by

Toleransi di Tengah Keragaman Bangsa

Oleh: Khairul Rijal*

MESKIPUN mayoritas penduduk Indonesia menganut agama Islam, namun ada beberapa agama lain yang juga dianut penduduk Indonesia, seperti agama Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu. Setiap agama tentu memiliki aturan masing-masing dalam beribadah dan  perbedaan ini bukanlah alasan untuk berpecah belah. Sebagai satu saudara kita harus menjaga kerukunan umat beragama agar negara ini tetap menjadi satu kesatuan yang utuh. Untuk menjaga kerukunan itulah diperlukan sikap toleransi sebagai sikap terbuka dan mau mengakui adanya berbagai macam perbedaan, baik dari sisi suku bangsa, warna kulit, bahasa, adat-istiadat, budaya, bahasa, serta agama. Perbedaan ini merupakan fitrah yang sudah menjadi ketetapan Tuhan.

Kehidupan yang penuh dengan toleransi ini telah di praktekkan sejak zaman Nabi Muhammad Saw. pada saat Beliau memimpin Madinah. Berbagai pemeluk agama seperti Islam, Yahudi dan Kristen dapat hidup berdampingan secara damai dan penuh kasih sayang. Bahkan kehidupan yang toleran tersebut didukung dengan suatu kesepakatan bersama yang tertuang dalam Piagam Madinah. Toleransi antarumat beragama harus tercermin pada tindakan-tindakan yang menunjukkan sikap saling menghargai, menghormati, menolong, dan mengasihi. Termasuk di dalamnya menghormati agama dan iman orang lain, menghormati ibadah yang dijalankan oleh orang lain, tidak merusak tempat ibadah, tidak menghina ajaran agama orang lain, serta memberi kesempatan kepada pemeluk agama lain untuk menjalankan ibadahnya dengan tenang.

Toleransi versus Intoleransi

Dalam konteks kehidupan Indonesia yang begitu majemuk mengedepankan sikap toleransi sangat penting dilakukan. Sebab, sikap ini merupakan modal utama untuk meraih kehidupan yang penuh kedamaian. Indonesia sejak dulu dikenal memiliki sikap toleransi yang kuat antar umat beragama, suku, dan budaya. Sayangnya, sikap toleransi itu sudah mulai memudar. Pudarnya sikap toleransi ini bisa dilihat dari semakin banyaknya masyarakat kita yang lebih mengedepankan sikap intoleransi atau kekerasan dalam mengatasi pelbagai masalah.

Fakta ini diperkuat dengan laporan yang dikeluarkan The Wahid Institute, sejak tahun 2008, 2009, dan 2010 menunjukkan bahwa sikap intoleransi dalam masyarakat menunjukkan grafik yang terus naik. Peristiwa kekerasan berbasis agama terus menunjukkan peningkatan. Bahkan, pikiran-pikiran intoleran juga semakin merembes ke dalam relung kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sedangkan menurut data Setara Institute di tahun 2011 ada 244 peristiwa pelanggaran kebebasan beragama yang mengandung 299 bentuk tindakan, yang menyebar di 17 wilayah pemantauan dan wilayah lain di luar wilayah pemantauan. Terdapat 5 propinsi dengan tingkat pelanggaran paling tinggi yaitu, Jawa Barat (57) peristiwa, Sulawesi Selatan (45), Jawa Timur (31) peristiwa, Sumatera Utara (24) peristiwa, dan Banten (12) peristiwa.  Dari data tersebut bisa dilihat bahwa kasus intoleransi masih mengkhawatirkan dan terus mengakar di tengah-tengah kehidupan masyarakat.

