by

KIP Aceh Tengah Takut Dengan Publik?

 

Terlihat salah seorang komisioner KIP, Rabu (23/4/2014) jam 11.WIB baru tiba di Hotel Renggali. (LG/Iqoni RS)
Terlihat salah seorang komisioner KIP, Rabu (23/4/2014) jam 11.WIB baru tiba di Hotel Renggali. (LG/Iqoni RS)

Takengen | Lintas Gayo – Sikap KIP Aceh Tengah yang melarang wartawan meliput pleno rekapitulasi suara hasil Pemilu 2014, merugikan publik. Masyarakat seharusnya mendapatkan informasi resmi saat dilangsungkan pleno di Hotel Renggali Takengen.
Sikap KIP yang kurang bijak itu bukan hanya disesalkan insan pers yang meliput, namun para pimpinan para Caleg, juga masyarakat menyesalkan sikap KIP Aceh Tengah yang tertutup. Mengapa persoalan Pemilu ditutup-tutupi, ada apa?
Pertanyaan itu hampir semua masyarakat yang hadir ke Renggali atau para Caleg ikut mempertanyakannya. Selain persoalan tertutup, KIP juga dinilai lamban dalam proses perhitungan suara. Seharusnya tanggal 22 kemarin, sudah disampaikan hasil pleno ke provinsi.

 

turunkan tong suara dari Panser (LG/Iqoni RS)
turunkan tong suara dari Panser (LG/Iqoni RS)

“Mengapa wartawan tidak dibenarkan meliput. Ada apa ini? Ini informasi publik, yang secara undang-undang merupakan hak publik. Tetapi mengapa KIP melarang wartawan meliput,” sebut Roni, salah seorang wartawan di Aceh Tengah.
Wartawan Rakyat Aceh ini mengatakan, pengusiran yang dilakukan oleh Ketua KIP Aceh Tengah Marwansyah terjadi pada Senin malam (21/4) dari ruangan rapat pleno. Saat kejadian, dia sedang berada di dalam ruangan dan langsung disuruh keluar oleh ketua KIP.
Sebagai wartawan Roni tak putus asa, usai kejadian itu, dia kembali berusaha masuk, namun lagi dia di usir oleh Ketua KIP karena sudah kenal dengan wartawan tersebut.
Menurut Roni, ketua KIP Aceh Tengah, Marwansyah mengakui bahwa rapat tersebut terbuka tapi belum bisa dipublikasi. “Rapat ini memang terbuka, tapi hanya dihadiri oleh saksi dari masing-masing parpol yang mendapat mandat seperti PPK dan pengawas. kepada wartawan kami persilahkan keluar, karena ini belum bisa dipublikasi,” ucap Roni mengutip pernyataan Marwansah.

 

ikut membantu, polisi turut berperan menurunkan tong suara dari Panser (LG/Iqoni RS)
ikut membantu, polisi turut berperan menurunkan tong suara dari Panser (LG/Iqoni RS)

Selain soal pelarangan wartawan untuk meliput, persoalan molornya waktu dan tertunda-tunda rekapitulasi dalam pleno ini juga menjadi pembahasan hangat, bukan hanya kalangan Parpol dan Caleg, serta saksi yang sudah lelah, namun masyarakat ikut mempertanyakannya.
Soal molornya waktu pleno, kembali terjadi. Rabu (23/4/2014), menjelang siang, tong suara yang akan dihitung ulang itu baru sampai ke hotel Renggali pukul. 11.00.WIB. “Mengapa pleno bisa berlarut-larut, diperhitungkan besok juga belum tentu selesai,” sebut salah seorang Caleg di Hotel Renggali yang enggan jati dirinya disiarkan. (Tim LG)

Comments

comments

News