by

Pendidikan Yang Membebaskan Di Sekolah Miskin

Oleh: Syahruddin Zen*

Foto :Syahruddin Zen
Syahruddin Zen

Kita tidak bisa menutup mata terhadap kenyataan di negeri ini bahwa masih banyak sekolah di daerah yang boleh dikatakan sebagai sekolah miskin. Batapa tidak, ada sekolah yang dindingnya terbuat dari papan kayu yang sudah jebol di sana sini, sampai pada kursi dan meja pun tampak penuh dengan paku agar tidak semakin reyot. Bila ditanyakan kepada kepala sekolah mengapa keadaan sekolah memprihatinkan seperti itu? Jawaban yang dipastikan muncul adalah tiadanya biaya untuk memperbaiki.

Keadaan sekolah yang jauh dari memadai sebagaimana di atas akhirnya membuat proses belajar mengajarpun berjalan tidak maksimal.  Para murid dan guru tidak sedikit yang akhirnya menjalani proses belajar mengajar sebagai proses rutinitas tanpa dinamika. Para peserta didik itu datang, belajar dengan segala keterbatasan, dan ketika matahari condong ke Barat, mereka kemudian pulang untuk membantu orang tuanya yang menjadi petani, bahkan mungkin nelayan. Proses pendidikan yang berjalan demikian, biasanya tak lebih dari sekedar bagaimana  membebaskan anak didik dari yang sebelumnya tidak bisa membaca dan menulis menjadi lancar melakukannya, dari yang sebelumnya tidak bisa berhitung menjadi bisa.

Keadaan sekolah sebagaimana d atas jauh berbeda dengan keadaan sekolah-sekolah didaerah-daerah yang sudah maju atau bahkan di kota. Lantasnya bagus dan bersih, tembok di cat dengan warna warni yang membuat semangat, serta bermacam peralatan untuk proses belajarpun tersedia dengan lengkap. Sekolah yang seperti ini membuat para guru dan murid betah ketika menjalani proses belajar mengajar. Tidak hanya betah, merekapun bersemangagt untuk mempelajari ilmu pengetahuan yang sudah tentu berguna bagi kehidupan dimaa yang akan datang.

Di dalam sekolah yang mencukupi segala kebutuhannya dalam belajar, dinilai tdak hanya membebaskan anak didik dari ketidak mampuan dalam membaca, menulis dan berhitung saja. Tetapi lebih jauh pemahaman kesadaran dari hal hal yang dipelajarinya. Hal inilah yang membuat sebagian guru dan pengamat pendidikan  di Indonesia menilai tidak adil jika pemerintah memaksakan kehendak dengan menerapkan standar Ujian Nasional. Belum lagi silang pendapat mengenai keberhasilan anak didik dalam belajar hanya dinilai dari lulusannya  beberapa mata pelajaran saja,. Menurut mereka, pemerintah boleh-boleh saja  membuat standar kelulusan dengan Ujian Nasional bila sudah memenuhi kewajibannya dalam membenahi sarana dan prasarana sekolah yang jauh dari memadai.

Dengan mengangkat masalah ini, bukan berarti bahwa endidikan yang membebaskan hanya bisa dilakukan di sekolah-sekolah yang bagus dan lengkap segala sarana dan prasarananya. Sejatinya pendidikan itu mampu membebaskan mereka dari keterbelakangan intelektual yang dalam prosesnya mereka harus merasakan situasi pembelajaran yang nyaman, menyenangkan dengan sarana dan prasarana yang memadai. Hal ini memang perlu diperhatikan dan dipenuhi. Pemerintah juga berkewajiban melakukan pemerataan dan perbaikan sekolah-sekolah yang jauh dari memadai. Namun kita juga tidak dapat menutup mata bahwa sekolah-sekolah yang jauh dari memadai terdapat seorang guru yang mempunyai semangat yang tinggi dalam menjalankan tugas yang mulia.

Ya, menjadi seorang guru pada hakikatnya menjalankan tugas yang sungguh mulia. Seeorang guru rela dengan senang hati dan bersemangat mendampingi anak didiknya untuk memahami ilmu pengetahuan yang bermanfaat dalam kehidupan. Seorang guru yang demikian tidak bergantung pada sarana dan prasarana disekolah dalam menjalankan tugasnya. Bila ada, akan dimanfaatkan secara maksimal akan tatapi bila tidak ada, ia pun memaksimalkan berbagai metode agar anak didiknya tetap bersemangat dalam belajar.

Bila kita membaca novel yang berjudul Laskar Pelangi yang ditulis oleh Andrea Hirata. Novel yang berdasarkan pernyataan penulis diangkat dari kisah nyata. Betapa kita melihat semangat seorang guru yang bernama Bu Muslimah yang luar biasa. Betapa Bu Muslimah tetap membangun semangat dirinya dan murid-muridnya meski kondisi sekolah tidak jauh berbeda dengan kandang ayam. Beliau ternyata berhasil membebaskan anak didiknya dari ketertinggalan yang mempunyai semangat yang tinggi melalui proses belajar mengajbar yang dilakukannya.

Hal ini patut menjadi semangat bagi para guru lainnya dalam mengemban tugas mulia. Sarana prasarana boleh saja jauh dari memadai, tetapi semangat untuk membangun pendidikan yang membebaskan sesungguhnyatak mengenal apakah sekolah yang bersangkutan terpenuhi atau tidak sarana prasarananya. Hal yang paling penting dalam mengembangkan  pendidikan yang membebaskan adalah semangat untuk membangun kesadaran dalam diri anak didik agar senantiasa memperbaiki diri dan memahami ilmu pengetahuan.

Demikian juga dengan Freire, tokoh yang mengembangkan pendidikan yang membebaskan. Freire menerapkan gagasan pendidikan yang membebaskan pada masyarakat yang kondisi ekonomi dan politik berada pada wilayah yang jauh dari memadai. Para anak manusia yang setiap hari dikenalkan penuh semangat dengan dunia pendidikan yang membebaskan oleh Freire adalah mereka yang hidup dalam leingkungan pekerja kasar dan hidup dalam kemiskinan. Bahkan, Recife, daerah tempat tinggal Freire mengembangkan gagasan pendidikannya, merupakan daeranh yang paling terbelakang dan paling miskin di Brazil bagian timur laut.

Apabila penulis menekankan bahwa meskipun tanpa sarana prasarana yang memadai, pendidikan yang membebaskan bagi anak didik tetap bisa dilangsungkan, bukan berari bahwa sarana dan prasaran penunjang tidak penting. Sungguh, hal ini juga penting. Akan tetapi, bukan daktor utama apakah pendidikan membebaskan dapat dengan sukses dilakukan oleh seorang guru bersama anak didiknya . hal yang terpenting adalah semangat seorang guru yang kemudiann ditularkan kepada anak didiknya untuk berproses bersama-sama dalam pendidikan yang membebaskan.

*Penulis adalah Mahasiswa Magister Kebijakan dan Pengembangan Pendidikan Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang

Comments

comments

News