Teladan Toleransi

Di tengah maraknya aksi intoleransi di republik ini kita masih bisa menyaksikan sebuah daerah yang menjunjung tinggi sikap toleransi. Daerah itu bernama kampung sawah, yaitu daerah yang terletak di Kecamatan Jatisampurna, Bekasi. Masyarakat di sana hidup rukun dan damai tanpa ada konflik meskipun tempat ibadah mereka berdekatan. Dengan letak rumah ibadah yang saling berdekatan, tidak menjadikan warga Kampung Sawah saling terganggu, malah saling menghargai satu sama lain. Letak rumah ibadah di sana sangat berdekatan, kurang lebih 100 meter dari Gereja Servitius berdiri megah Masjid Fisabillah dan Gereja Protestan Pasundan yang biasa disebut sebagai segi tiga emas. Kerukunan yang dicontohkan masyarakat di Kampung Sawah seharusnya menjadi teladan bagi daerah lain untuk mengembangkan sikap toleransi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Selain Kampung Sawah, ada lagi daerah yang bisa dijadikan teladan dalam mengembangkan sikap toleransi. Desa itu bernama Banuroja, Kecamatan Randangan, Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo. Sebuah Desa yang penuh kerukunan, kedamaian, dan tidak pernah ada konflik. Meskipun penduduk di sana ada yang berasal dari etnis Bali, etnis Nusa Tenggara, etnis Gorontalo dan etnis Jawa, namun hingga kini belum ada pertikaian yang melibatkan keempat etnis tersebut. Di samping itu, di sana ada empat agama yang dianut penduduk Banuroja, yaitu Islam, Kristen, Hindu dan Budha. Dan sekali lagi saya katakan bahwa para pemeluk agama masing-masing tidak pernah terjadi konflik padahal tempat peribadatan mereka saling berdekatan.

Toleransi agama yang ada di Kampung Sawah dan Desa Banuroja merupakan suatu sikap saling pengertian dan menghargai tanpa adanya diskriminasi khususnya dalam masalah keyakinan. Toleransi umat beragama adalah hal yang sangat penting untuk mencapai sebuah kesejahteraan hidup di republik ini. Seperti yang kita ketahui bahwa Indonesia memiliki keragaman, tak hanya masalah adat istiadat atau budaya seni, tapi juga termasuk agama. Untuk menciptakan tatanan masyarakat yang damai dan tenteram diperlukan sebuah komitmen dan sikap toleransi agar perbedaan tidak menjadi penghalang bagi umat manusia dalam menjalankan misinya sebagai wakil Tuhan di muka bumi ini.

Pemahaman atas pentingnya toleransi mesti menjadi sebuah keniscyaan dalam rangka membangun masa depan yang lebih baik. Hanya dengan cita-cita itu, kehidapan ini akan lebih bermakna dan bermanfaat. Nilai-nilai agama pun akan terasa bermakna bilamana dapat mendorong toleransi. Sebaliknya, bilamana nilai-nilai tersebut hanya mendorong intoleransi, maka harus jujur dikatakan bahwa agama telah gagal membawa misinya untuk menciptakan kebersamaan, keharmonisan dan kerukunan di muka bumi. Padahal agama-agama telah meletakkan ajaran cinta kasih dan toleransi sebagai ajaran yang paling fundamental (Zuhairi Misrawi, 2007).

Sebagai bangsa yang terdiri dari beragam suku dan agama, dengan adanya sikap toleransi dan sikap menjaga hak dan kewajiban antar umat beragama diharapkan masalah-masalah yang berkaitan dengan kehidupan beragama tidak muncul kepermukaan apalagi sampai menelan korban jiwa. Dalam kehidupan masyarakat sikap toleransi ini harus tetap dibina, jangan sampai bangsa Indonesia terpecah antara satu sama lain. Kita harus mampu meneladi toleransi masyarakat Kampung Sawah dan Bonurejo agar tidak ada lagi kebencian yang bisa mengantarkan kita pada tindakan intoleransi yang pada gilirannya akan merusak tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam kehidupan yang plural dan multikultural seperti Indonesia sikap toleransi harus menjadi kunci utama untuk menciptakan kehidupan yang rukun dan damai.(pungonga@yahoo.com)

*Mahasiswa FAI Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

3,627 comments