by

Mursyid Sesalkan Cara Pemkab Aceh Tengah Tangani Bencana

Burni Bius | Lintas Gayo : Ada kejadian yang aneh saat ini jika dilihat dari kacamata keadilan, masyarakat di Kampung Bius dan Rebe Gedung Kecamatan Silih yang terkena banjir bandang hingga siang pukul 12:00 belum juga ada turun bantuan alat berat untuk menyingkirkan sisa-sisa bebatuan, tanah dan kayu yang di bawa banjir tersebut.

Tgk.Ir.Mursyid anggota DPD-RI meninjau lokasi Banjir Bandang di Kampung Burni Bius, Kacamatan Silih Nara, Kabupaten Aceh Tengah. Tampak disamping Mursyid kelihatan satu unit rumah warga rubuh disapu banjir bandang yang terjadi pada Kamis (28/4) sore sekira pukul 20:15 WIB.(Foto : Aman Buge)

Sementara itu, dua titik longsor di Kampung Atu Gajah Kecamatan Bebesen alat berat stand by disana dan kelihatan tidak banyak bekerja, bahkan petugas dari Dinas PU dan PDAM sibuk memperbaiki paralon yang bocor. Karena paralon tersebut adalah air yang di aliri dari Atu Gajah ke Kampung Blang Gele.

Karena melihat kejadian yang aneh dan tidak melihat skala prioritas serta diduga ada kepentingan, Ir. Mursyid anggota DPD-RI, Kamis (28/4) yang saat itu terjun ke lokasi angkat bicara.” Padahal jika dilihat longsor dan banjir cukup parah, di Kecamatan Silih Nara. Sangat disayangkan, pemerintah daerah tidak melihat skala prioritas bencana yang mana duluan yang harus dibantu ,”sebut Tgk. Ir. Musryid Anggota DPD-RI yang mengunjungi lokasi bencana.

Anggota DPD-RI ini berkomentar demikian lebih dikarenakan ketika beliau melakukan kunjungan ke beberapa titik lokasi bencana, menurut penilainnya bencana longsor dan banjir bandang yang lebih parah terjadi di Kampung Burni Bius dan Rebe Gedung, Kecamatan Silih Nara. Tetapi Pemkab Aceh Tengah menurunkan alat berat di Kampung Atu Gajah, Kecamatan Bebesen.

“Padahal di Kampung Atu Gajah hanya ada satu atau dua titik jalan yang longsor, serta pipa PDAM yang mengaliri Kampung Blang Gele putus. Sedangkan di lokasi Kampung Burni Bius dan Rebe Gedung lebih parah namun sampai sekarang tidak ada diturunkan alat berat,”ungkap Mursyid sembari mengatakan apakah pemerintah tidak tau mana yang harus di dahulukan.

Bukan hanya Mursyid yang mengeluhkan lambannya alat berat turun ke Kecamatan Silih Nara, masyarakat setempat juga sempat nyeletuk dan mengatakan Pemkab Aceh Tengah tidak adil dalam membantu masyarakatnya.”Pemerintah harus melihat dari kacamata keadilan, bukan hanya sekedar member sembako lalu pergi begitu saja merasa sudah membantu. Alat berat kami juga butuh, kalau kerja gotong royong kami tidak kuat menyingkirkan tanah yang begitu banyak menumpuk,”sebut salah satu tokoh masyarakat Burni Bius.

Hujan deras yang menguyur sebagian besar wilayah Kabupaten Aceh Tengah, sepanjang Rabu (27/4) sore, telah memicu terjadinya musibah banjir bandang dan tanah longsor di sejumlah titik di daerah itu. Banjir bandang yang terjadi, melanda di dua titik lokasi yakni di Kampung Uning Penggantungen, Kecamatan Bies 4 rumah rusak parah dan 16 Kepala Keluarga (KK) mengungsi.

Sedangkan di Kampung Burni Bius, Kecamatan Silih Nara Kabupaten yang sama, satu unit rumah rusak parah dan dua rumah rusak ringan, serta 26 Kepala Keluarg (KK) mengungsi dan 65 KK minta di relokasi dari daerah banjir bandang tersebut, karena masyarakat khawatir akan terjadi banjir yang lebih parah. Sedangkan di Kampung Atu Gajah, Kecamatan Bebesen, seorang bocah sempat terseret air bah namun sempat ditolong oleh masyarakat sehingga hanya menyebabkan luka ringan akibat terseret air.

Kapolsek Pegasing Ipda. Supriadi mengatakan, Kamis (28/4), musibah yang menimpa Kampung Uning Pegantungen tersebut tepatnya terjadi sebelum shalat maghrib dan mengagetkan masyarakat karena meluapnya air kiriman dari Kampung Atu Gajah, Kecamatan Bebesen, yang membanjiri kampung tersebut.”Bantuan sementara dari pemerintah daerah berupa makanan dan ikan untuk membantu masyarakat korban sudah diberikan,”sebut Kapolsek Pegasing.

Sedangkan Banjir Bandang yang menerjang Kampung Burni Bius, Kecamatan Silih Nara, Kabupaten Aceh Tengah, satu jembatan penghubung antar kampung rusak, satu rumah rusak parah, dua rusak ringan dan 26 KK mengungsi, serta 65 KK masyarakat kampung tersebut minta di relokasi. “Kejadian banjir bandang ini sudah tiga kali terjadi, pada tahun 1965, 2006 dan 2011. Kami sudah berulangkali meminta agar arul gajah tempat melintas air ini di buat bendungan namun hingga saat ini belum ada respon dari masyarakat,”ungkap Kepala Kampung Burni Bius, Yasin di lokasi kejadian.

Sedangkan di Kampung Rebe Gedung yang merupakan kampung yang berbatasan langsung dengan Kampung Burni Bius, terdapat 20 puluh titik longsor,  di perkebunan kopi masyarakat serta bahkan sebagian menutup akses jalan ke areal perkebunan masyarakat.

Selain banjir bandang, pada waktu yang bersamaan, juga terjadi musibah tanah longsor hingga menyebabkan ruas jalan alternatif Takengon-Meulaboh, tepatnya di Kampung Genting Gerbang, Kecamatan Silih Nara, putus total karena tertimbun tanah longsor. Selain itu, tanah longsor juga terjadi di Kampung Atu Gajah, Kecamatan Bebesen, Kabupaten Aceh Tengah, hingga menutup ruas jalan Takengon menuju Arul Kumer Kecamatan Silih Nara. (Aman Buge)

Comments

comments