by

Falsafah Pendidikan: Minang Kabau, Gayo dan Budaya Rantau

Oleh: Kosasih Abubakar*

 

Kosasih AbubakarMasalah pendidikan memang tidak akan pernah habis untuk dibahas, terutama terkait bagaimana memberikan sebuah pendidikan yang sesuai dengan karakter sebuah daerah, karena bila diketemukan rumusannya maka ada terjadi sebuah percepatan dalam peningkatan kualitas mutu pendidikan.

Sebenarnya tulisan saya kali ini, merupakan hasil sedikit ulasan kembali tulisan saya yang berjudul “Kurikulum 2013 Berdasar Persepsi dari Mohamad Engku Syafe’i Dengan Nature Curriculum-nya” dimuat dalam sebuah jurnal di Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan dan tanggapan setelah membaca tulisan dari Saudara Darmawan Sari dengan judul “”I Serahen Ku Tengku Guru”, Konsep Pendidikan Orang Gayo” di Lintas Gayo pada tanggal 29 April 2014.

Jujur saja, inilah pertama kali saya membaca ada sebuah konsep pendidikan orang Gayo, terima kasih atas tulisan ini telah memberikan saya sedikit gambaran konsep pendidikan orang Gayo.

Catatan kali ini, saya akan memulai dengan sedikit mengulas hasil penelitian saya tentang konsep pendidikan Moh. Engku Syafei dengan Nature Curriculum 1926 dibandingkan dengan Kurikulum 2013 yang saat ini sedang dicoba diimplementasikan oleh Pemerintah untuk mempersiapkan generasi emas Indonesia tahun 2045 sebagai langkah persiapan menuju Indonesia 7 besar ekonomi dunia (McKinsey Global Institute, 2012).

 

Siapakah Engku Mohamad Syafei ?

Engku Mohamad Syafe’i  merupakan tokoh dari Minang Kabau, sebuah daerah yang amat terkenal dengan konsep pendidikan “Surau”, menggunakan Surau sebagai pusat pendidikan, konsep pergaulan yang “egaliter” dinaungi dengan “adat” dan “Islam”sebagai payungnya.

Konsep pendidikan di Minang Kabau terbukti telah berhasil melahirkan tokoh-tokoh besar dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia, salah satunya Bung Hatta, Syarifuddin, Tan Malaka, Agus Salim dan banyak lagi yang perannya dalam melahirkan NKRI tidak sedikit.

Sosok Engku Mohamad Syafei pada zamannya sekelas dengan Ki Hajar Dewantoro (Indonesia menggunakan filsafah pendidikannya saat ini, “Tut Wuri Handayani”), dua tokoh pendidikan di Indonesia yang berusaha memperjuangkan kemerdekaan melalui pendidikan. Kekaliberan tokoh ini terlihat dari pembagian tugas mereka pada tahun 1935 telah terjadi pertemuan 2 (dua) tokoh pendidikan di Indonesia antara Ki Hajar Dewantoro dengan Engku Mohamad Syafei untuk membahas konsep pendidikan di Indonesia dalam sebuah konferensi di Taman Siswa, Yogjakarta.

Sebagai bentuk integritas antara 2 (dua) tokoh pendidikan ini, maka dalam pertemuan tersebut telah terucap suatu pembagian pekerjaan antara Ki Hajar Dewantoro dengan Engku Mohamad Syafei untuk memajukan pendidikan di Indonesia. Taman Siswa melakukan “Reddings Arbeid”, Kami berusaha menarik sebanyak mungkin ke pihak kita supaya pihak kebangsaan”. Sedangkan INS melaksanakan “Zendings Arbeid”, “Tugas Saudara Sjafei di sebelah untuk menarik pemuda mencari suatu bentuk pendidikan yang selaras dengan bangsa kita kemudian hari“.

