by

Wartawan Gayo Dicecar Kritikan

Foto Bersama

Takengen | Info Lintas Gayo : Sejumlah tokoh dari elemen pemerintah, politik, hukum, sipil dan mahasiswa dari Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah menyampaikan masukan-masukan kepada para wartawan di dua kabupaten tersebut dalam pertemuan yang digelar memeriahkan Hari Pers Nasional (HPN) tahun 2011 di Takengen, hari ini, Sabtu (19/2).

Banner

Dari unsur pemerintahan di Aceh Tengah, hadir Muhammad Syukri yang mengingatkan agar para kuli tinta dalam memberitakan tidak dari sumber sepihak dan tanpa konfirmasi. “Wartawan harus faham kode etik jurnalistik dan menjalankan salah satu fungsinya sebagai kontrol sosial,” kata Muhammad Syukri yang menjabat sebagai asisten I di jajaran Pemkab Aceh Tengah.

Ditegaskan, pers adalah rumah akal tepian ilmu karenanya wartawan harus banyak belajar dan memiliki wawasan disegala bidang seperti bidang ekonomi, politik, hukum dan ilmu-ilmu pengetahuan lainnya.

“Selain untuk mencari informasi, pers adalah tempat orang mencari ilmu, juga sebagai tempat mengadu, jadi hendaknya para wartawan senantiasa selalu belajar,” harap Muhammad Syukri.

Sementara pendapat Jaringan Anti Korupsi Gayo (Jang-Ko), Idrus Saputra mengingatkan agar para wartawan di Aceh Tengah dan Bener Meriah untuk mengangkat isu-isu dari grass root seperti yang terjadi di pesisir Aceh. “Ada baiknya bercontoh ke para wartawan dipesisir yang banyak memberitakan suara-suara dari masyarakat level bawah,” saran Idrus.

Berbeda dengan Muhammad Syukri dan Idrus, Koordinator Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Banda Aceh Pos Takengen, Moch Ainul Yaqin  mengingatkan agar para wartawan berhati-hati dalam memberitakan peristiwa yang berbau Sara. “Indonesia umumnya termasuk Aceh sangat rentan terjadinya konflik yang dipicu suku agama dan ras. Kita berharap tidak terjadi konflik horizontal akibat pemberitaan di media,” kata sosok yang dikenal dekat dengan para wartawan dan aktivis ini.

Moch. Ainul Yaqin juga mengaku prihatin dengan sistem peradilan di dataran tinggi Gayo dan perlu penekanan yang lebih kuat lagi dari insan pers, terutama dalam perkara korupsi. “Sangat mengherankan, dalam tahun 2010 hanya satu kasus korupsi yang ditangani peradilan. Itupun sudah berjalan hingga setahun belum putus-putus. Harusnya 3 – 6 bulan sudah bisa diselesaikan,” kata Moch Ainul Yaqin.

Pernyataan agak menohok dinyatakan oleh Aramiko Aritonang, aktivis mahasiswa dari Universitas Gajah Putih (UGP) Takengen. “Para wartawan harus lebih berpihak dan proaktif terhadap kepentingan publik, jangan angkat telor dalam pemberitaan,” ujar Aramiko singkat.

Pandangan-pandangan senada juga disampaikan sejumlah aktivis LSM lainnya seperti Iwan Bahagia dari LSM Mantap dan sejumlah undangan lainnya dalam acara yang betemakan “Hari Pers Nasional Ciptakan Pers Profesional dan Bermartabat di Dataran Tinggi Gayo” tersebut.

Sejumlah wartawan sempat gerah saat dicecar dengan sejumlah masukan dan kritikan dari undangan yang hadir, namun pemandu acara, Khairul Akhyar mengingatkan acara tersebut memang diadakan untuk menerima masukan termasuk kritikan dari para undangan yang hadir. “Hari ini kita tidak punya hak jawab,” kata Khairul Akhyar disambut dengan tawa seluruh peserta yang hadir.

Acara yang digagas Perkumpulan Wartawan Bener Meriah (Pewaber) dan dipandu Khairul Akhyar  dan berjalan dengan penuh keakraban tersebut berakhir dengan perkenalan nama dan media dari para wartawan yang hadir dan membubarkan diri setelah makan bersama.(A Zaghlul & Wyra).

Comments

comments