by

“Mengantar Nyawa Ke Pusat Gempa” (II)

Demi Serempah Bekopun “Terbang”

tulisan kedua
Serempah bebas: Kerja keras semua pihak mambu membebaskan Serempah, Ketol dari keterisoliran akibat gempa. (Waspada/ Bahtiar Gayo)

MEMBUKA Desa Serempah tidaklah mudah. Titik longsor berserakan. Tanah labil berair dan dalam, membuat beko sulit bergerak mulus. Sudah tiga kali Erwin membuka jalan, namun belum juga bisa masuk ke Serempah. Asal dia paksa, senantiasa terperangkap kawasan berawa, kedalamannya lebih dari 3 meter.

Batu yang disusun untuk jalan beko, ternyata juga tenggelam. “Bila dipaksa, bukan menolong korban, namun menambah korban. Beko akan tenggelam dan keselamatan saya diragukan,” sebut Erwin.

Operator PU kembali naik. Kali ini sasarannya batu yang ada di sebelah tebing kampung Serempah. Dia akan menerbangkan bekonya ke sebelah, tanpa harus melintasi lumpur rawa. Saat dia membuat jalan baru, agar jangkauan beko sampai ke tebing seberang, longsor dan gempa kembali terjadi. Gunung turun, pasukan Brimob, TNI dan Basarnas yang berada dekat Erwin, semuanya berlarian.

Tidak ada pilihan lain, gempuran longsor batu bercampur tanah dari gunung ini, harus dihadapi Erwin, bersama pakcik korban yang keponakannya terbenam di kawah Serempah. Erwin mempergunakan bekonya sebagai tameng. Setiap batu yang turun menggelinding, ditangkisnya dengan beko. Suara dentuman keras terdengar ditengah guncangan gempa itu. Batu beradu dengan besi. “Asal turun batu “menyerang”, beko secepatnya saya gerakkan untuk menangkis.

Sementara dua keponakan korban,  setia menemani Erwin hanya terpana melihatnya. Ketika longsoran itu makin besar, Erwin sudah menyiapkan pantat beko ke arah turunnya longsor. Sementara kepala beko  ditujukannya ke dasar sungai, yang kedalamannya mencapai 50 meter. “Saya sudah siap terjun bebas, biarlah pantat beko yang disambar longsor gunung ini, sementara kepalanya saya arahkan ke sungai.” Sebut Erwin yang menyapu keringat dinginnya mengingat kembali tragedi itu.

Ketika batu sebesar kulkas, turun deras ke arah beko, Erwin kembali menunjukan ketangkasannya, menangkis amukan alam itu dan membuang batu itu ke sungai. Gempa juga masih terjadi susul menyusul. Gempuran batu itu mampu diatasinya. Operator itu ahirnya turun ke dasar, menuju sungai, tidak jadi terjun bebas. Dia buat jalan menuju ke seberang, yang jaraknya sekitar dua puluh meter lagi. Dia susun batu ke sungai, agar bisa dilewati beko. Namun lumpurnya masih labil, kedalamannya tidak mungkin dilewati. Beko masih tetap belum bisa kesebarang.

Nekat
Mendegar pekik tangis, sekaligus cacian masyarakat yang berada diseberang, di Kampung Serempah, Erwin ahirnya nekat. Dia berusaha beko yang dioperasikannya, mampu menjangkau batu di tebing sebelah sungai.

Melawati sungai secara normal dengan kedalaman yang tak bersahabat ini, bukanlah sebuah keputusan yang baik. Yang pasti akan tenggelam. Tetapi apapun ceritanya beko ini harus kesebelah. Ahirnya Erwin mengaitkan sendok bekonya ke batu karang yang berada di kampung seberang. “Saya tarik batu itu, kaitannya kuat. Pilihan saya bulat, beko ini saya terbangkan ke sebelah, apapun resikonya saya harus sampai di sebelah,” sebut Erwin yang mengenang kembali kisah nekatnya menerbangan beko demi menuju kampung Serempah.

Dengan mengucap Bismillah, sungai selebar delapan meter itu dilalui beko tanpa menyentuh air. Tarikan kuku beko, disertai tenaga mesin, membuat beko ini benar-benar terbang. “kerkummmmmmm,” beko DPKU ini membentur batu di sebelah. Oleng nyaris terbalik kembali ke sungai.

Namun berkat pengalamannya, Erwin mampu mengendalikannya. Kaitan beko dalam hitungan detik dilepaskannya, dialihkan untuk menahan badan beko agar tidak terbalik ke sungai.  Kaki beko bengkok, namun masih bisa dioperasionalkan.  Pekikan “Allahhuakbar! Allahuakbar. Allahuakbar” terdengar dari mulut puluhan manusia  di kawasan tersisolasi ini.

Erwin saat itu keringat dinginnya bercucuran. Namun tidak ditunjukannya kepada waga yang sedang panik itu. Dia lihat penampang beko bengkok, namun masih bisa dioperasionalkan.
Sambil melepaskan lelah, Erwin mengiring beko “sahabatnya” menuju titik 4 anak sekolah yang tertimbun longsor. Dengan kepercayaan diri yang tinggi,  longsor dibersihkan. Terlihat keempat murid SD itu semuanya terkelungkup ditimbun tanah. Kembali pekikan Allahhuakbar berkumandang.

Erwin mampu mengobati kegundahan penduduk Serempah. Mayat yang terkubur longsor itu diangkat dengan baik dan hari itu juga dikebumikan. Sukses tugas besar, tidak membuat operator ini berhenti. Kali ini, Erwin tidak sendiri lagi dengan bekonya. Di Serempah dan bah sudah ada beko lainnya yang siap membantu.

Erwin siap mengorbankan nyawanya demi membuka isolasi Serempah dan Bah. Bagaimana kisah Munadi yang mengoperasi loader usai gempa? Kisah Munadi ternyata tak kalah tragisnya, bahkanya nyaris terkubur bersama alat beratnya, saat bebatuan yang turun dari gunung menghantamnya. Bagaimana kisahnya ikuti besok. (Waspada/ Bahtiar Gayo)

Berita terkait :

“Mengantar Nyawa Ke Pusat Gempa”

Comments

comments

News