by

Kerawang Gayo yang Modis

Catatan Hanisa Fitri*

hanisa_fitri
KAWASAN Gayo terletak di Aceh, dan keberadaan masyarakatnya menyebar pada lima wilayah Aceh yang secara administratif terpisah.  Identitas Gayo yang besar itu berada di Takengon, Aceh Tengah, yang dulunya tempat 3 kabupaten lainnya berbaur seperti Bener Meriah, Gayo Lues, dan Alas, AcehTenggara.

Kini, Bener Meriah, Gayo Lues, dan Aceh Tenggara menjadi satudaerah dengan pemerintahan masing-masing, dan disitulah sebagian besar urang Gayo  berada, plus sebagian mendiami Lokop Serbejadi di Aceh Timur.

Namun disini saya hanya akan mengkaji motif dan filosofi kerawang Gayo yang berada di Aceh Tengah dan Bener Meriah, Karena kajian kerawang Gayo Lues dan Aceh Tenggara harus tersendiri,lantaran punya khasanah dan filosofi berbeda dengan Gayo di Takengon dan Bener Meriah.

Orang kerapkali menyebut Takengon dan Bener Meriah sebagai dataran tinggi, karena posisi daerahnya yang tinggi. Sebagian besar masyarakatnya berpenghasilan dari bertani. Daerah  ini juga penghasil kopi berkualitas tinggi yang terkenal di seluruh dunia, dinamai “kopi Gayo”.

Selain itu, Gayo juga memiliki panorama yang indah, mungkin karena posisinya tinggi dan berada di kawasan peguningan. Satu hal yang membikin urang Gayo tersanjung adalah adanya Danau Laut Tawar yang menjadi objek berbagai inspirasi di Gayo, termasuk inspirasi photography dan syair.

Karena kelengkapan itu pula, para pendahulu di Gayo terinspirasi  menciptakan pola ukiran kerawang dengan setiap goresannya punya makna khusus, dan inspirasi terbesar lahir dari kondisi alam, seperti ukiran yang terdapat pada mutif Emun Berangkat , Emun Beriring , Puter tali, dan lain-lain.  Semisal Filosofi penting  dalam Emun Berangkat atau Awan Berangkat (beriring) yakni  bentuk motif yang menyerupai huruf S saling sambung menyambung dan berputar. Maknanya adalah perjuangan hidup dan cobaan yang dihadapi.

Makanya, kalau dimaknai semua bentuk dan nama kerawang Gayo, maka  kita telah menyampaikan amanah dan filsapat yang cukup beretika. Dan untuk mencintai karya-karya dari pendahulu kita tersebut seyogyanya tidak  diam dalam mengangkat harkat dan martabat seni dan budaya gayo secara total.

Kerawang Gayo jika dibandingkan dengan karya seni  dari daerah lain, tidaklah tertinggal, malah lebih indah lantaran kandungan sertiap motif lebih religius dan unik, sehingga sangat wajarapabila urang Gayo  bergerak cepat melestarikan  seni budaya yang sudah diturunkan para pendahulu kita, dan tentu diperuntukan kepada generasi Gayo.

Tidak ada lagi istilah berdiam diri,kehebatan kerawang bukan juga sebagai benda mati yang tidak dapat berubah-rubah. Kerawang dapat diramu menjadi modis dan anggun bila dikenakan oleh semua wanita dan pria, sehingga busana kerawang ini kedepan akan trend dan menjadi ikon negeri gayo sebenarnya.

Sudah saatnya masyarakat Gayo menanggalkan rasa malu pada budaya sendiri, dan saatnya bersama-samamenjadikan kerawang sebagai trendi baru dalam mode berpakaian di Indonesia. Jangan beranggapan lagi  tertinggal jaman. Busana bermotif kerawang gayo adalah kebangaan dan penuh percaya diri apabila bisa kita sesuaikan peruntukkanya, berpakaian motif kerawang tidah harus seperti pakaian adat yang asli, tetapi cukup menjadi fantasi  pendukung design mode sehingga memperindah totalitas penampilan.

Seperti kata ahli yang menulis soal Gayo, urang gayo memiliki potensi seni yang permanen, kalaulah pemimpin daerah ini memahami dan menjiwai psikologis urang gayo berseni tentu memimpinyapun harus berseni dan berinovasi membangunnya supaya gayo bisa dijual sebagai daerah yang berbudaya dan berwisata.

Ulen empat belas sitaring wan jurung
 Sipantas bersurah idung bertetunung
 Muregei buet si lelang gantung
 Buge kin rezekinte murumi kite mudukung”

*Penulis adalah Pengurus Yayasan Argadia tinggal di Takengon

Comments

comments