by

Nasib Guru Honorer tidak Memungkinkan Mengikuti sertifikasi

IMG20160215080937
SD Negeri 3 Umang,Kecamatan Linge (Foto:Kayu Kul)

Takengen | Lintas Gayo – Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Ungkapan tersebut mungkin  menjadi sebuah ironi. Jangankan jasa, terkadang para pendidik ini bahkan tidak mendapatkan gaji yang layak.

Hal itu yang dialami oleh Tarmizi guru honorer di SD Negeri 3 umang, Kecamatan linge, Guru pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan ini hanya mendapatkan honor Rp 300 ribu perbulan.

“Honornya dari Sekolah Rp 200 ribu, dari Kabupaten Rp 100 ribu. Jadi total Rp 300 ribu. Itu pun kadang tidak dibayar tiap bulan, honor dari kabupaten kadang 3 bulan sekali atau 4 bulan,” kata Tarmizi saat ditemui wartawan, kamis (16/04/16).

Gaji sekecil itu  tidak bisa diandalkan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang sudah berkeluarga dan memiliki seorang anak.  Tarmizi membuka warung miso kaki lima sebagai usaha sampingan untuk menghidupi keluarganya.

“Kalau pagi saya ke pasar belanja, terus langsung mengajar, malamnya jualan miso. Kalau tidak begitu mau makan apa, istri dan anak saya,” ungkapnya.

Nasibnya sebagai guru honorer tidak memungkinkan untuk mengikuti sertifikasi. Meski sudah mengajar sejak tahun 2000, karena belum berstatus PNS.

“Kalau sertifikasi kan tidak bisa, jadi harus cari cara lain untuk bisa dapat tambahan uang,” tambahnya.

Dia pun hanya bisa pasrah dengan kondisi sebagai guru honorer . Dia hanya berharap pemerintah bisa memberikan perhatian lebih pada guru honorer seperti dirinya.

“Saya cuma bisa berharap saja dan berusaha mencari solusi sendiri,” tandasnya.(Kayu Kul)

Comments

comments

News