by

Pengaruh Kearifan Lokal Karakter SDM KPPN Takengon

Pengaruh Kearifan Lokal Dalam Membentuk Karakter Sumber Daya Manuasia (SDM) Pada KPPN Takengon

Seniora Nusantara Ginting

Oleh: Seniora Nusantara Ginting*

  1. Latar Belakang

Keberhasilan negara Jepang yang mampu mengimbangi dominasi negara barat dalam aspek ekonomi dan teknologi, setidaknya membuka mata kita bahwa budaya lokal suatu bangsa dan ajaran agama dapat berpengaruh terhadap sistem manajemen dan etos kerja suatu bangsa. Keberhasilan Jepang ini pun banyak diikuti oleh negara-negara seperti Taiwan dan Korea yang mengadopsi latar belakang budaya sebagai pijakan/pondasi dalam meningkatkan ekonominya. Hanya negara yang mampu mengimplementasikan budaya dan ajaran agama ke dalam pandangan hidup dan filosofi bekerja bagi masyarakatnyalah yang dapat bertahan. Sistem manajemen dan etos kerja yang di import dari luar terkadang dapat menimbulkan kerancuan dalam pelaksanaanya karena terkadang implementasinya tidak sesuai/berbenturan dengan budaya masyarakat setempat.

Menurut Selo Sumarjan, secara sosiologis kebudayaan suku-suku di Indonesia, termasuk melayu sebagai ras, lebih berorientasi kepada kehidupan bermasyarakat (socially oriented) ketimbang berorientasi pada material (material oriented). Selain itu beberapa pakar sosiologi dan antropologi menyebutkan bahwa kekuatan budaya melayu sebagai suku sangat menghargai keteladanan, dalam hal ini bawahan akan berusaha menjadi lebih baik jika atasannya memberi teladan yang baik.

Begitu halnya dengan kebudayaan pada masyarakat suku gayo, bahwa adat istiadat merupakan salah satu unsur kebudayaan suku Gayo yang menganut prinsip Keramat Mupakat Behu Berdedele (Kemulian karena Mufakat, Berani Karena Bersama), Tirus lagu gelas belut lagu umut rempak lagu resi susun lagu belo (Bersatu Teguh) Nyawa sara pelok ratep sara anguk (kontak batin) atau tekad yang melahirkan kesatuan sikap dan perbuatan dan banyak lagi kata-kata yang mengandung makna kebersamaan dan kekeluargaan serta keterpaduan.

Suku Gayo adalah salah satu etnis suku bangsa yang mendiami dataran tinggi Gayo di Provinsi Aceh bagian tengah. Bagian wilayah suku Gayo meliputi kabupaten Bener Meriah, Aceh Tengah, Gayo Lues dan Blangkejeren. Mayoritas masyarakat suku Gayo beragama islam dan dikenal sangat taat dalam beragama.Suku Gayo tergolong ke dalam ras Proto Melayu yang berasal dari India. Suku Gayo terdiri dari tiga kelompok yaitu Masyarakat Gayo laut yang mendiami daerah Aceh Tengah dan Bener Meriah, Gayo Lues yang mendiami daerah Gayo Lues dan Aceh Tenggara serta Gayo Blang yang mendiami sebagian kecamatan di Aceh Tamiang.

Kata Gayo berasal dari kata Pegayon yang berarti tempat mata air jernih dimana terdapat ikan suci (bersih) dan kepiting. Konon, dahulu serombongan pendatang suku Batak Karo datang ke Blangkejeren dengan melintasi sebuah desa bernama Porang. Di perjalanan mereka menjumpai sebuah perkampungan yang terdapat sebuah telaga yang dihuni seekor kepiting besar, kemudian mereka melihat binatang tersebut dan berteriak Gayo Gayo. Dari sinilah daerah tersebut dinamai dengan Gayo.

Masyarakat Gayo hidup dalam komuniti kecil yang disebut kampong. Setiap kampong dikepalai oleh seorang gecik. Kumpulan beberapa kampung disebut kemukiman (kecamatan), yang dipimpin oleh mukim. Sistem pemerintahan tradisional (desa/dusun) berupa unsur kepemimpinan yang disebut sarak opat, terdiri dari reje (raja), petue (petua), imem (imam), dan rayat (rakyat).Sebuah kampong biasanya dihuni oleh beberapa kelompok belah (klan). Anggota-anggota suatu belah merasa berasal dari satu nenek moyang, masih saling mengenal dan mengembangkan hubungan tetap dalam berbagai upacara adat. Garis keturunan ditarik berdasarkan prinsip patrilineal. Sistem perkawinan yang berlaku berdasarkan tradisi adalah eksogami belah, dengan adat menetap sesudah nikah.

