by

AS Kobat : Penari Sekarang Tak Faham Filosofis

Kebet | Lintas Gayo : Ada rasa haru tatkala bertemu AS Kobat, tokoh dan seniman Gayo yang menetap di Desa Kebet, Bebesan. Seperti dulu, dia tetap bersemangat bercerita tentang seni dan khasanah  Gayo, terutama seni tari yang pernah dia geluti. Tari Gayo, menurut AS Kobat, sekarang banyak berubah, itu gara-gara koreografer dan penarinya  tidak memahami lagi filosofis dari tari yang dimainkan. “Saya menangis menonton TVRI yang memutar tari Resam Berume, tarian itu dimainkian seenaknya saja, diputar berkali-kali lagi,” katanya Geram.

AS Kobat memang bukan sosok sembarangan, dia termasuk salah seorang pejuang Seni Gayo bersama beberapa seniman lainnya di era tahun 70-an. Nama-nama itu seperti Saifuddin Kader, AR. Moese, Ibrahim Kader, Syech Kilang, Aman Pinan  dan lain-lain, sehingga seni Gayo mendapat porsi khusus di Provinsi ACEH. Dan tari-tari itu pula yang dimainkan hingga sekarang, tanpa inovasi dan kreatifitas baru. “Tiga puluh tahun lebih tidak ada karya tari baru,” lanjut AS Kobat.

Menurutnya, dulu seniman Gayo bekerja untuk seni, sehingga jarang terjadi konflik berkesenian. Official kesenian Gayo pun dipilih dari kalangan yang berlatar belakang seni, sehingga dalam situasi apapun mereka bisa menjalankan kesenian itu dengan baik. “Kalau kami pergi ke suatu event, seperti PKA misalnya, seluruh peserta sampai ke pimpinan mampu berkesenian,” katanya mengenang.

Lahir di Takengon 73 tahun silam, Kobat kini telah lemah, terduduk sepanjang hari di kursi kesayangan di ruang tamu rumahnya, sebuah rumah Asri yang dilingkari kopi dan tanaman buah. AS Kobat kini tertatih ditopang sebuah tongkat berkaki tiga. Namun dia selalu tersenyum, menyapa siapapun yang bertemu—mata dan pikirannya masih tajam. AS Kobat sudah terserang Stroke sejak enam tahun silam.

Saat beberapa seniman Gayo seperti penyair Fikar w Eda, penyanyi Ivan Wy dan Uan Daudi, pembuat Film Sejarah Radio Rimba Raya Ikmal Gopi, produser lagu Jauhari Samalanga, dan pengusaha Mirwan berkunjung ke kediamannya di Kebet, ada kecerahan raut wajah AS Kobat. Dengan tetap duduk, diapun bercerita banyak hal tentang aktifitasnya dulu, termasuk kenangannya menampilkan tari Gayo pada acara Asia Afrika tahun 1955.

Kala itu Pak AS Kobat menjadi koreografer, musik dimainkan oleh Orkes Sadar pimpinan Arsalan Ardi, dan Asri sebagai penari. “Ketika itu hebat kali Tarian Gayo,” kenangnya. Tarian yang ditampilkan adalah  Resam Berume, yang kemudian ditarikan kembali saat perhelatan Pekan Kebudayaan Aceh di Banda. Namun di PKA ada cerita menarik. Tarian tersebut diminta panitia untuk diperbaharui lagi, dan hanya dalam beberapa jam pak Saifuddin Kader, Ar Moese, dan beberapa seniman lainnya berhasil menggarapnya lebih baik. “Sejak itu seniman Gayo berhasil membawa kesenian dan tarian Gayo kemana-mana,” kata AS Kobat.

Sedikitnya ada tiga generasi yang sempat diasuh AS Kobat dan kawan-kawan. Generasi pertama itu tahun 50-60an, berikutnya generasi kedua tahun 70-an dan terakhir 80-an. Setelah itu diakui bapak  8 anak ini, hampir tidak ada inovasi di tari Gayo, bahkan sekarang nyaris tidak ada. “Sampai sekarang saya ingat sama penari saya dulu, mereka jenaka-jenaka,” kenangnya.

AS Kobat pun punya banyak pengalaman jika berhadapan dengan penari-penarinya. Kisah yang tak pernah lekang dalam pikirannya tatkala dia bersama anak asuhnya berangkat ke luar daerah. Katanya, kalau sudah waktu makan di warung, itu kacau sekali, anak-anak sering memasukan makanan ke dalam tas sehingga bayarnya mahal kali. “Wah itu tidak bisa diawasi,” kata pak Kobat lagi.

Akhirnya, setiap ada perjalanan ke daerah panitia bersiasat membawa nasi sendiri yang di bungkus dan dimasukan ke dalam bakul, tapi tetap dinikmati. “Saya ingat generasi tahun 80-an, mereka bukan main, itu kalau sudah makan di restoran yang dimasukan kedalam tas banyak kali,’ kenangnya lagi.

Itu kisahnya dahulu tatkala AS Kobat masih mampu. Kini AS Kobat tak mampu lagi, hanya ingatan yang menerawang. Setiap sore dia mengikuti acara TVRI yang memutar tarian daerah, dan acara itu pula yang kemudian membikin dirinya sedih. Tarian Aceh sekarang pun sama tidak ada yang baru. “Semua meneruskan karya lama.  Kesenian Aceh sekarang mundur,” ucapnya. Dan dia terus berharap ada kemajuan pada kesenian Aceh ke depan.(Jauhari Samalanga | atjehpost.com)

Comments

comments