 

 

Pemikiran Engku Mohamad Syafe’i

Terdapat 3 (tiga) falsafah pendidikan yang diuraikan oleh Engku Mohamad Syafe’i sebagai dasar pemikiran pendidikannya, yaitu “Alam takambang menjadi Guru”, “Jangan minta buah mangga kepada pohon rambutan”, dan “Jadilah engkau jadi engkau”. Menurut saya semua pemikiran ini berasal dari Kitab Suci Al’quranul Karim, karena memang budaya minang tidak bisa lepas dari Islam (M. Syafei, 1968, Pemimpin “Ruang Pendidik” INS Kayu Tanam ,Dasar-dasar Pendidikan).

Alam takambang menjadi guru, alam Minang Kabau hampir sama dengan alam Gayo, akan tetapi keindahan dan kesuburan alam di Minang Kabau tidak menyebabkan mereka menjadi malas, karena adanya budaya “laki-laki jika sudah dewasa harus merantau”, bahkan sejak kecil laki-laki tidak boleh tidur di rumah, mereka tidur di surau untuk mengaji dan belajar silat. Sehingga budaya “Alam Terkembang Menjadi Guru” menjadi sebuah pegangan mereka selama hidupnya, sebagai bentuk adaptasi terhadap lingkungan.

Dari sisi ilmu pendidikan, falsafah ini menjadikan mereka manusia yang mampu melakukan pengamatan-pengataman, melakukan eksperimen, dan menghasilkan sesuatu yang berguna bagi kehidupan, minimal untuk bertahan hidup.

Jangan meminta buah manga kepada pohon rambutan, falsafah ini merupakan salah satu bentuk penghormatan kepada setiap bakat dari seorang manusia, tidak memaksakan kehendak.Sebagai contoh tidak ada lagi seorang ayah yang memaksakan anaknya menjadi politisi bila memang anaknya tidak berminat atau bakat kesana.Disinilah terjadinya salah satu bentuk egaliter, karena saling menghormati didasarkan individu, menghargai sebuah perbedaan.

Falsafah ini juga mengindikasikan bahwa sesungguhnya manusia itu pada dasarnya mempunyai bakat masing-masing diberikan oleh Tuhan. Pendidikan yang baik tentunya mampu mengindikasikan pembelajaran yang terbaik sesuai dengan bakat yang sudah diberikan oleh Tuhan kepada masing-masing orang.

Jadilah engkau jadi engkau”, hal yang sama dengan falsafah sebelumnya, menegaskan agar pendidikan itu sifatnya mengasah akal budi manusia sesuai dengan potensinya, bukan merubahnya menjadi bentuk manusia lain.

Konsep pendidikan ini juga menjadikan murid sebagai pusat pembelajaran. Akibatnya metode ini membutuhkan guru-guru yang mumpuni, karena bukan Guru yang menjadi pusat pembelajaran.Sehingga guru dituntut sejak awal untuk dapat mengetahui minat dan bakat anak didiknya untuk kemudian diarahkan sehingga menjadi ahli dalam bidangnya.

Bisa disimpulkan konsep pendidikan yang ingin diangkat oleh Engku Mohamad Syafei adalah menjadikan seorang manusia pemikir yang mampu mengamati alam sekitarnya (bumi) demi kemashalatan bagi manusia dan alam sekitar, mengoptimalkan bakat seseorang yang diberikan Tuhan kepada individu manusia dan menjadikan ilmu pengetahuan sebagai alat untu menambah keimanan kepada Tuhan.

 

Konsep Pendidikan di Gayo

Saya yakin, konsep pendidikan di Gayo ada hilang atau tidak tercatat saat ini.Tentunya bila kita berkaca kepada cerita tentang Kerajaan Linge yang memperlihatkan begitu hebatnya nenek muyang kita dahulu.Seharusnya konsep ini bisa kita ketemukan kembali dalam pantun-pantun atau kata-kata mutiara urang Gayo yang saat ini masih ada. Saya yakin itu, mudah-mudahan akan ada orang-orang yang bisa memformulasikannya seperti halnya Engku Mohamad Syafei dengan adat Minang Kabaunya.

