyebab lain, kemungkinan lebih memilih berwisata bersama keluarga. “Sekarang kan lagi heboh penemuan kerangka manusia pra sejarah di Mendale dan Ujung Karang, jadi ada kemungkinan para  calon peserta kesedot kesana,” pungkas Khalis sambil tersenyum. (Ria D/ Rahma)

Comments

comments