by

Kualitas Jalan Kunci Kesejahteraan Warga Gayo

Banda Aceh | Info Lintas Gayo : Acara KEBERNI GAYO kembali on air di Aceh TV Banda Aceh, kali ini mengambil tema “Masyarakat Sejahtera” ditayangkan Jum’at, 18 Pebruari 2011 malam pukul 20.00 s/d 21.00. Tema ini terinspirasi dari tema ulang tahun Kota Takengon ke 434 yaitu “Kebersamaan, Persatuan dan Kesatuan Guna Mewujudkan Masyarakat Aceh Tengah yang Sejahtera”.

Dialog menjadi sangat menarik dan aspiratif dengan bahasan yang berbeda dalam melihat kesejahteraan  masyarakat dari sudut pandang transportasi. Dalam acara ini menghadirkan nara sumber Dr. Ir. Sofyan M. Saleh, M.Sc.Eng. salah seorang Dosen Fakultas Teknik dan menjabat sebagai Ketua Bidang Manajemen Rekayasa Transportasi. PS Magister Teknik  Sipil, PPS Unsyiah.

Banner

Pertanyaan mendasar yang diajukan kepada nara sumber adalah dengan memperhatikan keadaan masyarakat Gayo pada saat ini dari sudut pandang transportasi sudahkah sejahtera dan adakah harapan tercapainya kesejahteraan dalam waktu yang tidak begitu lama ?

Kalau kita lihat dari sudut pandang transportasi bahwa sebenarnya jalan di daerah Gayo sudah ada dari dulu hanya saja kwalitasnya masih memprihatinkan, keadaan ini apakah disebabkan kualitas ketika jalan dibuat ataukah ketika jalan itu digunakan tidak sesuai dengan standar atau ukuran kenderaan yang melintas dijalan tersebut.

Akibat yang dimunculkan dari ketidak bagusan jalan adalah banyaknya cost yang harus dikeluarkan. Berdasarkan hasil penelitian mobil yang mempunyai kecepatan rata-rata 60 sampai dengan 80 Km perjam itu lebih hemat dari pada mobil yang punya kecepatan yang tidak menentu. Juga dari waktu yang digunakan, sebagai contoh dari Bireun ke Takengon dengan jarak tempuh 100 Km yang seharusnya dapat ditempuh selama 1,5 sampai dengan 2 jam tapi karena kondisi jalan kita maka harus menempuhnya selama 3 jam. Seharusnya sisa waktu 30 menit sampai 1 jam dapat kita gunakan untuk pekerjaan yang lain dan dapat menghasilkan secara ekonomi tapi habis dengan sia-sia belum lagi lelahnya pengguna jalan, karena itu kita harus ingat juga falsafah “waktu adalah pedang, The time is money, waktu kalau tidak digunakan manusia akan menjadi rugi”

Seorang petani yang berangkat pagi ke kebun mengambil satu atau dua tandan pisang seharusnya jam 10 telah berada di pasar untuk menjual pisang dan dapat membawa uang ke rumah, dan berangkat lagi ke kebun untuk mencari rizki yang lain. Tapi karena jalan tidak bagus seorang petani harus membawa pisang sore hari kerumah dan baru bisa menjualnya esok hari, berapa seharusnya keuntungan yang ia dapat ?

Sebagai perbandingan kita coba angkat pada tahun 1988 (nara sumber) pergi ke Beutong, buah durian sangat banyak dan pada saat itu belum ada jalan sehingga masyarakat tidak bisa menjual, sehingga durian yang ada hanya dibagi-bagi berapa kita mau. Kemudian pada tahun 1994 (nara sumber) berangkat lagi ke Beutong, jalan sudah ada harga durian pada saat itu sudah mencapai Rp. 10.000,- per buah karena durian sudah dapat dipasarkan. Kalau kita hitung tingkat kesejahteraan masyarakat dari satu buah durian adalah mencapai Rp. 2000,- pertahun.

Aman Aini, pemirsa yang selalu aktif mengikuti acara KEBERNI GAYO melalui jalur interaktif (0651) 40171, mengatakan orang Gayo dengan kesuburan alam yang ada tidak mungkin hidup miskin, namun masalah jalan seperti yang dibahas malam ini tidak pernah dibicarakan oleh Pemerintah Kabupaten. Seperti pembagian pelaksanaan jalan, kenapa pengerjaan jalan tidak pernah selesai “masalah jalan Bireun – Takengon – Gayo Lues dari dulu hanya seperti jalan tikus”. Karena itu Pemerintah Kabupaten harus merubah pola bagaimana supaya transportasi menjadi sarana pensejahteraan masyarakat.

Selanjutnya Abang Sofyan M. Saleh mengatakan bahwa sebenarnya jalan itu ada tiga : Jalan Negara (pusat), jalan Provinsi dan jalan kabupaten. Dan untuk membuat, merawat jalan ini menjadi tugas dan tanggung jawab masing-masing, tetapi juga Pemerintah Kabupaten punya hak lapor bila jalan Negara atau provinsi yang ada diwilayahnya rusak dan dalam aturan ada perwakilan, artinya tidak harus melapor ke Menteri PU yang ada di Pusat. Dan dananya selalu dianggarkan, tapi kita tidak tahu kenapa jalan kita tidak ada perawatan dan ketika datang hujan air mengalir bukan di parit tetapi di badan jalan.

Penyebutan daerah terisolir, kita pahami bahwa daerah tersebut tidak memiliki akses  baik informasi ataupun transportasi sehingga apa yang dibutuhkan oleh masyarakat seperti ekonomi, pendidikan, kesehatan tidak akan didapat secara baik, sehingga akhirnya juga masyarakat yang sejahtera masih jauh dari harapan.

Program Pemerintah sejak masa Gubernur Ibrahim Hasan dengan istilah pembangunan jalan jaring laba-laba, masa Syamsuddin Mahmud dengan16 ruas jalan tembus dan masa Abdullah Puteh dengan Ladia Galaska, sebenar bertujuan untuk membuka akses wilayah tengah dan pedalaman Aceh dari keterisoliran dan dengan harapan dapat mensejahterakan masyarakat. Pada masa itu saya (nara sumber) ikut meneliti kelayakan jalan pembangunan jalan tersebut, tapi karena beberapa alasan tentang lingkungan sehingga sampai sekarang pembangunan ini belum seluruhnya terlaksana dan sebenarnya secara tehnis pembangunan jalan itu merupakan keharusan.

Di akhir dialog nara sumber berbicara tentang Sumber Daya Alam (SDA) Gayo yang luar biasa sebagai rahmat dari Tuhan memerlukan pengelolaan  professional, karena itu kepada generasi muda mari kita bersekolah menuntut ilmu sehingga satu waktu yang tidak begitu lama tidak ada lagi orang yang mengelola tanah Gayo tidak dengan ilmu.

“I Takengen deledi arul, si kite bayangen kin ton muripni lipe, serule, pokol, rangut galang, berkeng. Ku burren pora ara tuis, kendiringni rak ara batang rembele, gempos dan gele sig ere penah mubunge tapi muah. Arini karap ke urang Gayo meh besekulah arulla nguk kin kulem, jadi gere dalih bededikne kite bekerambah ku lut tawar”

Akhere “SELAMAT ULANG TAHUN KOTA TAKENGON, TANOH GAYO NEGERI ANTARA, WARISEN NI MUYANG DATU

(Drs. Jamhuri, MA)

Comments

comments