by

Kunjungi Pasar, Usman Nuzuly ; ” Ironis, Ikan dan sayur 90 % dari luar Aceh Tengah”

Usman Nuzuly dan Bu Asnaini (pedagang), Menunjukkan sayur sayur dari Biren dan meulaboh

Takengen | Lintas Gayo – Bertepatan dengan hari minggu ( 29/01/2017), Calon Bupati Aceh Tengah, Nomor Urut 1, Usman Nuzuly melakukan kunjungan ke lapangan secara langsung, bertempat di Pasar Ikan, Kampung baru Kecamatan Lut Tawar, Kabupaten Aceh Tengah.

Salahsatu sudut pasar yang menjual ikan lokal, Depik kering dan ikan basah lainnya

Tampak usman, begitu ramah menyapa para penjual ikan sambil berkomunikasi langsung dengan beberapa pedagang. Usman dan Tim menemukan ternyata hampir 90 % ikan yang diperdagangkan di sejumlah lapak di Lt. I pasar adalah ikan yang berasal dari luar Aceh Tengah. ” Ironis rasanya, berton – ton ikan yang diperjualbelikan disini, hampir 90% nya dari luar, hanya bagian kecil ikan lokal, sementara potensi perikanan kita begitu besar”, ucap Usman.

Hanya ada 3 Lapak ikan Lokal yang terlihat pagi ini

” Sepertinya ada yang keliru dalam pengembangan potensi perikanan di Aceh Tengah, kita harus benahi”, Tambahnya.

Beragam Jenis Ikan Laut yang mendominasi lapak pedagang ikan

Memang pagi ini tampak dari puluhan lapak ikan dan daging ( ayam dan sapi serta kerbau), mayoritas ikan laut dengan berbagai jenis dan dalam jumlah banyak.

Pasar Ikan yang berlantai II tersebut, pada lantai II dipergunakan para pedagang sayur mayur dengan beragam jenis sayur. Lagi – lagi Usman mendapatkan kejanggalan. ” Sayur – sayuran ini kebanyakan berasal dari biren dan Meulaboh pak; Kacang panjang, terpuk pun (red:kecombrang) dari luar, jeruk nipis dan bahkan keloang ( pakis sungai), serta taruk jepang  juga dari bireun, hanya dememir dan nenas  ini yang lokal.”, Jelas Asnaini, seorang pedagang sayur.

Pedagang dan pembeli di LT 2 Pasar. Sayur Mayur di dominasi dari biren dan melaboh

Salahsatu pedagang juga menjelaskan, ” terkadang pembeli juga lebih memilih barang dari luar, katanya kualitasnya lebih bagus, contohnya kacang – kacangan dari luar lebih lembut”, ujar pedagang tersebut.

Kacang – kacangan pun dari biren, Hanya dememir yang dari Takengon

Yang agak miris, adalah dari sisi permodalan, ternyata belum ada wadah Bank/koperasi  Pasar yang membantu permodalan para pedagang. Rata – rata para pedagang mendapatkan modal dari ‘koperasi harian’ atau mereka sebut rentenir. ” Kami kalau pinjam modal 500 ribu, perhari kami harus bayar 20 ribu selama 30 hari, atau kalau pinjam 500 ribu maka kami mesti bayar 600 ribu selama sebulan, berarti bunganya 20%”.keluh pedagang tersebut.

Tentu hal itu sangat memberatkan para pedagang. Seorang pedagang, Bu Rani, “kami bertahan hidup pak, dari pada mati hari ini mending besok”, curhat Bu Rani.

Mendengar itu, Usman menjelaskan, bahwa hal ini harus kita perjuangkan, kita selaku negeri yang katanya sekeping ‘Tanah surga’ negeri yang subur seharusnya petani, pedagang dan rakyat harus lebih sejahtera. ” ini harus dicarikan solusi, tidak boleh dibiarkan, koperasi pasar untuk permodalan pedagang harus diupayakan dengan bunga yang wajar, dan pungli seperti dibawah (di Lt 1 pasar ikan) harus diberantas, pemerintah harus lebih memperhatikan hal ini”, tutup Usman. ( Yhr/LG 001/008)

Comments

comments