by

Siapa  Penderes Pinus di Gayo …?

Takengon  | lintasgayo.com Menderes getah pohon pinus di hutan keramat linge Isaq Kabupaten Aceh Tengah bukanlah hal mudah butuh orang terampil melakukanya.

Berikut ini rekaman singkat saat lintasgayo.com berbincang – bincang dengan Bang Bewok Sabtu (2/12) salah satu pedagang di kampung Umang Isaq.

Bang Bewok yang berkacamata duduk di teras depan rumahnya.Teras itu jadi warung makan, ngopi, gorengan , snek hingga air mineral dan rokok.

Beberapa orang berbahasa Jawa dengan bang Bewok. Sementara orang lainnya, hanya singgah sebentar. Belanja dan pergi.

Tersisa dua buah durian kecil yang kami buka. Durian Umang. Isi duriannya sedikit, lebih besar bijinya. Durian kecil itu dibandrolnya lima belas ribu rupiah perbiji.

Rumah bang Bewok dipinggir jalan Takengon -Gayo Lues. Simpang ke Umang. Strategis.Rumah itu satu satunya disana. Selebihnya lahan Uyem mujana.

Saya bertanya tentang ribuan hektar pinus kepada bang Bewok. Bang Bewok menyebut semua lahan tersebut milik sebuah perusahaan di Jakarta.

Perusahaan ini sudah puluhan tahun menguasai lahan di Dataran Tinggi Gayo dalam beberapa kabupaten.

Bang Bewok mengikat kontrak dengan perusahaan tersebut. Bang Bewok memperkerjakan banyak tenaga penderes dari luar daerah. Dari Jawa, Sunda, Aceh hingga orang India dari Sumut.

“Satu orang penderes bisa bekerja di dua atau tiga hektar lahan pinus. Tergantung kerapatan vegetasinya”, terang bang Bewok.

Bang Bewok adalah penduduk asli Umang. Dia menjadi toke pengumpul getah Pinus dari para penderes.

Tenaga kerja penderas yang bekerja untuk bang  Bewok ada 10 orang. Bang Bewok menjual getah Pinusnya kepada pengusaha China yang memiliki pabrik di Kampung Isaq.

“Sekarang harganya Rp.5000 perkilo”, kata Bewok. Pengusaha China itu,lanjutnya tak pandai bahasa Indonesia. Untuk berkomunikasi, pengusaha wanita China  itu memakai seorang penerjemah.

“Tak perlu pandai bahasa Indonesia kalau punya uang banyak”, sebut Bewok tertawa.

Di warung bang Bewok itu, ada seorang penderes. Umurnya mungkin sudah hampir setengah abad.

Lelaki kurus berkulit gelap ini mengaku berasal dari Langsa. Kamipun berbahasa Aceh. Teman yang bersamanya berasal dari Jawa.

Bang Rusli, lelaki Langsa itu mengatakan dalam sebulan dia bisa menghasilkan 1 ton getah. Untuk getah sebanyak itu, Rusli bisa mengantongi uang hingga Rp. 5 juta.

Sebagian besar uang tersebut dikirim untuk anak istrinya di Langsa. Begitu juga ratusan hingga ribuan penderes lainnya dari luar daerah.

Menurut Bewok, ada ribuan penderes di Kecamatan Linge. Kebanyakan penderes berasal dari luar gayo. Mereka tinggal di pondok pondok sederhana  di hutan pinus dekat jalan. Pondok tersebut dibuat para toke  yang mendatangkan penderes dari luar daerah.

“Banyak kisah sedih dari penderes ini”, ungkap Bewok. Diceritakan Bewok, ada seorang penderesnya yang baru pulang kampung setelah dua tahun.

Saat pulang didapatinya sang istri memiliki seorang anak bayi. Sisuami tentu saja kaget tak kepalang.

Namun dia tidak menceraikan istrinya. Karena banyak anaknya yang harus dibiayai. Sementara dia jauh mencari uang. Sisuami tetap mengirim belanja bulanan untuk anak istrinya yang memiliki bayi tersebut. Dan banyak kisah lainnya.

Hantu THL

Bang Bewok yang menderes pinus milik perusahaan Tusam Hutani Lestari menceritakan bahwa perusahaan tersebut memiliki mata- mata.

Jika bang Bewok menjual getah Pinus tanpa memberitahu perusahaan itu. Pegawai perusahaan itu selalu bisa mendeteksinya.

“Bahkan mereka tahu kemana getah tersebut dibawa. Lengkap dengan fotonya. Mereka punya hantu dimana mana”, jelas Bewok terbahak.

Jika menjual ke perusahaan China di Isaq, di perusahaan tersebut sudah ada pekerja perusahaan tersebut.

Setelah getah ditimbang, pegawai THL akan mengurus datanya hingga memotong uang untuk mereka perkilonya.
Selain di Isaq, ada tiga pabrik getah Pinus ini di Gayo Lues.

Satu diantaranya, juga milik perusahaan China. Dulu perusahaan getah Pinus China ini mendatangkan penderesnya para wanita China , langsung dari Tiongkok.

Mereka bekerja menderes dan tidak berinteraksi dengan warga lokal. Karena tak bisa bahasa Indonesia.
Kemudian pekerja China diprotes warga karena membakar babi di tempat tinggal mereka.

Belakangan tenaga kerja ini dideportasi karena tak memiliki ijin. (LG010/WRB)

Comments

comments