by

Rahmat Meninggal, Diduga Dianaya Ibu Tiri

kekerasan anak
Ilustrasi

 

Takengen | Lintasgayo – Siapa yang bisa lupa dengan kasus Angeline, bocah 8 tahun yang tewas dengan kondisi yang mengenaskan di Bali. Peristiwa serupa Angeline, terjadi pada seorang anak yang bernama Rahmat, 3 tahun, di Kampung Simpang Lancang, Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh.

 

Kasus dugaan penganiayaan ibu tiri kepada anaknya ini diungkapkan oleh Sri Wahyuni dan Rusma, anggota Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Bener Meriah.

 

Korban sempat dibawa ketukang urut di satu desa, dan diperkirakan meninggal pada Minggu, 28 Juli, sekitar pukul 16.00 Wib. Jenazah Rahmat kemudian dikebumikan pada malam harinya.

 

Berdasarkan informasi yang dikumpulkan P2TP2A Bener Meriah, Rahmat dan abangnya, RD, tinggal bersama Ayah Kandung, RMD (30) serta ibu tiri mereka, MD (27). Kemudian hasil penelusuran anggota lembaga yang dibentuk oleh pemerintah Kabupaten Bener Meriah ini, sehari sebelum Rahmat menghembuskan nafas terakhir, pasangan suami istri RMD dan MD diketahui bertengkar hebat.

 

Ayah korban sempat membawa kedua anak lakinya keluar dari rumah. Esoknya, mereka bertiga kembali lagi kerumah itu, dan RMD yang juga ayah korban melanjutkan pekerjaan sebagai pengemudi truk, dengan meninggalkan kedua anaknya dengan ibu tirinya.

“Ada yang mendengar Rahmat menangis kencang, seperti trauma ditinggal ayahnya saat itu,” tambah Sri Wahyuni yang turut terlibat dalam mengadvokasi kasus tersebut.

 

Aktivis perempuan ini melanjutkan, Rahmat sempat kejang sebelum meningga dunia, dengan kondisi perut dan bagian belakang badan mengalami memar. “Tidak hanya itu, sejumlah masyarakat melihat kepala bagian kanan, dan bahu bagian kanan terkilir,” kata Sri Wahyuni.

 

Diterangkan, ihwal munculnya kecurigaan masyarakat sekitar terhadap keganjilan kematian Rahmat, semakin bertambah dengan upaya keluarga yang ingin menguburkan jenazah korban tanpa harus diketahui musababnya, padahal jika dilihat dari kondisi yang ada, jelas kematian korban sangat tidak wajar.

 

Pendamping P2TP2A, Sri Wahyuni maupun Rusma mengatakan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan pihak polsek Kecamatan Pintu Rime Gayo maupun Mapolres setempat, namun hingga kini belum ada tindak lanjut. (Iwan Bahagia/ KBRN RRI)

 

Comments

comments