by

Joel Tampeng, Musisi Pendukung Konser Kantata Barock

PrtSc : http://www.facebook.com/kantatabarock2011

Sebuah pesan singkat masuk ke handphone selulerku dikirim Kamis (29/12/2011) pukul 16.56 Wib dengan pengirim Telkomsel. Isinya mengingatkanku akan konser Kantata Barock yang menampilkan Iwan Fals, Setiawan Djody dan Sawong Jabo di stadion Gelora Bung Karno (GBK) Jum’at (30/11/2011) pukul 19.00 Wib.

Syukurlah pesan ini mengingatkanku, badan dan pikiran yang agak lelah membuatku lupa akan rencana menggali informasi seorang personil pendukung konser musisi-musisi kawakan Indonesia tersebut, Joel Tampeng, seorang putra Gayo yang dilahir di Takengon Kabupaten Aceh Tengah atas buah kasih dari (alm) Ismail Tampeng dan Sri Bulkisi.

Sebelumnya saya tidak begitu tertarik untuk menggali informasi lebih dalam tentang Joel Tampeng dan juga tak berhasrat mengajak dia jadi teman di facebook. Bukan karena apa-apa, saya merasa tidak dikenali lagi olehnya dan kalaupun berteman, kami tak akan sempat untuk saling berkomunikasi via dunia maya. Dia adalah adik kelas saya saat di Madrasah di Takengon, MIN 1 Takengon, MTsN 1 Takengon dan juga di MAN Takengon.

Kaget dan sangat bangga saat mengetahui sosok yang bernama asli Juliandi ini dikabarkan ikut mengiringi konser Kantata Barock diakhir tahun 2011. Saya kemudian mencoba mengirim pesan via facebook dan mengajaknya berteman. Dan teryata direspon lebih cepat dari yang duga. Kami kemudian terlibat percakapan di inbox yang isinya lebih ke wawancara seputar keterlibatannya dalam konser terbesar di akhir tahun ini.

Bergabung di Konser Kantata Barock

Mendapat tawaran konser  bersama Kantata Barock, Joel mengaku sangat senang dan bahagia karena tantangannya sangat besar dari dalam show sisi dan konsep penyampaian pesan-pesan moral Kantata dengan takaran besar. Artinya, menurut Joel setiap musisinya harus punya andil besar dalam mewarnai aransemen musik tanpa menyandarkan kepada nama besar Jabo-Iwan-Djody. “Tidak berusaha nebeng lah kira-kira,” ujarnya tertawa.

Mengenai kisah bisa bergabung dengan Kantata Barock, diceritakan sebelumnya dia bertemu Jabo ketika Anane (band etnik progresif pimpinan Joel) sedang aktif-aktifnya, pemain cello sering terlibat dlm proses-proses Jabo. “Mas Jabo memilih mengajak aku dalam sebuah proyek tour, salah satu alasan mengajak karena background etnikku, maksudnya Gayo sangat mewarnai gaya permainan gitarku,” ungkap Joel yang mengaku belum pernah pulang ke Gayo selama 2 atau 3 tahun ini.

Nah akhirnya sampai sekarang bersama Mas Jabo terus, lanjutnya dan ketika rekaman atau show dengan Jabo, langit, Sirkus Barock, mas Iwan suka datang atau nonton dan jamming di panggung. Begitu juga ketika bertemu dan workshop dengan Toto Tewel dan lain-lain. “Terima kasih buat mas Jabo sebagai guru musik keduaku setelah Almarhum AR Moese,” kata Joel.

Musisi Gayo “Be Yourself” !

PrtSc: http://www.facebook.com/kantatabarock2011

Kalimat motivasi untuk para musisi Gayo Joel menekankan jadilah diri sendiri. “Be yourself, itulah modal musisi menurutku karena aku membuktikannya. Musisi Gayo sewajarnya kelihatan Gayonya donk” kata pengantin baru ini sambil tertawa.

Dimisalkan Joel, musik rock kan sudah standar barat, ketika disusupkan etnik Gayo akan menjadi unik lho. Sebagai bagian dari grup Tutu dan Anane aku sangat bahagia karena sudah  membuat warna baru ddalam kancah musik Gayo. “Semoga bisa jadi inspirasi”, harap Joel.

Dari amatannya, perkembangan musik di Aceh khususnya di Gayo sudah berkembang lebih jauh dalam arti sudah banyak yang berani bereksplorasi dan bereksperimen. Dan ini sangat  bagus karena musik bisa membantu kecerdasan otak menghadapi masa depan dengan optimis dan penuh kreatifitas.

Hanya saja perlu perhatian lebih terhadap penggunaan idiom atau melodi Gayo yang dinilainya banyak salah kaprah. Misalnya nada-nada di instrumen Teganing yang ketika dimainkan  atau ditirukan, kok malah jadi nada ‘pelog’ Jawa, contoh nya 3 4 3 4 3 4 3 1.

“Ini keliru habis-habisan namanya. Ini menjadi penting karena menyangkut identitas Gayo dalam segi budaya musik tradisi. Silahkan mengolah musik Gayo dengan cara apapun tapi tidak mengaburkan atau malah merusak pakem, pattern dan pola kegayoan itu sendiri,” ujar Joel bernada miris.

Setelah Saman, Musik Gayo Juga Bisa Mendunia

Lebih jauh dijelaskan, dalam dunia musik apresiasi di nasional atau internasional musik yang berakar ke tradisi sangat diminati karena kekhasannya tidak ada yang serupa di belahan dunia manapun. “Sudah saatnya musik Gayo naik ke permukaan dengan indah mensejajarkan diri dengan Saman, angklung dan lain-lain,” cetusnya.

Joel mengingatkan, musik daerah menjadi buruk dan tidak diminati karena kehilangan akar tradisinya. Karenanya dibutuhkan pemahaman yang dalam terlebih dahulu dalam mengeksplorasi unsur-unsur tradisi, filosofinya, dan bila perlu tau sejarahnya.

Ditanya apakah sang guru keduanya Sawung Jabo kenal Gayo, Joel menyatakan dia sangat mengenal Gayo meskipun rencana ke Gayo sudah gagal 2 kali. “Tapi saudara tua kami WS Rendra sudah pernah ke Gayo,” ujar Joel.

Sawong Jabo adalah adik kelas AR Moese ketika kuliah di AMY meskipun tidak pernah ketemu karena angkatan kelasnya cukup jauh. “Mereka mengenal Gayo juga dari To’et. Bisa dikatakan di lingkungan seniman nasional, banyak yang sudah tau Gayo dari budayanya,” pungkas suami dari seorang putri asal kota Batu Malang.

Istri Joel adalah asisten di bengkel teater Rendra sekaligus sebagai anak angkat WS Rendra  beberapa tahun sebelum Rendra wafat. (Khalisuddin)

.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.