by

Matematika Bukan Pelajaran Sulit

Catatan: Muhammad Syukri*)

Darmawan Masri | Foto Muhammad Syukri

Guru, sebuah profesi yang kini menjadi pilihan pekerjaan kesekian, bukan pilihan pertama. Kalau ditanya kepada siswa berprestasi yang akan menyelesaikan pendidikan di SMA, rata-rata kurang berminat melanjutkan ke fakultas pendidikan. Mereka umumnya ingin kuliah di fakultas kedokteran atau fakultas teknik. Mereka menyatakan profesi guru sebagai profesi yang kurang menjanjikan dari segi materi dan popularitas.

Sore tadi di sebuah warung kopi bertemu dengan seorang anak muda berpenampilan necis. Dia sedang mempertunjukkan goresan angka disebuah kertas tentang games matematika. Games itu digunakannya untuk mengatasi kejenuhan siswa selama proses belajar mengajar. Permainan itu bernama games karakteristik angka 9.

Setelah berbincang-bincang, ternyata anak muda itu bernama Darmawan Masri (24) yang sehari-hari bekerja sebagai guru bakti untuk bidang studi matematika di SMAN 1 Takengon. Heran juga, anak muda secerdas itu masih mau memilih profesi sebagai guru. Selama ini, setelah tidak lulus tes UMPTN di tempat lain barulah orang memilih fakultas keguruan sebagai pilihan terakhir.

Lulusan FKIP Unsyiah prodi matematika tahun 2009 itu awalnya bercita-cita menjadi arkeolog. Namun kedua orang tuanya yang berprofesi sebagai guru memintanya untuk kuliah di fakultas keguruan dan ilmu pendidikan. Patuh kepada orang tua, akhirnya dia kuliah di FKIP Unsyiah, bahkan pernah meraih indeks prestasi (IP) 4 pada semester awal. Iwan panggilan Darmawan Masri, baru menemukan enaknya jadi seorang guru setelah kuliah di semester III yang nyambi sebagai seorang guru les privat.

Rasa enak menjadi guru muncul saat dia mengajar les privat untuk anak-anak SD. Anak-anak usia SD yang jadi muridnya sulit memahami materi matematika yang diajarkannya. Kesulitan itu menjadi tantangan tersendiri, sehingga dia mencari sejumlah games (permainan) matematika supaya anak-anak itu suka kepada pelajaran matematika.

Memang benar, games itu sangat disukai sehingga dengan mudah anak-anak itu bisa menyerap materi ajar matematika yang disampaikannya. Iwan sebagai guru les privat sangat senang mengetahui muridnya semangat dan mampu menyerap materi yang diajarkannya. “Jadi guru itu ternyata enak,” kata putra Mahyuddin Sari (guru SMKN 2 Takengon) dan Asnah (guru SMAN 3 Takengon) itu.

Sekarangpun, saat siswa yang diajarkannya di SMAN 1 Takengon sudah kelihatan jenuh atau lelah, Iwan mengeluarkan sejumlah games matematika yang disebutnya sebagai sulap angka. Selesai permainan sulap ini, semangat belajar siswa muncul kembali dan mereka melanjutkan belajar matematika.

Iwan kemudian mempraktikkan salah satu sulap (games) matematika yang sering diberikan kepada siswanya. Diambilnya selembar kertas putih, dimintanya menuliskan lima buah angka. Penulis kemudian menulis angka 79368, kemudian dia mengatakan jumlahnya nanti menjadi 279366, sambil menuliskannya ke kertas putih itu.

Anak muda periang itu, meminta untuk dituliskan angka berikutnya dibawah angka 79368, lalu dia melanjutkan menuliskan angka lain dibawahnya. Kemudian penulis diberinya kesempatan ketiga menulis angka lain dibawah angka yang sudah ditulisnya, lalu disusul Iwan menulis angka lain lagi dibawah angka yang sudah ditulis oleh penulis. Setelah dijumlahkan dengan kalkulator, ternyata jumlahnya pas 279366, seperti yang ditulis Iwan sebelumnya.

Iwan menggunakan trik dan games matematika seperti itu supaya matematika tidak dianggap sebagai mata pelajaran yang sulit oleh para siswa. Hal yang sangat menyenangkan, kata Iwan, games itu sangat ditunggu-tunggu oleh siswa, sehingga mereka betah mengikuti pelajaran matematika sampai jam pelajaran berakhir. Dengan teknik mengajar model itu, lebih dari 20% siswa kelas IPS di SMAN 1 Takengon sudah memahami konsep matematika.

Disamping mengajar matematika, Iwan juga tercatat sebagai salah seorang blogger yang banyak menulis tentang matematika. Salah satu tulisannya yang banyak dibaca orang di sebuah media online berjudul “Menyenangkan Taklukkan Matematika.” Kini, Iwan sedang mengajak guru-guru disekolahnya untuk membuat blog pribadi sebagai wahana menulis bahan ajar agar mudah diunduh para siswa sekolah tersebut. “Blog pribadi itu dapat menjadi media diskusi antara guru dengan murid, termasuk tempat menuliskan PR dan soal harian,” ungkap pembimbing tim olimpiade matematika di sekolah itu.

*) Penulis tetap pada situs berita online Lintas Gayo

.

Comments

comments