I serahen ku Tengku Guru”, disambung dengan “Asal nti mate, ike dere terserah asal pane”, kalimat ini tentunya menjadikan Guru sebagai pusat pembelajaran. Tentunya konsep pendidikan seperti ini membutuhkan Guru yang betul-betul tangguh dalam memberikan pembelajaran kepada muridnya. Sehingga berimplikasi bahwa Guru zaman dahulu di Gayo amat dihormati bahkan karena keilmuannya, tidak hanya ilmu agama juga ilmu alam.

Uwah Jalu”, mengindikasikan bahwa orang Gayo ketika mengijinkan anaknya untuk merantau, mereka pastinya telah mempersiapkan segala sesuatu untuk anaknya tersebut, luar dan dalam. Karena kata “Jalu” mengindikasikan sudah cukup bawaannya ke rantau dan siap berperang sekalipun.

Boleh kiranya saya menambahkan dengan “Rantau”, sebagai bentuk melihat hikmah yang terpetik dari sejarah Linge, bahwa pendidikan sejak zaman Kerajaan Linge adalah teramat penting, begitu juga budaya rantau untuk menimba ilmu pengetahuan.

Sejarah Linge memperlihatkan bagaimana Raja Linge mempersiapkan anak-anaknya untuk keluar dari Gayo untuk menuntut ilmu.Kebanyakan dari mereka di katakan menetap di luar Gayo, dikarena kepintaran mereka, sehingga dibutuhkan tenaga mereka disana.

 

Keefektifan Budaya Rantau

Dibatasi dengan keterbatasan konsep pendidikan dari Gayo, maka perkenankan saya membandingkan konsep pendidikan di Gayo dan Minang Kabau dengan efektifitas dari budaya Rantau.

Sebenarnya ada sebuah persamaan konsep pendidikan di Minang Kabau dan di Gayo, yaitu “Uwah Jalu”.Uwah Jalu ini memperlihatkan bahwa budaya merantau memang sudah ada di negeri Gayo sejak dahulu, ketika merantau mereka harus dipersiapkan luar dan dalam untuk bisa menempuh hidupnya.

Bila melihat sejarah Linge, begitu hebat dan besar, anak-anak Raja Linge bertebaran di muka bumi ini.Bisa saja ini mengindikasikan bahwa merantau untuk menuntut ilmu merupakan sebuah kewajiban, Uwah Jalu mereka berhasil.

Namun, ketika di Minang Kabau, budaya itu menjadikan keharusan dengan laki-laki sejak dini dan menjelang dewasa tidur di surau untuk belajar silat dan mengaji, untuk kemudian ketika dewasa wajib merantau menuntut ilmu dan mencari uang.Sedangkan di Gayo budaya seperti ini belum tergambarkan dengan jelas. Di Gayo tidak diketemukan atau tercatat dengan baik budaya bagaimana  untuk “mempersiapkanUwah Jalu” tersebut. Tidak seperti di Minang Kabau, mereka menyebutnya dengan “Budaya Surau” sebagai kawah candradimuka anak-anak mereka, menjadikan surau sebagai pusat pendidikan anak-anaknya.

Ada yang menarik, sejarah linge juga memperlihatkan sebuah cerita tentang Bener Meriah, seorang anak Raja yang ingin pulang ke Gayo dari rantau tapi terbunuh karena ketakutan-ketakutan merebut kerajaan mereka.Cerita ini bisa merupakan sebuah budaya bagaimana sulitnya orang Gayo yang merantau untuk kembali dari rantauannya tuk membangun negerinya karena syak wasangka atau adat lainnya.

Sedangkan di Minang Kabau, dengan sistem matrilineal, terdapat sebuah penekanan agar lelaki Minang mengawini perempuan Minang.Ini terlihat dari laki-laki Minang yang tidak menikah dengan orang Minang tidak mendapat gelar dan harta pusaka, tidak diakui keturunannya (seperti protes Hamka dalam novelnya berjudul “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk”).Sedangkan lelaki luar yang menikahi perempuan Minang lebih terhormat dengan mendapatkan gelar dan diakui keturunannya untuk mengelola harta pusakanya.

