Takengen|Lintas Gayo- Warga Takengen Barat, Kecamatan Lut Tawar, memberikan hukuman kepada rejenya jauh lebih menyakitkan, dari pada melakukan makian, demo atau ada yang mengamuk dengan kepala kampungnya.
Hukuman rakyat itu” memberi pelajaran” kepada reje saat dilangsungkan maulid akbar, Selasa (25/02/2014). Reje HLD, sebagai ketua panitia maulid, jangankan diberikan kepercayaan untuk berpidato saat sambutan maulid, memberi tropi kepada pemenang perlombaan juga tidak.
Sementara orang luar dari kampung itu yang hadir dalam acara maulid itu, seperti Tgk. Ali Yunus dan Muzakir dari KMAP, Imam dan guru pengajian di Kampung itu, bahkan tokoh pemuda disana ikut menyerahkan piala. Bahkan kaum ibu di Takengen Barat ikut bangun saat dipanggil untuk menyerahkan piala. Namun reje di sana tidak ada menyerahkan piala dan menyampaikan kata sambutannya.
Kata sambuatan dari panitia dan tokoh masyarakat justru disampaikan Saeb Nosarios. Kemudian dilanjutkan dengan Liwanza Camat Lut Tawar, baru masuk acara inti tausiah yang disampaikan Tgk. Mulyadi, dari Lhokseumawe. Mengapa ini bisa terjadi? Ikuti kisahnya sebentar lagi (Tim LG)