Dalam seluruh segi kehidupan, orang Gayo memiliki dan membudayakan sejumlah nilai budaya sebagai acuan tingkah laku untuk mencapai ketertiban, disiplin, kesetiakawanan, gotong royong, dan rajin. Pengalaman nilai budaya ini dipacu oleh suatu nilai yang disebut bersikemelen, yaitu persaingan yang mewujudkan suatu nilai dasar mengenai harga diri (mukemel). Nilai-nilai ini diwujudkan dalam berbagai aspek kehidupan, seperti dalam bidang ekonomi, kesenian, kekerabatan, dan pendidikan. Sumber dari nilai-nilai tersebut adalah agama Islam serta adat setempat yang dianut oleh seluruh masyarakat Gayo, walaupun untuk masa sekarang ini budaya gayo tersebut sudah mulai terkikis/pudar.

*Penulis adalah Pejabat Fungsional PTPN KPPN Takengon

  1. Makna Kearifan Lokal

Kearifan lokal sebagai nilai-nilai budaya luhur bangsa kita dapat dimanfaatkan sebagai sumber pembentukan karakter bangsa. Dengan kata lain, kita mengharapkan karakter bangsa kita berasal dari kearifan lokal kita sendiri sebagai nilai leluhur bangsa kita. Atas dasar itu, karakter bangsa yang diharapkan adalah karakter yang berbasis kesejahteraan dan kedamaian. Karakter yang cinta kesejahteraan meliputi karakter yang pekerja keras, disiplin, senang belajar, hidup sehat, cinta budaya, gotong royong dan peduli lingkungan. Sedangkan karakter yang cinta kedamaian meliputi sikap yang berkomitmen, berpikir positif, sopan santun, jujur, setia kawan, suka bersyukur dan hidup rukun.

Dalam konteks masyarakat Gayo, kearifan lokalnya terangkum dalam konsep ¨ed¨et atau adat, yang meliputi praktik, norma, dan tuntutan kehidupan sosial yang bersumber dari pengalaman yang telah melalui islamisasi. Wujud kearifan lokal yang terdapat dalam masyarakat Gayo meliputi bahasa Gayo, sistem tata kelola pemerintahan (sarakopat), norma bermasyarakat (sumang), ekspresi estetik (didong) dan konsep nilai dasar budaya Gayo. Dimensi kearifan lokal dalam masyarakat Gayo terangkum dalam nilai dasar budaya yang merepresentasikan filosofi, pandangan hidup dan karakter ideal yang hendak di capai. Satu nilai puncak yang merupakan representasi kearifan lokal masyarakat Gayo adalah yang berbasis nilai-nilai Islami.

Sistem nilai budaya Gayo menempatkan harga diri (mukemel) sebagai  nilai utama. Untuk mencapai tingkat harga diri tersebut, seseorang harus mengamalkan atau mengacu pada sejumlah nilai penunjang, yaitu:

  1. Mukemel

Konsep mukemel berkenaan dengan harga diri. Istiah kemel pada dasarnya berarti malu. Dalam aplikasinya malu dipahami dalam makna yang lebih luas, mencakup makna dalam konsep studi akhlak. Konsep ini merujuk pada kemampuan menjaga diri agar tidak terjerumus pada pikiran dan tindakan yang dapat menyebabkan hilangnya harga diri. Seorang yang mempunyai sikap mukemel konsisten mempertahankan harga diri dengan mencegah diri atau keluarganya terjebak pada perbuatan-perbuatan tercela atau bertentangan dengan tuntunan agama (syariat) dan norma kebiasaan (adat).

  1. Tertib

Kata ini berasal dari bahasa Arab, tartib, artinya teratur. Istilah tertib berkenaan dengan syarat dan rukun dalam pelaksanaan ibadah, di mana tidak terpenuhinya syarat ini dapat membatalkan atau paling tidak mengurangi kesempurnaan dalam pelaksanaan ibadah. Dalam konteks masyarakat Gayo, tertib berkenaan dengan sikap hati-hati sehingga tindakan dan perlakukan dilakukan dengan memperhatikan konteks. Salah satu ungkapan bahasa Gayo menyatakan, tertib bermejelis, umet bermulie (artinya keteraturan dalam kehidupan bersama merupakan prasyarat mewujudkan kemuliaan umat).

  1. Setie

Setie artinya mempunyai komitmen atau teguh pendirian. Kata ini merujuk pada sikap yang tidak mudah menyerah demi memperjuangkan kebenaran yang diyakini dan komitmen bersama yang disepakati dalam musyawarah.