Budaya rantau ini tentunya berpengaruh besar terhadap perkembangan pendidikan,karena sekembali dari rantau para perantau tersebut akan membawa sesuatu yang baru bagi penduduk sekitar, pemikiran baru. Akan tetapi tentunya kefektifan budaya rantau ini tentunya dengan kembalinya mereka yang menuntut ilmu dari negeri orang untuk kembali ke daerahnya masing-masing dan mencoba mengamalkan ilmunya tersebut di daerah asalnya.

Di Minang Kabau ketika mereka melepas laki-laki untuk merantau, mereka juga berupaya mendapatkan kembali anak mereka yang merantau dan menangkap orang dari negeri lain untuk memikirkan kampungnya dalam adat perkawinan.

Sedangkan di Gayo ketika orang rantau pulang, mudah-mudahan saya salah, mereka akan mendapatkan cobaan-cobaan atau syakwasangka yang sepertinya juga menjadi budaya (seperti halnya cerita Bener Meriah). Tentunya budaya ini harus segera dihilangkan, karena pada dasarnya bukan ini yang sesuai dengan Al qur’an dan Al hadist sebagai acuan dari adat Gayo.

 

Seperti apa ke depan ?

Di era sekarang ini, budaya rantau memang penting, tapi dengan era informasi dan teknologi yang maju sedemikian pesat, sarana transportasi yang semakin mudah. Selain itu, budaya rantau saat ini tentunya sudah berubah, sudah tidak zamannya lagi kita pergi ke suatu tempat untuk mengetahui sesuatu, akan tetapi saat ini sudah ada internet yang menjadi gudang data kita untuk mengetahui segala sesuatu. Hanya saja bagaimana kemampuan kita untuk bisa menggunakan gudang-gudang data tersebut untuk memperoleh konsep dan gagasan terbaik.

Walaupun demikian, merantau dalam rangka untuk menuntut pendidikan yang terbaik dan ingin kita kuasai untuk diterapka di Gayo tetap diperlukan, karena tentunya tidak semuanya bisa dilakukan di internet, tetap diperlukan pengalaman-pengalaman khusus untuk menambah pengetahuan.

Merumuskan konsep pendidikan yang baik dan sesuai dengan karakter orang Gayo ada baiknya didahului dengan melihat “teteren-teteren” terdahulu, sejarah Gayo terdahulu, dan biografi tokoh-tokoh gayo yang sukses dan berhasil untuk diambil hikmahnya.

Setelah kita berhasil mengambil hikmahnya, barulah kemudian dilakukan perkawinan dengan konsep pendidikan modern saat ini.Kemudian melakukan sebuah analisa terkait dengan kebutuhan pendidikan yang sesuai dengan potensi yang ada di Gayo. Sehingga arah pendidikan kita akan benar kiranya sesuai dengan harapan kita, sesuai kompetensi kita, sesuai dengan karakter kita.

Namun, paling penting untuk diingat adalah bahwa pendidikan itu sifatnya investasi, artinya butuh waktu untuk hasilnya karena tidak bersifat instan, ada proses disitu. Pendidikan juga membutuhkan pengorbanan, no pain no gain, butuh perjuangan untuk mendapatkannya.

Terakhir dari Penulis, agar menjadikan ilmu pengetahuan sebagai jalan untuk lebih meningkatkan keimanan kepada Tuhan dan menjadikan ilmu pengetahuan melalui pengamatan-pengamatan dari “CiptaanNya” untuk menghasilkan sesuatu yang berguna dalam kehidupan dan kemajuan orang Gayosesuai dengan potensi alam dan karakter manusianya.

*Ph.D Student, 
Management Information System, Hefei University of Technology, Anhui, China; 
Education Research and Evaluation, State University of Jakarta, Indonesia
Staff Researcher, Center for Policy Research, MoEC

Comments

comments

News