by

2013, Saatnya Pelayanan Prima!

Catatan Akhir Pekan a.ZaiZa

TANPA terasa, sudah sepekan tahun 2013 ini kita lalui. Minggu pertama diawal tahun ini jika dilirik tentu banyak hal-hal penting yang terjadi di daerah ini, namun banyak pula hal yang tak seharusnya penting diurusi, namun di urusi juga.

Mulai dari urusan “ngangkang style” yang menjadi genre baru dari aliran L-Pop, yang seakan mengalahkan aliran K-Pop yang booming di tahun 2012 dengan “Gangnam Style” yang dinyanyikan rapper Korea Selatan, Park Jae Sang, hingga bencana alam banjir bandang yang menguras air mata dalam pintalan duka saudara kita di Aceh Besar, Pidie Jaya dan Bireuen.

Dinamika kehidupan dalam tataran kemasyarakat, sosial, pemerintahan dan lainnya terus berdenyut. Ada yang menjadikannya tonggak awal untuk mengisi tahun hijiriah ini sebagai awal target, namun tak sedikit pula pekan pertama ini lewat begitu saja, tanpa ada sasaran yang bisa dijadikan target mengisi 2013.

Dari cacatan Lintas Gayo, dari sekian banyak informasi yang tersaji kepada pembaca, ada dua hal penting yang perlu dicermati dalam langkah awal mengisi 2013 ini. Yakni, kembali diberlakukannya 6 hari kerja di jajaran Pemerintahan Kabupaten Aceh Tengah dan amanat Menteri Agama Suryadhama Ali pada Hari Amal Bakti (HAB) agar jajaran Kementerian Agama (Kemenag) meningkatkan integritas kerja.  

Seakan sudah menjadi rahasia umum di republik ini, ganti penguasa akan berganti pula kebijakan, meski kebijakan penguasa sebelumnya bisa dikatakan baik dan layak untuk dilanjutkan untuk masa pemimpin baru.

Namun di Aceh Tengah bukanlah ganti kebijakan, namun re-kebijakan, karena sebelum Penjabat (Pj) Bupati Ir. Mohd Tanwier menerapkan 5 hari kerja, mengingat beliau yang kerab bolak-balik Takengon-Banda Aceh pada akhir pecan, Bupati Nasaruddin telah pernah menerapkan kebijakan 6 hari kerja ini.

Informasinya, kembalinya kebijakan lama yang memang telah diterapkan Pemerintah Aceh Tengah masa Bupati Ir Nasaruddin memimpin lima tahun lalu. Penetapan enam hari kerja ini kabarnya akan mulai berlaku Senin (7/1/2012) ini.

Tapi yang perlu diketahui bersama terutama jajaran Pemkab Aceh Tengah, bukan waktu kerja yang diharapkan oleh masyarakat. Namun masyarakat sangat mengharapkan agar pemerintahan Nasaruddin dan Khairul Asmara ini bisa bekerja cepat dan tepat dalam mengisi pembangunan sesuai dengan yang diharapkan masyarakat.

Pemerintah yang dalam hal ini Pegawai Negeri Sipil (PNS), harus mampu bekerja maksimal dan prima, sebagai pelayan masyarakat dalam berbagai hal.  Sehingga rasa “hambar” yang dirasakan masyarakat dengan tidak adanya bupati defenitif bisa menjadi cita rasa layaknya santapan lezat yang bisa dinikmati masyarakat, bukan pejabat saja.

Intinya, PNS itu pelayan masyarakat, bukan minta dilayani. PNS bukan montir yang menjadikan oli sebagai pelumas untuk pelicin, agar semua urusan masyarakat bisa selesai. Pemerintah bukan juga tunanetra yang tak mampu melihat penderitaan rakyatnya, bukan juga tunarungu yang tak mampu mendengar jeritan keselihan masyarakatnya untuk bisa hidup berkecukupan, tak perlu sampai kaya raya.

Harapan besar ini memang tercurah sangat besar dipundak Nasaruddin yang melanjutkan priode keduanya sebagai kepala pemerintahan di Aceh Tengah. Menang tak salah bila Ria Devitariska, seorang wartawati Lintas Gayo spesialis penulis feature menyatakan, Warga Aceh Tengah sangat berahapan yang begitu berlimpah ruah dan semoga tidak meruah-ruah, serta begitu besar, tapi begitu sederhana. Semoga di periode kedua ini ada beberapa harapan yang dapat terealisasi.

Sebagai acuan, layaknya pernyataan Meneg Suryadharma Ali pada HAB tahun ini untuk menjaga profesionalitas dan integritas itu, Kementerian Agama RI mengambil langkah stategis sejak perekrutan calon pegawai melalui sistem yang transparan dan memenuhi standar manajemen mutu ISO sampai pada pengembangan jenjang karir yang memenuhi unsur keadilan dan menghargai prestasi kerja perorangan.

“Saya berharap seluruh aparatur Kementerian Agama memperbarui paradigma, yaitu bekerja secara dinamis dan proaktif melakukan sinergi dengan unit dan lembaga lain, baik secara internal maupun eksternal, guna memenuhi tuntutan dinamika kementerian dan dinamika masyarakat”, harap Menteri sebagai dilansir Lintas Gayo.

Dalam kaitan ini, Surya mengingatkan jajaran Kemenag bahwa tolok-ukur keberhasilan program Kementerian Agama tidak seluruhnya dapat dituangkan dalam grafik dan angka-angka yang bersifat kuantitatif, tetapi banyak pula yang bersifat kualitatif.

Amanat ini dibacakan oleh Bupati, Nasaruddin pada peringatan HAB di tingkat Kabupaten Aceh Tengah. Sunggu dalam makna dari amanat tersebut, namun apa bisa terealisasi, hanya waktu yang akan menjawabnya.

Harapan Menteri Suryadharma Ali ini, bila ditelaah, bukan saja cocok untuk Kemenag, namun juga bisa dijadikan tonggal awal bagi Pemkab Aceh Tengah dalam mengisi tahun 2013 ini, menjadi bagian strategis membangun pemerintahan dan masyarakat seutuhnya.

Itu semua bisa dilakukan, bila Pemkab dalam menjalankan roda pemerintahannya berpegang pada pola pelayanan prima. Masyarakat adalah raja yang harus dilayani. Karenanya, tahun 2013 ini, saatnya menerapkan layanan prima. Bisakah? Masyarakat menantinya!***

Comments

comments