by

MURI dan GAYO

Catatan Akhir Pekan a.ZaiZa

Para warga sedang menikmati kopi secara massal dalam pemecahan rekor MURI.(LG | Maharadi)
Para warga sedang menikmati kopi secara massal dalam pemecahan rekor MURI.(LG | Maharadi)

MUSEUM Rekor Dunia Indonesia (MURI)kembali mencatat sejarah akan adat dan budaya dari dataran tinggi Gayo. Pada akhir pekan lalu lalu, Lapangan Pacuan Kuda Sengeda menjadi saksi bisu akan torehan sejarah bahwa sebanyak 50 ribu plus satu anak cucu ada menikmati sajian khas kopi Gayo.

Pemecahan rekor MURI ini bertepatan dengan hari jadi Kabupaten Bener Meriah ke 9. Rekor tersebut memecahkan rekor MURI sebelumnya yang tercatat di Lampung dengan pada 9 Juli 2011 lalu dengan jumlah peserta yang minum kopi mencapai 24.664 orang.

Rekor tersebut diselenggarakan dalam rangka Lampung Fair 2011, Pemerintah Provinsi Lampung bekerjasama dengan PT. Grand Modern dan Kopi ABC menyelenggarakan kegiatan minum kopi peserta terbanyak, 24.664 peserta.

Rekor MURI yang berbau seni dan budaya Gayo juga sebelumnya sempat ditoreh, tarian Saman massal yang di ikuti 3.000 peserta yang diselenggarakan Kodam IM di Lapangan Blang Padang, Banda Aceh pada 2010. Saat itu Pangdam IM dijabat Mayjen TNI Adi Mulyono. Rekor ini memecahkan rekor sebelumnya yang di ikuti 1000 peserta di Jakarta.

Pemecahan rekor MURI itu juga menjadi salah satu acuan untuk selanjutnya UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) secara resmi mengakuinya sebagai warisan dunia bukan benda pada 24 November 2011.

Meskipun belakangan ada yang mengklaim bahwa tarian Saman itu merupakan tarian umum layaknya tarian di daerah Aceh, seperti Tari Likok Pulo (Saman kepulauan Aceh), Seudati (Saman pesisir daratan Utara-Timur Aceh), Rapai Pulot atau Rapai Geleng (Saman pesisir Barat Aceh). Kesemuanya itu di klaim adalah Tari Saman Aceh.

Sayangnya klaim itu muncul belakangan, setelah UNESCO secara resmi mengakuinya sebagai warisan dunia bukan benda. Padahal, sebelumnya tarian yang di klaim Saman itu tidak pernah dikatakan Saman, melainkan langsung nama tarian tersebut seperti Tari Likok Pulo  atau Rapai Geleng, tanpa embel-embel saman di depan atau di belakang nama tarian tersebut.

Dalam banyak literatur menyebutkan tari Saman di Aceh didirikan dan dikembangkan oleh Syekh Saman, seorang ulama yang berasal dari Gayo. Tari Saman adalah sebuah tarian suku Gayo (Gayo Lues) yang biasa ditampilkan untuk merayakan peristiwa-peristiwa penting dalam adat. Syair dalam tarian Saman mempergunakan bahasa Arab dan bahasa Gayo. Selain itu biasanya tarian ini juga ditampilkan untuk merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Sudahlah! Tak perlu kita persoalan klaim orang yang tak memahami apa itu tarian Saman dan bagaimana sejarah terbentuknya tarian Saman itu sendiri dataran tinggi Gayo Lues. Namun yang jelas, Saman adalah tarian khas Aceh yang berasal dari Gayo, khususnya Gayo Lues. Saman adalah budaya kita Urang Gayo, jika ada yang mengklaim anggab aja angin lalu. Ibarat kata pepatah, “Biarlah Anjing Menggonggong, kafilah tetap Berlalu”.

Satu yang terpenting, kita sebagai Urang Gayo harus bisa mempertahankan tradisi, adat dan budaya kita tetap eksis di negeri sendiri dan Berjaya serta memiliki nama di negeri orang. Bahwa Gayo itu ada Saman dan Saman itu adalah Gayo.

Para mahasiswa Gayo Lues sedang menarikan tarian Saman.(LG | a.ZaiZa)
Para mahasiswa Gayo Lues sedang menarikan tarian Saman.(LG | a.ZaiZa)

Setelah Saman, pada 13 Januari 2013 lalu, satu lagi ke khasan tanoh Gayo tercatat dalam MURI yakni minum kopi massal yang di ikuti 50.000 plus 1 orang. Bukan main-main, pemecahan rekor MURI minum kopi sebelumnya yang dicatat di Lampung ini, disaksikan langsung oleh Menteri Pembangunan daerah Tertinggal pada kabinet Indonesia Bersatu (KIB) jilid II.