Dalam ungkapan Gayo disebutkan, setie murip gemasih papa (setia dalam hidup), yang menegaskan kesetiaan pada komitmen bersama merupakan kunci penyelesaian seberat apapun tantangan yang ada. Dalam ungkapan lainnya disebutkan, ike jema musara ate, ungke terasa gule (jika satu hati maka yang pahitpun akan terasa manis). Ike gere musara ate, bawal terasa bangke (jika tidak satu hatimaka yang manis/gampang akan terasa pahit/susah).

 

Ungkapan ini bermakna, kalau hati sudah sepakat, sepahit apapun tantangan yang menghadang mudah diselesaikan, sebaliknya apabila tidak terdapat komitmen bersama maka persoalan kecil dapat memicu munculnya masalah baru yang lebih besar.

  1. Semayang-gemasih

Nilai budaya Gayo dalam konsep semayang-gemasih, artinya kasih sayang. Konsep ini berkaitan dengan prilaku terpuji dalam Islam, bahkan dua nama Allah yang baik (asmaul husna) dalam al-Qur’an adalah Maha Pengasih (al-Rahman) dan Maha Penyayang (al-Rahim).

Dalam ungkapan bahasa Gayo, nilai semayang-gemasih ini tercantum dalam pribahasa; kasih enti lanih, sayang enti lelang (jangan perbuat hal-hal yang bodoh/tidak berguna). Kasih sayang yang tidak diiringi pengetahuan dapat merusak, misalnya terlalu memanjakan anak atau sikap memberi sesuatu tetapi disertai dengan sikap merendahkan/pamer.

  1. Mutentu

Nilai budaya mutentu berarti rajin, ulet, bekerja keras atau melaksanakan sesuatu sesuai aturan (rapi).  Nilai ini memberi penekanan pada pembentukan sikap tidak terburu-buru atau ceroboh, tetapi berdasarkan perenungan dan perencanaan yang matang.

  1. Amanah

Amanah berasal dari bahasa Arab, yang artinya terpercaya, jujur dan bertanggungjawab. Amanah berkaitan dengan kesesuaian antara ucapan dan perbuatan, keselarasan antara idealitas dan realitas.

  1. Genap-Mupakat

Genap-mupakat atau keramat-mupakat merupakan nilai budaya Gayo yang berkaitan dengan perwujudan harmoni sosial. Genap-mupakat merupakan prinsip musyawarah untuk mencari solusi yang terbaik.

  1. Alang-Tulung

Nilai budaya Gayo lainnya adalah sikap tolong-menolong, sebagaimana tercermin dalam ungkapan alang-tolong berat-berbantu. Nilai ini menegaskan eksistensi manusia sebagai makhluk sosial, manusia memerlukan interaksi sosial yang memungkinan proses memberi dan menerima (give and take, bukan take and give sebagaimana sering disebut)  sebagai perekat kohesi sosial.

  1. Bersikekemelen

Bersikekemelen(budaya segan) dalam bahasa agama dikenal dengan prinsip berlomba-lomba dalam kebaikan, fastabiqul khairat. Melalui nilai bersikekemelen, nilai-nilai lain akan lebih kokoh keberadaannya.

  • Pengaruh Budaya Lokal Suku Gayo Dalam MembentukKarakter Sumber Daya Manusia Pada KPPN Takengon

Dalam pelaksanaan pekerjaan sehari-hari/kedinasan pegawai KPPN Takengon dituntut untuk bisa bersikap baik dengan sesama pegawai (internal kantor) maupun dengan masyarakat sekitar. Mampu beradaptasi dengan lingkungan dan tanggap terhadap budaya/adat istiadat masyarakat sekitar wajib untuk diperhatikan oleh seluruh pegawai.

Ada beberapa etika dalam bermasyarakat yang dipedomani oleh pegawai KPPN Takengon yaitu:

  • Mewujudkan pola hidup sederhana.
  • Memberikan pelayanan dengan empati, hormat dan santun, tanpa pamrih dan tanpa unsur pemaksaan.
  • Memberikan pelayanan secara cepat, tepat, terbuka, dan adil serta tidak diskriminatif.
  • Tanggap terhadap keadaan lingkungan masyarakat.
  • Berorientasi kepada peningkatan kesejahteraan masyarakat dalam melaksanakan tugas.
  • Memiliki toleransi atas perbedaan agama/kepercayaan, adat istiadat dan budaya.
  • Tidak melakukan hal-hal yang melanggar norma kesusilaan, antara lain zina, selingkuh, judi, pornografi/pornoaksi.
  • Tidak memasuki tempat-tempat yang dipandang tidak pantas secara etika dan moral yang berlaku di masyarakat, seperti tempat pelacuran dan perjudian, kecuali karena adanya penugasan khusus.
  • Tidak membuat posting berupa tulisan/gambar/video di media sosial yang menyinggung/merugikan orang lain maupun institusi/organisasi.
  • Tidak melanggar aturan etika/moral masyarakat yang dapat menurunkan citra pegawai/organisasi.

