by

Dilema Bahasa Gayo VS Remaja Gayo

Suatu pagi di sebuah Madrasah,tanpa sengaja Uen Konadi dan Ariga bertemu di gerbang Madrasah.

Uen: (sambil membetulkan letak pecinya) “Dingin kali pagini geh?”

Ariga:”Itulah oy”

Uen:”ko dah siap ke PR kemaren woi?”

Ariga:”Inoo belum way,kek mana tu geh”

Uen:”oyaaa,ngeko wen,pasti ibu itu marah”

Teet…teet.. Bel masuk berbunyi Uen dan Ariga berlari kedalam kelas.

            Kisah di atas adalah gambaran bagaimana remaja saat ini berkomunikasi.Dialog yang mereka lakukan mencampur aduk antara bahasa daerah Gayo dengan bahasa Indonesia.Bagi mereka,dialog semacam ini bukanlah suatu masalah selama mereka memahami maksud masing-masing.Namun,tanpa mereka sadari mereka sudah mereplace bahasa Gayo dengan bahasa Indonesia.

            Setiap daerah mempunyai bahasa daerah masing-masing begitu juga dengan daerah Gayo sebagai identitas masyarakat Gayo.Asal usul bahasa Gayo memiliki berbagai versi.Versi pertama berasal dari kata dirgahayu yang tersebut dirgayo oleh Raja Merah Mege menyebut kata itu karena ia selamat setelah bersembunyi beberapa waktu di Loyang Datu(Linge,Isak),pasca keruntuhan kerajaannya.(Apresias seni.blogspot.com).

            Versi kedua, kata Gayo berasal dari bahasa Aceh yaitu ‘ka-yo’ yang artinya ‘sudah takut’ karena pada saat itu orang gayo terdesak dan merasa ketakutan oleh kedatangan orang suku Aceh.Versi manapun yang kita anggap benar kesemuanya adalah bentuk perdaban masyarakat Gayo yang menunjukkan identitas kelompoknya agar memiliki kedudukan yang terhormat dan tinggi.

            Bahasa Gayo pada mulanya adalah asimilasi kosakata bahasa Aceh,bahasa Melayu,dan bahasa Batak yang diperoleh dari kedatangan dan menetapnya orang-orang suku Aceh,Melayu dan Batak ke daerah Gayo.Sudah sepatutnyalah kita harus merasa bangga dan menjunjung tinggi bahasa Gayo sebagai bahasa yang menyokong peradaban masyarakat Gayo.

            Saat ini bahasa Gayo terutama di kalangan remaja tidak lagi mendapatkan tempat di hati mereka,tidak lagi menggunakan bahasa Gayo sebagai komunitas sehari-hari.Berdasarkan pengamatan serta bertanya langsung kepada beberapa remaja Gayo, kami memperoleh beberapa faktor penyebab mengapa remaja Gayo saat ini jarang bahkan tidak lagi menggunakan bahasa Gayo sebagai bahasa komunikasi sehari-hari.

Malu adalah alasan pertama yang mereka kemukakan. Mereka enggan identitas kedaerahan mereka terungkap lewat bahasa Gayo yang mereka gunakan ketika berkomunikasi. Mengikuti trend adalah alasan berikutnya, sebab jika mereka berkomunikasi berbahasa Gayo mereka akan mendapat predikat ‘nggak gaul’. Penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar pendidikan pun akhirnya dijadikan kambing hitam penyebab mereka tidak menggunakan bahasa Gayo dalam berkomunikasi sehari-hari. Selain itu,dilingkungan keluarga masyarakat Gayo, bahasa Gayo tidak lagi menjadi bahasa ibu bagi anak-anak mereka. Orangtua berdalih anak-anak mereka akan kesulitan berkomunikasi pada usia sekolah jika tidak diajarkan bahasa Indonesia.

Kondisi di atas lama kelamaan akan mengakibatkan bahasa Gayo menjadi bahasa yang terpinggirkan. Bahasa Gayo akan hilang karena remaja sebagai generasi penerus peradaban budaya Gayo enggan mencintai, memiliki, mengapresiasi, dan mengimplementasikan bahasa Gayo sebagai bahasa budaya mereka.

Wahai generasi muda Gayo, timbulkan rasa cintamu terhadap bahasa Gayo dengan membiasakan diri berkomunikasi dengan bahasa Gayo. Kepada pemerintah daerah,khususnya di bidang pendidikan, hendaknya membuat program pengajaran muatan lokal berbasis budaya Gayo yang keseluruhan isi pengajarannya menggunakan kosakata dalam bahasa Gayo. Kemudian tidak ada salahnya jika pemerintah daerah mendirikan Pusat Kegiatan Bahasa Gayo yang ruang lingkup kegiatannya murni menggunakan bahasa daerah Gayo. Dengan demikian semoga bahasa Gayo akan tetap lestari dan dicintai oleh generasi Gayo.

Tulisan ini dikirim oleh Siswa/siswi MAN 2 Takengon, Nyrina (Hafny, Riza, dan Indahyana)

Comments

comments