Kopi bagi dataran tinggi Gayo bukanlah sesuatu yang baru. Sejak zaman penjajahan Kolonial Belanda dulu, masyarakat Gayo sudah mengenal kopi. Sahabat saya Win Rudi Bathin yang bagi saya dia merupakan salah satu pakar perkopian Aceh Tengah dalam tulisannya di Kompasiana, menyebutkan Wilayah Dataran Tinggi Gayo dimana kopi ini tumbuh tersembunyi di wilayah dereten pegunungan Bukit Barisan yang membentang Sumatera.

Wilayah Gayo berada di tengah Provinsi Aceh dengan ketinggian yang sangat ideal, yakni 1200 dpl serta dibagian Timur Kota Takengon, terbentang Danau Luttawar. Konon, Belanda membawa kopi arabika ke Takengen, dimulai pada tahun 1908. Penanaman pertama diduga di kawasan Utara Danau Luttawar Takengen, yakni Kampung Paya Tumpi Kecamatan Kebayakan Aceh Tengah.

Belanda kemudian menjadikan komoditi kopi sebagai tanaman eksport dengan tanaman lainnya, yakni getah pinus serta teh. Dengan bantuan investor Eropa, Belanda terus mengembangkan berbagai lokasi di Takengon untuk dijadikan perkebunan kopi.

Belanda menamai kopi sebagai “Tanaman Masa Depan” dan menyatakan masyarakat Gayo sangat cepat menerima masuknya komoditi baru seperti kopi. Kawasan perkebunan kopi ini kemudian menjadi perkampungan baru yang berkembang baik hingga saat ini.

Estimasi produksi kopi dari dua kabupaten Gayo, Takengen dan Redlong berjumlah 65.625 ton pertahun. Sehingga kawasan perkebunan kopi Gayo disebut sebagai lahan terluas untuk Kopi Arabika di Asia.

Tak salah jika memang MURI mencacat rekornya di daerah yang memang memiliki areal terluas untuk kopi arabika di Asia ini. Hanya saja, setelag rekor itu terpecahkan, apakah kita harus terlena dengan euphoria yang ada. Tentu jawabannya tidak. Namun kita sebagai urang Gayo harus terus bisa menjadikan komuditi kopi ini menjadi andalan hidup masyarakatnya.

Sebab, sejauh ini masyarakat petani kopi kita masihlah sebagai masyarakat miskin yang hidup serba kekurangan. Karenanya, rekor MURI hendaknya bukanlah sebatas pencitraan kedaerahan saja, melainkan harus bisa menjadi tonggak awal bagi pemerintah Bener Meriah dan Aceh Tengah untuk bisa mensejahterakan masyarakatnya.

Selain menjaga harga kopi tetap stabil dipasaran, dan menciptakan pabrik olahan kopi yang mampu menampung tenaga kerja yang banyak, salah satu cara lain dengan menjadikan lahan pertanian kopi warga sebagai kawasan agri wisata. Dimana, para pelancong dapat datang ke dataran tinggi Gayo untuk belajar, wisata dan keperluan lainnya yang bermanfaat.

Ini juga tentunya bisa bermanfaat bagi petani kopi secara financial, dimana kala kopi lagi tak musim, namun masyarakat ada penghasilan dengan kunjungan wisatawan yang datang ke dataran tinggi Gayo.

Potensi alam yang ada harus bisa dimaksimalkan, bukan saja danau lut Tawar atau kawasan wisata alam Pantan Terong yang bisa “dijual” namun banyak hal yang bisa dipromosikan ke dunia luar, bahwa Aceh Tengah dan Bener Meriah memang kawasan potensi wisata yang “wajib” di kunjungi.

Sekali lagi, sudah saatnya pemerintah daerah Aceh Tengah dan Bener Meriah bahkan Gayo Lues, membuka mata dan buka telinga, bahwa daerah Gayo ini memang sangat-sangat kaya akan potensi alam, tinggal bagaimana memaksimalkannya menjadi sumber daya yang mumpuni, hingga bisa membawa kesejahteraan bagi masyarakatnya.

Akhirnya, saya ucapkan selamat buat Bener Meriah yang telah menorah rekor bersejarah dan untuk selanjutnya bisa berbuat lebih menyentuh warga, bukan saja pencitraan daerah. Semoga.(aman.zaiza[at]yahoo.com)

Comments

comments