Kondisi lingkungan tempat dimana suatu masyarakat tinggal sangat mempengaruhi karaktersumber daya manusia yang ada, hal ini sangat dapat dirasakan pada kondisi/budaya kerja pada KPPN Takengon yang berada di lngkungan masyarakat dengan budaya setempat yaitu budaya suku Gayo. Unsur kekerabatan dan religi sangat tampak dengan jelas dan berperan pada kehidupan masyarakat pada Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah. Suku Gayo menyusun sistem kekerabatan tidak hanya berdasarkan hubungan darah, namun juga berdasar pada kasih sayang dan kerukunan secara Islami (syariat).

Sama halnya dengan tujuan kode etik yang dipedomani oleh pegawai KPPN Takengon, kebudayaan juga mempunyai tujuan yang baik dalam pelaksanaannya. Di dalam budaya suku Gayo, terdapat nilaibudaya yang mengandung unsur religi, kedamaian, kesopanan, ketertiban, musyawarah, saling membantu dan sikap menghormati. Dengan sendirinya, kode etik dalam bermasyarakat yang telah dipedomani oleh pegawai KPPN Takengon telah memperhatikan dan menyesuaikan dengan budaya yang melekat pada kehidupan masyarakat di seluruh daerah Indonesia

Tidak serta merta, dengan hasil standar kompetensi yang telah ditetapkan terhadap pegawai, adat istiadat atau sistem kehidupan sosial dan budaya masyarakat di daerah tersebut kita abaikan. Keikutsertaan pegawai KPPN Takengon dalam kegiatan-kegiatan hari raya besar dalam rangka membaurkan diri dengan masyarakat setempat, selain menunjukkan rasa peduli akan budaya lokal, juga akan menciptakan rasa kebersamaan dan rasa memiliki baik terutamadengan masyarakat/penduduk daerah setempat, antara lain:

  1. Melibatkan tokoh adat/agama pada acara keagamaan di kantor seperti Maulid Nabi, Isra Miraj, buka puasa pegawai bersama dengan masyarakat/tokoh masyarakat sekitar (sebagai imam);
  2. Ikut serta dalam kegiatan-kegiatan olahraga dan seni budaya;
  3. Menghadiri undangan dari masyarakat setempat seperti pesta pernihakan, kematian, sunatan, buka puasa bersama, memasuki rumah baru;
  4. Ikut serta berpartisipasi dalam memberikan sumbangan keagamaan/hari raya; dan
  5. Melakukan kunjungan silaturahmi dengan pimpinan daerah setempat.

Dengan adanya rasa damai, rasa tenang akibat adanya kebersamaan, rasa memiliki, sikap saling menghargai baik internal pegawai maupun eksternal sebagai bentuk menghargai kearifan lokal masyarakat setempat, maka kualitas kinerja dan kualitas layanan yang dihasikan akan semakin meningkat yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

 Negara atau bangsa yang berhasil membangun kesejahteraan rakyatnya adalah bangsa yang membangun berbasis budayanya. Salah satu wujud kecintaan kita terhadap bangsa Indonesia adalah kita dapat melestarikan dan mempertahankan budaya lokal (kesenian, adat istiadat, dll), karena kesatuan budaya lokal yang dimiliki Indonesia merupakan budaya bangsa yang mewakili identitas negara Indonesia. Nilai kekerabatan dan religi yang kuat dapat meningkatkan kualitas etos kerja yang ditunjukkan dengan peningkatan kualitas organisasi yang akhirnya akan tercapai kemakmuran dan kesejahteraan bagi masyarakat. Dapat dikatakan bahwa lingkungan (konteks budaya) dapat membentuk pola fikir dan tata cara kehidupan masyarakat. Dengan demikian, etos kerja, nilai karakter dan pola pikir yang dipengaruhi oleh budaya lokal mempunyai andil besar dalam pembangunan sumber daya manusia pada Kementerian Keuangan kbususnya pada pegawai KPPN Takengon.

*Penulis adalah Pejabat Fungsional PTPN KPPN Takengon

Comments

comments