by

IPPEMATA DAN HPBM Tolak Jamhuri Sebagai Ketua KNA

Ir. Ruslan Abdul Gani, Ketua Umum KNA Domisioner sedang membacakan LPJ dihadapan sejumlah peserta musyawarah. (Foto:Ihfa)
Ir. Ruslan Abdul Gani, Ketua Umum KNA Domisioner sedang membacakan LPJ dihadapan sejumlah peserta musyawarah. (Foto:Ihfa)

Banda Aceh |Lintas Gayo – Terpilihnya Jamhuri sebagai Ketua Keluarga Besar Negeri Antara (KNA) pada Musyawarah Besar (Mubes)KNA Banda Aceh, oleh sejumlah tokoh Gayo yang dilaksanakan di anjungan Aceh Tengah di Taman Sri Ratu Safiatuddin lamprit, Kota Banda Aceh, Minggu (3/11/2013), mendapat penolakan dari sejumlah kalangan mahasiswa.

Seorang mahasiswa Gayo di Banda Aceh, Ahlaz zikri ketika dimintai tanggapannya terhadap hasil musyawarah tertutup tersebut dengan tegas menolak kepemimpinan Jamhuri. Sebagai mahasiswa dirinya merasa dilecehkan, karena mahasiswa tidak dilibatkan dalam pemilihan.

“Saya tidak mengakui KNA dibawah Bapak jamhuri, kami merasa dilecehkan ketika ketua presidium menyampaikan mahasiswa tidak mempunyai hak suara,” ujarnya sembari menambahkan bagaimana mungkin pihaknya mengakui Ketua yang tidak mewakili mahasiswa di KNA.

Ahlaz juga mengkritik Mubes tersebut, karena pada pelaksanaannya iterkesan ditutup-tutupi, “kami baru mengetahui mubes ini kemarin hari Sabtu 2 november 2013,” sebutnya.

Selanjutnya, Ahlaz zikri yang menjabat ketua umum Ikatan Pelajar Pemuda Mahasiswa Aceh Tengah (IPPEMATA) ini, akan membawa masalah tersebut dalam rapat organisasi yang ia pimpin.

“Pemilihan ini tidak demokratis, Kami akan membawa masalah ini kedalam Mubes IPPEMATA, saya akan sampaikan kepada seluruh mahasiswa Gayo asal Aceh Tengah bahwasanya mahasiswa tidak dilibatkan dalam pemilihan ketua KNA,” ucapnya tegas.

Senada dengan Ahlaz Zikri, Mukhlis AB selaku Ketua Umum HPBM (Himpunan Pelajar, Pemuda dan Mahasiswa Bener Meriah) Banda Aceh, menyoroti hal yang sama terkait proses Mubes KNA. “Kalau mahasiswa sudah dilecehkan, kami juga punya cara, salah satunya mempertimbangkan kembali, apakah organisasi kami bernaung dibawah KNA atau tidak,” pungkasnya.

Berikutnya protes datang dari Nur Hijrah Nanda, dewan pembina HPBM Banda Aceh yang hadir dalam acara musawarah besar tersebut,“Saya sangat kecewa terhadap proses dan sistem pemilihan yang seperti ini. Kami hanya hadir sebagai maf’ul bih (pelengkap derita), tanpa hak pilih, padahal pada pemilihan bapak Rasyidin dan Pak Ruslan Abdul Gani, kami punya hak pilih,” jelasnya dengan nada kecewa. (Ihfa/Tn)

Comments

comments

News